Kehadiran ketupat saat rangkaian perayaan Idul Fitri memiliki falsafah kerendahan hati bagi Muslim di Jawa. Kupat, ketupat dalam bahasa Jawa, merupakan akronim dari ngaku lepat, yang berarti ”mengaku salah”. Di dalam dakwah Sunan Kalijaga, diyakini, menggunakan ketupat sebagai simbolisasi laku papat, yaitu empat perilaku dalam merayakan Idul Fitri, salah satunya ialah saling memaafkan. Perayaan ketupat melalui tradisi bakda kupat pada seminggu setelah Idul Fitri merupakan hasil akulturasi budaya Hindu-Buddha dengan Islam oleh Wali Sanga.
Ketupat sebagai hidangan khas Nusantara memiliki sejarah yang panjang dan berliku. Makanan ini berakar dari era kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Kata kupat, akupat, khupat-khupatan telah muncul di dalam naskah sastra Jawa kuno kakawin Kresnayana, kakawin Subadra Wiwaha, dan kidung Sri Tanjung. Adapun kata ’kupatay’ muncul dalam kakawin Ramayana. Sejumlah naskah tersebut menunjukkan bahwa ketupat telah hadir jauh sebelum proses Islamisasi pada abad ke-14 hingga ke-15 Masehi.
Geser untuk melihat cara menganyam ketupat





