Psychology of Money: Kenapa Uang Sering Habis Tanpa Kita Sadar?

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Istilah “gaji cuma numpang lewat” sering muncul di awal bulan. Kondisi ini biasanya terjadi karena banyaknya kewajiban pembayaran rutin yang harus dipenuhi setiap bulan, mulai dari cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), cicilan kendaraan bermotor, hingga tagihan kartu kredit.

Selain itu, ada pula istilah “bocor halus”, yaitu kondisi ketika pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali tanpa disadari justru menumpuk menjadi jumlah besar. Contohnya seperti kebiasaan membeli kopi setiap hari, biaya parkir, hingga langganan aplikasi yang sebenarnya jarang digunakan. Tanpa pencatatan atau pembagian pos pengeluaran yang jelas, uang sering kali mengalir mengikuti dorongan impulsif. Belum lagi pembelian spontan yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, seperti membeli sepatu model terbaru, ponsel baru, atau tiket konser.

Secara psikologis, peralihan pola transaksi dari uang tunai ke metode pembayaran digital juga turut memperkuat kebiasaan tersebut. Ketika seseorang tidak lagi melihat uang fisik keluar dari dompet, otak tidak merasakan “sakitnya” mengeluarkan uang. Akibatnya, kontrol diri terhadap pengeluaran dapat melemah. Kondisi ini sering membuat seseorang merasa saldo masih aman, hingga akhirnya baru menyadari keuangan menipis ketika kebutuhan pokok di akhir bulan harus dipenuhi.

Kondisi kehilangan kendali dalam mengatur pengeluaran seperti ini juga dialami oleh Narissa (23), yang baru bekerja selama satu bulan. Sebagai pekerja yang baru memulai karier, ia mengaku belum memiliki cicilan bulanan. Namun, ia berlangganan beberapa aplikasi digital seperti Spotify dan layanan penyimpanan iCloud yang pembayarannya dipotong otomatis setiap bulan.

Dalam kesehariannya, Narissa mengaku cukup sering membeli kopi atau camilan. Untuk metode pembayaran, ia lebih banyak menggunakan transaksi digital melalui sistem pembayaran QRIS karena lebih mudah untuk memonitor pengeluarannya. Ia juga jarang menggunakan uang tunai dan hanya sesekali memakai kartu debit saat bertransaksi.

“Seminggu bisa lima kali jajan. Sebetulnya ada anggaran khusus, tapi kadang over budget, terutama selama bulan puasa yang banyak bukber. Kalau nggak puasa aku beli setidaknya dua kopi dalam satu hari,” kata Narissa saat dihubungi kumparan, Senin (16/3).

Narissa mengatakan dirinya pernah melakukan pembelian impulsif, bahkan sejak sebelum mulai bekerja. Namun setelah menerima gaji sendiri, kebiasaan tersebut justru semakin jarang karena ia lebih banyak mempertimbangkan sebelum memutuskan membeli sesuatu.

“Tapi, uang habis untuk transport dan jajan kopi,” ucap Narissa saat ini.

Ia juga menuturkan bahwa saat ini dirinya jarang menyesal setelah membeli barang karena biasanya telah mempertimbangkannya terlebih dahulu. “Dulu banget pernah begitu, kadang habis beli kosmetik (suka menyesal). Sekarang justru penuh pertimbangan sebelum membeli sesuatu,” ucap Narissa.

Dalam kehidupan sosialnya, Narissa mengakui pengaruh lingkungan sering muncul dalam bentuk ajakan teman-teman untuk pergi jalan atau berkumpul. Menurutnya, ajakan tersebut sulit ditolak karena ia memang menyukai aktivitas ngopi dan mencoba berbagai tempat makan.

Kemudian untuk mengontrol pengeluaran, Narissa mencoba beberapa metode pengelolaan keuangan. “Aku pakai Kantong Nabung dari Bank Jago, lumayan sih bisa bantu aku pisahin mana yang mau aku tabung,” tambahnya.

Meski begitu, sampai saat ini ia merasa sistem pembatasan anggaran yang terlalu ketat justru membuatnya merasa tertekan.

“Jadi terapin mindset ‘pake yang udah ada aja’. Enaknya pakai aplikasi perbankan itu bisa dipersonalisasi sesuai kebutuhan. Kebetulan masih tinggal sama orang tua, jadi masih bisa bawa bekal sendiri dan keperluan seperti tisu, laundry, masih dibantu rumah. Susahnya cuman di godaan kopi dan jajan sih,” tutur Narissa.

Fenomena yang dialami Narissa sebenarnya cukup umum terjadi, terutama pada pekerja yang baru pertama kali memasuki dunia kerja atau first jobber, di mana gaji terasa cepat habis.

Psikolog sekaligus konselor Irma Gustiana Andriani menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena psikologis yang disebut present bias, yaitu kecenderungan otak untuk lebih memprioritaskan kesenangan saat ini dibandingkan kebutuhan di masa depan. Menurutnya, ketika seseorang baru menerima gaji, otak merasa memiliki lebih banyak sumber daya sehingga kontrol diri terhadap pengeluaran cenderung menurun.

“Saat baru gajian, otak merasa punya banyak sumber daya, sehingga kontrol diri sedikit menurun. Ditambah lagi ada reward feeling setelah bekerja keras sebulan. Akhirnya muncul pikiran seperti, ‘Aku pantas kok self-reward’,” kata Irma saat dihubungi kumparan.

Irma menambahkan, tanpa perencanaan yang jelas, pengeluaran kecil yang tampak wajar dapat menumpuk menjadi jumlah besar. Hal tersebut bukan semata karena seseorang tidak mampu mengelola uang, melainkan karena emosi kerap ikut memengaruhi keputusan finansial.

Lebih lanjut, Irma menilai momen Lebaran tidak hanya berkaitan dengan keuangan, tetapi juga memiliki dimensi emosional dan sosial. Ia menjelaskan terdapat beberapa faktor psikologis yang memengaruhi perilaku konsumsi pada periode tersebut, salah satunya adalah ekspektasi sosial, yaitu dorongan untuk tampil layak ketika pulang kampung atau berkumpul dengan keluarga.

“Kedua emotional spending, ingin membahagiakan orang lain, jadi lebih mudah mengeluarkan uang. Kemudian scarcity mindset sementara karena THR dianggap ‘uang tambahan’, otak sering memperlakukannya seperti bonus yang bebas dibelanjakan,” lanjut Irma.

Irma juga menjelaskan kebiasaan belanja sebagai bentuk pelarian emosi merupakan hal yang cukup umum terjadi. Menurutnya, ketika seseorang membeli sesuatu, otak akan melepaskan dopamin, yaitu hormon yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan.

Hal ini membuat tindakan menekan tombol ‘Beli Sekarang’ terasa memuaskan. Bagi sebagian orang, berbelanja menjadi cara cepat untuk meredakan stres, mengalihkan emosi, atau memberikan hadiah kecil bagi diri sendiri setelah menjalani hari yang melelahkan.

“Masalahnya, efeknya biasanya sementara. Setelah euforia belanja hilang, kadang justru muncul rasa bersalah atau stres baru karena kondisi keuangan,” tutur Irma.

Ia juga menilai strategi promosi seperti diskon dan flash sale memang dirancang untuk memicu rasa urgensi atau fear of missing out (FOMO). Agar tidak terjebak dalam situasi tersebut, Irma menyarankan beberapa langkah sederhana, seperti menunda keputusan pembelian setidaknya selama 24 jam, mempertanyakan apakah barang tersebut tetap ingin dibeli jika tidak sedang diskon, serta membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

“Kadang bukan diskonnya yang membuat kita membeli, tapi emosi yang dipicu oleh diskon tersebut,” lanjutnya.

Terakhir, Irma menilai metode pengelolaan uang seperti cash stuffing secara psikologis dapat membantu sebagian orang dalam mengontrol pengeluaran. Menurutnya, ketika uang dibagi ke dalam amplop atau binder, batas pengeluaran setiap kategori menjadi lebih jelas terlihat. Sensasi nyata ketika uang dalam satu kategori mulai habis dapat membantu meningkatkan kontrol diri.

“Ini membantu mengaktifkan self-control karena otak kita lebih mudah memahami sesuatu yang konkret dibanding angka di aplikasi,” ucap Irma.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak berarti aplikasi pengelolaan keuangan digital tidak efektif. Saat ini, memang sudah ada sejumlah aplikasi yang menawarkan layanan pengaturan pos tabungan seperti fitur Kantong di Bank Jago atau Saku di Bank Saqu. Layanan perbankan tersebut memungkinkan nasabah bisa mengatur sendiri pos keuangan mereka sesuai kebutuhan masing-masing.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Presiden Prabowo Kirim Bantuan Alat Ibadah dan Pakaian untuk Korban Bencana di Pidie
• 4 jam laluokezone.com
thumb
H-5 Lebaran 2026, 990 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jabotabek
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Prediksi Man City vs Real Madrid: Head to Head, Susunan Pemain, dan Link Live Streaming
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Muhammadiyah Minta Warganya yang di Bali Tak Gelar Takbir Keliling
• 8 jam lalurealita.co
thumb
Prabowo Penuhi Permintaan Warga Aceh, Bantuan Daging Meugang untuk Sambut Idulfitri Senilai Rp72,75 Miliar Disalurkan
• 14 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.