AS-Israel Kompak "Gebuki" Iran, Teheran Ternyata Simpan Kejutan

cnbcindonesia.com
16 jam lalu
Cover Berita
Foto: Bendera Iran berkibar saat api dan asap dari serangan Israel terhadap depot minyak Sharan membubung, menyusul serangan Israel terhadap Iran, di Teheran, Iran, 15 Juni 2025. (via REUTERS/Majid Asgaripour)
Daftar Isi
  • Intensitas Serangan Turun Drastis
  • Perang Jangka Panjang
  • Drone Murah, Dampak Besar
  • Dampak Ekonomi Global

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran disebut telah melumpuhkan sebagian besar kemampuan militer Teheran, khususnya dalam peluncuran rudal dan drone. Namun di balik klaim keberhasilan tersebut, para ahli menilai Iran masih memiliki kapasitas cukup untuk terus menimbulkan kerusakan serius di kawasan.

Pemerintah AS melalui Gedung Putih menyatakan kemampuan militer Iran telah terpukul telak.

"Kemampuan rudal balistik Iran telah hancur secara fungsional. Angkatan laut mereka dinilai tidak efektif dalam pertempuran. Dominasi udara yang lengkap dan total atas Iran," kata Gedung Putih, dilansir Al Jazeera.


Pernyataan itu juga menegaskan operasi militer yang diberi nama "Operation Epic Fury" memberikan hasil besar sejak perang yang diluncurkan bersama Israel pada 28 Februari. Sehari kemudian, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa pasukan AS telah menghancurkan kapasitas produksi drone Iran.

Namun, situasi di lapangan menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.

Pada Senin sore, Qatar mengumumkan berhasil mencegat rudal terbaru yang ditembakkan Iran. Negara-negara Teluk lain seperti Saudi Arabia, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain juga mengeluarkan peringatan.

Sebuah rudal bahkan dilaporkan jatuh di mobil di Abu Dhabi dan menewaskan satu orang, menandakan bahwa ancaman belum sepenuhnya hilang.

Intensitas Serangan Turun Drastis

Meski demikian, jumlah serangan balasan Iran memang menurun tajam sejak awal konflik.

Dalam 24 jam pertama perang, Iran meluncurkan 167 rudal dan 541 drone ke wilayah UEA. Namun, berdasarkan data yang dihimpun Al Jazeera dari Kementerian Pertahanan UEA, pada hari ke-15 konflik jumlah itu turun drastis menjadi hanya empat rudal dan enam drone.

Serangan terhadap Israel juga mengalami penurunan, dari hampir 100 proyektil dalam dua hari pertama menjadi hanya satu digit dalam beberapa hari terakhir, menurut Institute for National Security Studies.

Pentagon juga menyebut peluncuran rudal turun hingga 90% dari hari pertama, sementara serangan drone berkurang 86%.

Iran diketahui memiliki salah satu persediaan rudal balistik terbesar di kawasan. Pada 2022, Kantor Direktur Intelijen Nasional AS menilai Iran memiliki inventaris terbesar di Timur Tengah.

Meski tidak ada angka resmi, laporan intelijen Israel memperkirakan Iran memiliki sekitar 3.000 rudal, yang turun menjadi 2.500 setelah perang 12 hari pada Juni lalu.

Strategi utama AS-Israel adalah menghancurkan peluncur rudal Iran. Setiap peluncuran menghasilkan jejak yang dapat dideteksi satelit dan radar, sehingga memudahkan pelacakan.

Menurut pejabat militer Israel yang dikutip Institute for the Study of War, sekitar 290 peluncur telah dinonaktifkan dari total 410 hingga 440 unit. Namun, luasnya wilayah Iran membuat penghancuran total menjadi sulit.

Profesor di National Defense University, David Des Roches, mengatakan keterbatasan intelijen di lapangan menjadi kendala utama.

"Tidak mudah untuk mengidentifikasi peluncurnya. Yang kita lihat adalah rudal yang ditempatkan di tempat-tempat tersembunyi atau tempat-tempat yang tidak terkait dengan militer sebelum perang, ketika pengawasan masih minim," katanya.

Menurutnya, penurunan serangan terjadi karena Iran kehilangan kemampuan untuk meluncurkan serangan dalam jumlah besar sekaligus.

Sebagai gantinya, Iran kini menembakkan satu atau dua rudal ke target sipil dan komersial, terutama di negara Teluk, meskipun Teheran menegaskan hanya menargetkan kepentingan AS.

"Secara militer, [tindakan Iran] tidak signifikan. Ini yang disebut tembakan provokatif untuk melemahkan sistem peringatan di negara-negara tetangga dan menakut-nakuti orang," kata Des Roches.

Perang Jangka Panjang

Para ahli menilai Iran kini mengubah strategi menjadi perang jangka panjang. Peneliti di German Institute for International and Security Affairs, Hamidreza Azizi, mengatakan Iran berusaha membuat lawan kehabisan kemampuan pertahanan lebih dulu.

"Mungkin ada ketertarikan untuk menjadikan ini perang gesekan," ujarnya.

Iran juga mendesentralisasi sistem peluncuran dengan mengandalkan peluncur bergerak yang lebih sulit dideteksi. "Ini adalah perlombaan tentang waktu," kata Azizi.

Senada, akademisi dari Doha Institute for Graduate Studies, Muhanad Seloom, mengatakan ancaman Iran tidak bergantung pada jumlah serangan.

"Tidak masalah berapa banyak yang Anda luncurkan selama Anda mempertahankan ancaman yang kredibel," katanya. "Hanya satu drone yang berhasil untuk menghancurkan rasa aman," tuturnya.

Drone Murah, Dampak Besar

Iran dikenal memiliki kemampuan memproduksi drone murah dalam jumlah besar, seperti Shahed 136. Drone ini dapat diproduksi cepat dan diluncurkan tanpa sistem kompleks, sehingga sulit dihentikan sepenuhnya.

Meski kecepatannya relatif rendah dan bisa ditembak jatuh, sejumlah drone tetap berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan negara Teluk.

Pada Senin, insiden terkait drone menyebabkan kebakaran di dekat Bandara Internasional Dubai dan kawasan industri Fujairah di UEA. Sirene juga berbunyi di Israel tengah akibat serangan rudal Iran.

Di Selat Hormuz, ratusan kapal dilaporkan tertahan karena kekhawatiran serangan, meski jumlah serangan langsung terhadap kapal relatif terbatas. Sejak perang dimulai, tercatat sekitar 20 insiden terkait kapal.

Dampak Ekonomi Global

Strategi Iran dinilai merupakan bagian dari doktrin perang asimetris, yakni melemahkan lawan yang lebih kuat secara militer dengan menyerang infrastruktur penting dan menimbulkan tekanan ekonomi.

Harga minyak global telah melonjak di atas US$100 per barel, memicu kepanikan pasar.

Qatar sebagai eksportir gas terbesar kedua dunia masih menutup produksi, sementara perusahaan minyak negara Bahrain menyatakan force majeure alias kondisi kahar. Produksi minyak dari ladang utama di Irak selatan juga turun hingga 70%.

Profesor di Johns Hopkins University, Vali Nasr, menilai tekanan ekonomi bisa menjadi senjata utama Iran.

"Ini akan menimbulkan kerusakan yang sama atau lebih besar bagi AS daripada bom Amerika di Iran," katanya.

Dengan kata lain, meski kemampuan militernya terpukul, Iran masih memiliki cara untuk mempertahankan tekanan, baik melalui serangan terbatas maupun dampak ekonomi global yang luas.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video:Menlu AS Sebut Program Rudal Jarak Jauh Iran Jadi Ancaman Serius

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sambut Libur Panjang, Otorita IKN Gelar Apel Kesiapan Pengamanan Kunjungan Masyarakat
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
TNI Ungkap Empat Anggota BAIS Jadi Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis, Ada yang Berpangkat Kapten
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Cerita Pemudik Habis Kuota Internet, Untung Ada Posko Telkomsel Siaga di KM 57
• 34 menit lalukumparan.com
thumb
Kronologis Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Berdasarkan Pendalaman CCTV
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Tampilkan CCTV, Kapolda Metro Jamin Transparan Usut Kasus Penyiraman Air Keras
• 5 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.