EtIndonesia. Pada masa yang penuh kesulitan ekonomi itu, banyak siswa bahkan tidak mampu membawa bekal makan yang layak ke sekolah.
Teman sebangku saya adalah salah satunya.
Isi bekalnya hampir selalu sama: kedelai hitam yang diasinkan.
Sementara bekal saya sering berisi ham dan telur ceplok.
Perbedaannya benar-benar seperti langit dan bumi.
Namun ada satu hal yang selalu membuat saya merasa tidak nyaman.
Setiap kali ia membuka bekalnya, ia selalu mengambil sehelai rambut dari dalam makanannya terlebih dahulu, lalu tetap makan dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Hal ini terjadi hampir setiap hari.
Teman-teman sekelas mulai berbisik-bisik:
“Kelihatannya ibunya sangat ceroboh.
Bagaimana bisa setiap hari ada rambut di dalam makanannya?”
Kami tidak berani mengatakan hal itu di depan dirinya karena takut melukai harga dirinya.
Tetapi di dalam hati, kami merasa jijik.
Perlahan-lahan, kesan kami terhadap teman itu pun mulai berubah.
Suatu hari setelah pulang sekolah, ia menghampiri saya dan berkata:
“Kalau kamu tidak ada kegiatan, maukah kamu datang bermain ke rumahku?”
Sebenarnya saya tidak terlalu ingin pergi.
Namun sejak kami sekelas, ini adalah pertama kalinya ia mengundang saya ke rumahnya.
Saya merasa tidak enak hati jika menolaknya.
Akhirnya saya pun ikut pergi.
Kami berjalan menuju sebuah perkampungan kumuh di daerah lereng paling curam di Seoul.
Sesampainya di rumahnya, ia berseru dengan penuh semangat:
“Ibu, aku membawa teman ke rumah!”
Mendengar suara anaknya, pintu rumah pun terbuka.
Seorang ibu tua muncul di depan pintu.
“Oh, jadi ini teman anakku?
Biar ibu melihatmu…”
Namun ketika keluar rumah, sang ibu tidak menatap ke arah saya.
Ia hanya meraba-raba tiang pintu dengan tangannya.
Saat itulah saya menyadari sesuatu.
Ternyata ibu teman saya itu buta.
Hati saya langsung terasa sangat sesak.
Hidung saya terasa perih, dan saya tidak mampu berkata apa pun.
Bekal makan teman saya yang setiap hari hanya berisi kedelai hitam itu ternyata disiapkan oleh ibunya yang tidak bisa melihat.
Dengan penuh kehati-hatian, ibunya menyiapkan makanan untuk anaknya.
Bekal itu bukan hanya sekadar makan siang.
Di dalamnya terkandung cinta seorang ibu yang begitu besar.
Bahkan rambut yang tercampur di dalamnya pun adalah bagian dari kasih sayang seorang ibu. (jhon)





