Penulis: Fityan
TVRINews - Jakarta
Dinamika Harga Bawang: Fluktuasi Pasar Modern
Memasuki kuartal pertama tahun 2026, peta kekuatan harga pangan nasional, khususnya komoditas bawang merah, menunjukkan dinamika yang krusial bagi ketahanan ekonomi rumah tangga.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) periode Maret 2025 hingga Maret 2026, grafik harga bawang merah ukuran sedang di pasar modern mencerminkan anomali yang dipicu oleh tantangan logistik dan faktor cuaca ekstrem.
Sepanjang tahun 2025, harga bawang merah sempat mengalami volatilitas tajam, terutama menjelang penutupan tahun di mana rata-rata nasional menyentuh angka Rp48.637 per kilogram.
Angka ini tercatat berada 17,2% di atas Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah. Di pasar modern Kalimantan Utara, misalnya, harga tetap bertengger di level premium Rp48.000 per kilogram, meski sempat menunjukkan tren penurunan tipis sebesar 9,38% dalam tiga bulan terakhir menuju Maret 2026.
Namun, memasuki Maret 2026, wajah pasar modern di berbagai wilayah Indonesia Timur menampilkan kontras yang nyata.
Di Maluku Utara, lonjakan harga mencatat rekor tertinggi nasional hingga menembus angka psikologis Rp95.950 per kilogram.
Disparitas harga yang lebar ini menjadi sinyalemen hambatan distribusi antardaerah yang belum sepenuhnya terurai.
Di sisi lain, daerah sentra produksi seperti Probolinggo justru mencatatkan koreksi harga.
Untuk kategori ukuran sedang atau "tanggung", harga di tingkat pasar induk berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp26.000 per kilogram.
Penurunan di tingkat produsen ini diharapkan mampu menjadi "bantalan" inflasi bagi konsumen di pasar modern kota-kota besar dalam beberapa pekan ke depan.
Bagi konsumen ritel, stabilitas harga bawang merah bukan sekadar angka di label harga swalayan, melainkan indikator vital daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian iklim yang membayangi produktivitas petani lokal.
Editor: Redaksi TVRINews





