Iran Pakai Teknologi Tiongkok untuk Palsukan Sinyal Navigasi Satelit

mediaindonesia.com
10 jam lalu
Cover Berita

KONFLIK di Timur Tengah kini merambah ke ranah perang elektronik yang mengancam keselamatan penerbangan global. Intensitas gangguan GPS (jamming) dan pemalsuan sinyal (spoofing) oleh Iran dilaporkan meningkat drastis. Ini menciptakan risiko fatal bagi pesawat militer AS dan Israel.

CEO SandboxAQ, Jack Hidary, dalam wawancaranya dengan CNBC memperingatkan bahwa Iran kini mendapatkan akses ke sistem navigasi satelit Beidou milik Tiongkok. Dukungan teknologi ini memungkinkan Iran memiliki akurasi lebih tinggi dalam serangan rudal dan penargetan sasaran di seluruh kawasan Timur Tengah.

Bahaya Laten Spoofing: Menipu Pilot ke Wilayah Musuh

Hidary menjelaskan bahwa spoofing jauh lebih berbahaya daripada sekadar pemblokiran sinyal (jamming). Sinyal palsu yang dikirimkan dari menara darat dapat mengelabui sistem navigasi pesawat tanpa disadari oleh kru kabin.

Baca juga : Tiongkok Kritik Dominasi Global, Desak Hormati Kedaulatan Iran

"Jika Anda menerbangkan pesawat dengan kecepatan 500 hingga 600 kilometer per jam, Anda bisa berada di wilayah musuh dengan sangat cepat tanpa menyadarinya," ujar Hidary.

Saat ini, banyak pilot terpaksa menggunakan teknik manual dengan mematikan dan menghidupkan sinyal GPS secara berulang untuk mencegah sistem inersia pesawat tertipu. Namun, metode ini dianggap tidak berkelanjutan dan sangat berisiko untuk jangka panjang.

41.000 Insiden Malafungsi GPS dalam Setahun

Skala permasalahan ini melampaui batas zona konflik. Dalam satu tahun terakhir, tercatat 41.000 insiden malafungsi GPS di wilayah Teluk, Eropa, dan sekitarnya. Bahkan, pesawat Presiden Uni Eropa, Ursula von der Leyen, dilaporkan pernah menjadi sasaran aktor negara sekitar enam bulan lalu yang mengakibatkan gangguan navigasi signifikan selama penerbangan.

Baca juga : Tangkis Sanksi AS, Diam-Diam Tiongkok Beli Minyak Iran

Meskipun penggunaan teknologi Beidou oleh Iran memberikan keuntungan taktis sementara. Sekutu Barat diyakini akan segera menemukan cara untuk menetralisasi sinyal tersebut. Hidary menekankan bahwa sistem berbasis satelit apa pun pada dasarnya tetap memiliki celah keamanan.

Mengenal AQNav: Navigasi Magnetik tanpa Satelit

Sebagai solusi, SandboxAQ mengembangkan AQNav, teknologi navigasi magnetik yang memanfaatkan sidik jari magnetik unik bumi. Keunggulan utamanya antara lain:

  • Anti-Jamming: Tidak bergantung pada sinyal radio luar.
  • Anti-Spoofing: Menggunakan sensor mandiri (air-gapped) di dalam badan pesawat.
  • Akurasi Tinggi: Didukung oleh kecerdasan buatan (AI) dan teknologi kuantum.

Teknologi ini telah diuji secara intensif oleh Angkatan Udara Amerika Serikat (US Air Force) selama lebih dari tiga tahun. Selain itu, Airbus memvalidasi sistem ini melalui lebih dari 100 penerbangan dengan total jarak tempuh mencapai 44.000 kilometer.

Hidary menyimpulkan bahwa industri penerbangan harus segera beralih dari ketergantungan pada GPS sebagai titik kegagalan tunggal (single point of failure). Adopsi navigasi magnetik dianggap sebagai langkah krusial untuk masa depan pertahanan militer dan keselamatan perjalanan udara komersial di seluruh dunia. (Seeking Alpha/I-2)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tok Tok Tok... Bos WKM Menang Lawan Polda Metro Jaya di Praperadilan Menjelang Lebaran
• 10 jam lalujpnn.com
thumb
Lebaran di tengah isyarat alam
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Megawati Bakal Gelar Open House di Kantor DPP PDIP
• 20 jam laluokezone.com
thumb
Harga Emas Dunia Turun Imbas Konflik Iran, Pelaku Pasar Tunggu Keputusan Fed
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
86 CCTV Dikaji, Kapolri Janjikan Kasus Penyiraman Aktivis KontraS Terungkap
• 7 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.