MNC Sekuritas Nilai Strategi Jual Bijih Nikel Penyelamat Kinerja INCO

bisnis.com
14 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) membukukan laba bersih US$76,1 juta atau setara Rp1,27 triliun pada 2025. Capaian ini naik 32% dari dengan tahun sebelumnya di tengah tantangan tekanan harga nikel global.

Analis Riset MNC Sekuritas Raka Junico menilai bahwa kinerja emiten tambang nikel pelat merah ini berada di atas ekspektasi. Menurutnya, pertumbuhan laba bersih yang mencapai double digittersebut merupakan hasil dari strategi operasional yang solid dan pengendalian biaya secara efektif.

"INCO sukses mengimbangi penurunan harga nikel dunia dengan menjual bijih nikel mentah senilai US$102 juta. Strategi ini terbukti efektif menjaga pendapatan tetap tumbuh," ujar Raka dalam risetnya, Selasa (17/3/2026).

Berdasarkan laporan kinerja, INCO memperluas portofolio bisnisnya melalui penjualan bijih nikel saprolit dari blok Pomalaa dan Bahodopi yang mencapai 2,31 juta wet metric tons (wmt) sepanjang 2025. Inisiatif tersebut menjadi sumber pendapatan baru perseroan selain nikel dalam matte.

Vale Indonesia Tbk. - TradingView

Meski harga realisasi rata-rata nikel matte turun 7% menjadi US$12.157 per ton, pendapatan INCO tetap naik 4% menjadi US$990,2 juta karena didorong kenaikan volume pengiriman dan tingkat payability lebih baik sejak Juli 2025.

Dari sisi pengeluaran, INCO mencatatkan biaya kas penjualan (cash cost) sebesar US$9.339 per ton, level terendah dalam empat tahun terakhir. 

Baca Juga

  • Paket E-Commerce Tak Kunjung Tiba Jelang Lebaran, idEA Ungkap Penyebabnya
  • Kata Apindo Soal Rencana WFH untuk Hemat BBM
  • Right Issue TOBA, Persetujuan RUPS Dirancang April 2026

“Meskipun ada perbaikan fasilitas pabrik pada Furnace 3, perusahaan tetap mampu menjaga efisiensi biaya operasionalnya dengan baik,” ucap Raka.

Memasuki tahun 2026, MNC Sekuritas melihat prospek INCO akan semakin optimis. Perusahaan diprediksi akan memaksimalkan kuota penjualan bijih nikel dan berpotensi diuntungkan oleh pemulihan harga jual rata-rata nikel dunia.

Selain itu, INCO tengah mengakselerasi proyek strategis di Pomalaa dan Bahodopi untuk menggandakan kapasitas produksi dengan target jangka panjang pada 2029. Belanja modal tercatat melonjak sebesar 46% menjadi US$485,9 juta untuk mendukung proyek hilirisasi tersebut.

Per 31 Desember 2025, INCO memiliki saldo kas sebesar US$376,3 juta, yang dinilai cukup solid untuk mendukung kelanjutan proyek HPAL Pomalaa yang saat ini telah mencapai 50% tahap konstruksi.

Di sisi lain, manajemen INCO memastikan akan mengajukan revisi kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun buku 2026.

Langkah itu menyusul keputusan pemerintah yang memberikan persetujuan produksi bijih nikel hanya 30% dari angka yang direncanakan perseroan. 

Direktur dan Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer (CSCAO) Vale Indonesia, Budiawansyah, menjelaskan revisi RKAB bertujuan memenuhi komitmen perseroan kepada pemegang saham serta proyek strategis hilirisasi.

“Dengan alokasi 30% saat ini, itu tidak cukup untuk menopang kegiatan bisnis dalam jangka waktu satu tahun. Ada komitmen yang memang harus dilakukan seperti kepada shareholder dan juga komitmen proyek hilirisasi,” ujar Budiawansyah dalam media briefing di Jakarta, dikutip Senin (7/3/2026).

Sebagai informasi, INCO saat ini tengah memacu pembangunan dua smelter baru, yakni pabrik High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, serta proyek di Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah.

Khusus untuk proyek HPAL Pomalaa, perseroan memproyeksikan pabrik siap beroperasi pada Agustus mendatang. Kondisi ini menuntut kesiapan pasokan bijih nikel setidaknya tiga bulan sebelum operasional dimulai.

“Kalau kita hitung Agustus siap produksi, jadi sekitar 2-3 bulan sebelumnya pasokan bijih untuk mendukung itu juga harus tersedia,” tambahnya.

Budiawansyah menyebut pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta DPR RI terkait rencana revisi ini. Menurutnya, pemerintah memberikan sinyal positif mengingat adanya mekanisme evaluasi RKAB secara berkala setiap kuartal.

Pemerintah dinilai akan memberikan kuota produksi berdasarkan kepentingan nasional dan optimalisasi produksi bagi perusahaan yang benar-benar melakukan kegiatan penambangan secara aktif.

 

--

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mudik Lebaran 2026, Menteri PU Pastikan Jalur Lembah Anai-Sitinjau Lauik Sumbar Siap Dilalui Nonstop
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
H-1 Nyepi, Antrean Kendaraan ke Pelabuhan Gilimanuk Capai 20 KM Pagi Ini
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Kemacetan Lintas Timur Jambi-Palembang Diperparah Truk Barang
• 20 jam lalujpnn.com
thumb
Arsenal Hancurkan Leverkusen 2-0 dan Lolos Perempat Final Liga Champions
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kapolri: Angka Kecelakaan Lalin Turun 40,91 Persen di Hari ke-6 Operasi Ketupat 2026
• 4 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.