Perusahaan migas asal Italia, ENI, mengembangkan proyek gas Gendalo–Gandang dan Geng North–Gehem di lepas pantai Kalimantan Timur dengan total nilai investasi mencapai US$ 15 miliar atau sekitar Rp 254,44 triliun. Keputusan ini diambil hanya dalam waktu 18 bulan setelah persetujuan Plan of Development (POD) pada 2024.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengatakan langkah ini menjadi sinyal kuat meningkatnya kepercayaan investor global terhadap iklim investasi sektor hulu migas di Indonesia. Ia menilai keputusan tersebut juga penting untuk mendorong peningkatan produksi gas nasional dan memperkuat ketahanan energi.
“Dengan investasi sekitar US$ 15 miliar, secara paralel ENI sedang menjalankan proses tender pengadaan barang dan jasa, serta telah membeli barang yang merupakan LLI (Long Lead Item),” tulis Djoko dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (19/3).
Adapun proyek ini memanfaatkan teknologi produksi laut dalam dan infrastruktur yang sudah ada, termasuk fasilitas Jangkrik FPU dan reaktivasi Train F di kilang LNG Bontang. Langkah ini dinilai menekan biaya sekaligus mempercepat komersialisasi gas.
Tak hanya itu, ENI mengembangkan lapangan Gendalo dan Gandang di kedalaman 1.000–1.800 meter dengan mengebor tujuh sumur produksi yang terhubung ke fasilitas Jangkrik.
ENI juga mengembangkan proyek North Hub dengan mengebor 16 sumur produksi di kedalaman 1.700–2.000 meter yang terhubung ke FPSO baru berkapasitas lebih dari 1 miliar kaki kubik gas per hari serta 90.000 barel kondensat per hari.
Kedua proyek ini menyimpan potensi sumber daya sekitar 10 triliun kaki kubik gas (TCF) dan 550 juta barel kondensat. ENI menargetkan produksi mulai pada 2028 dan mencapai puncaknya pada 2029 dengan kapasitas sekitar 2 miliar kaki kubik gas per hari dan 90.000 barel kondensat per hari.
Selain itu ENI akan menyalurkan gas ke darat melalui pipa untuk memasok jaringan domestik dan mendukung produksi LNG di fasilitas Bontang baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor. Kemudian ENI akan memproses dan menyimpan kondensat di FPSO lepas pantai sebelum dikirim menggunakan kapal tanker.
Adapun proyek ini diharapkan mampu mendukung ketahanan energi nasional dalam jangka panjang. Investasi tersebut berpotensi menciptakan efek berganda, terutama dalam penyerapan tenaga kerja.
Selain itu, ENI akan menggabungkan proyek ini dalam kerja sama dengan Petronas untuk membentuk perusahaan baru (NewCo) yang ditargetkan memproduksi lebih dari 500.000 barel setara minyak per hari pada 2029.
Diketahui ENI telah beroperasi di Indonesia sejak 2001 dan terus memperkuat posisinya sebagai salah satu produsen gas utama di Cekungan Kutai, Selat Makassar, yang kini berkembang menjadi pusat produksi gas strategis nasional.




