Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mempertimbangkan penambahan armada bus TransJakarta SH2 untuk rute Blok M menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, menyusul tingginya permintaan menjelang Idul Fitri.
Pramono mengakui, lonjakan penumpang membuat antrean di sejumlah titik, terutama di Blok M, yang disebut mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Ia menilai, tingginya permintaan tersebut menjadi indikator bahwa layanan ini diminati masyarakat, terutama di masa arus mudik. Kendati demikian, ia tak merinci angka permintaan tersebut.
“Saya angkanya tidak tahu, tetapi sekarang aja sudah ada permintaan untuk nambah busnya,” kata Pramono usai kegiatan Andilan Kebo di Puskeswan Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Rabu (18/3).
“Karena ada permintaan untuk menambah busnya, artinya ini kan lagi mau Lebaran, bahkan yang di Blok M itu, mohon maaf akhirnya ada antrean dan antreannya itu sempat mengganggu aktivitas yang ada di Blok M. Sehingga kami lagi mempertimbangkan untuk menambah armada,” imbuh dia.
Pramono mengatakan, dirinya juga memantau langsung tingginya minat masyarakat menggunakan rute Blok M–Bandara. Menurut dia, permintaan perjalanan menuju bandara meningkat tajam menjelang Lebaran.
“Saya memantau yang dari Blok M ke Soekarno-Hatta menghadapi Idul Fitri ini langsung meledak. Padahal kita siapkan busnya 14, jadi artinya jeda waktunya sekitar 15 menit, enggak cukup,” kata dia.
Percepat Jeda Keberangkatan
Karena itu, Pemprov DKI berencana mempercepat interval keberangkatan bus. Jika sebelumnya jeda antarbus sekitar 15 menit, kini akan dipersingkat menjadi 5 hingga 10 menit untuk mengakomodasi lonjakan penumpang.
“Sekarang minta jeda waktunya hanya 5 sampai dengan 10 menit karena memang sekarang lagi Lebaran, lagi Idul Fitri, orang banyak pulang kampung dan sebagainya,” papar Pramono.
Selain itu, Pramono menyoroti tarif layanan yang masih tergolong murah dibandingkan moda transportasi lain menuju bandara.
“Dan yang mereka kaget, tarifnya kita buat masih Rp 3.500. Padahal yang lain, bahkan DAMRI saja sudah Rp 80.000, taksi sekitar Rp 150.000, ojek online sekitar Rp 225.000,” ucapnya.
Meski demikian, Pramono menegaskan kebijakan tarif Rp 3.500 tersebut bersifat sementara dan akan dievaluasi setelah beberapa bulan operasional.
“Saya pengin memantau ini secara sungguh-sungguh dan nanti setelah 3 bulan kami memberikan tarif Rp 3.500, tentunya harus diputuskan. Enggak mungkin kemudian tetap dengan tarif itu, tetapi toh harus kita putuskan,” tutupnya.




