Amerika Ternyata Untung Gara-gara Krisis Minyak, Ini Penjelasannya

cnbcindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan harga minyak global dalam beberapa pekan terakhir menyisakan satu anomali. Ketika harga acuan dunia meroket, minyak Amerika Serikat (AS) tertinggal.

Selisih harga antara West Texas Intermediate (WTI) dan Brent melebar hingga US$12,05 per barel pada perdagangan Rabu, level terlebar sejak 2015.

Melansir dari Reuters, fakta ini muncul di tengah konflik AS-Israel dengan Iran yang mengguncang pasokan energi Timur Tengah. Serangan terhadap infrastruktur energi, termasuk ladang gas South Pars, mendorong harga Brent naik lebih cepat. Pada hari yang sama, Brent menguat 3,8%. WTI hanya bergerak tipis 0,1%.

Perbedaan arah ini membentuk celah harga yang lebar. Mekanismenya sederhana. Brent mencerminkan risiko global, sementara WTI lebih dipengaruhi kondisi domestik AS. Ketika risiko geopolitik melonjak, Brent terdorong naik. Di sisi lain, pasokan dalam negeri AS sedang longgar.

Energy Information Administration melaporkan stok minyak di Cushing, Oklahoma, naik menjadi 27,52 juta barel, tertinggi sejak Agustus 2024. Pemerintah AS juga bersiap melepas 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) sebagai upaya meredam harga. Tambahan pasokan ini menahan pergerakan WTI.

Kondisi tersebut membuka ruang arbitrase. Selisih harga yang lebar membuat minyak AS terlihat murah bagi pasar internasional. Trader membeli WTI, lalu mengirimkannya ke Eropa untuk dijual dengan harga Brent. Ongkos pengiriman memang naik. Tarif kapal Aframax dari Teluk AS ke Eropa melonjak ke sekitar US$6 juta dari sebelumnya US$4,36 juta. Namun margin harga masih cukup untuk menjaga transaksi tetap berjalan.

Pilihan Redaksi
  • Menhan Israel Mundur, Ketahuan Biang Kerok Konflik AS-Negara Arab
  • Arab Saudi Ancam Pembalasan ke Iran Usai Kilang Minyak Dibombardir
  • Trump Ngamuk, Ancam Runtuhkan Ladang Gas Terbesar Iran

Pengiriman minyak dari Teluk AS meningkat untuk periode Maret hingga awal April. Kapal kosong bergerak menuju AS untuk mengambil muatan. Arus ekspor diperkirakan naik dalam beberapa pekan ke depan selama selisih harga bertahan lebar.

Di titik ini, posisi AS berubah. Ketika kawasan lain terganggu pasokannya, minyak AS justru mengalir ke pasar global dalam volume lebih besar. Harga domestik yang lebih rendah menjadi daya tarik utama.

Sepanjang 2025, hampir 4 miliar barel minyak AS dikirim ke berbagai negara. Permintaan tersebar luas, dengan Eropa menjadi salah satu tujuan utama.

Belanda menjadi pembeli terbesar dengan impor sekitar 419 juta barel. Minyak tersebut masuk melalui Pelabuhan Rotterdam sebelum didistribusikan ke berbagai negara Eropa. Kebutuhan energi kawasan ini meningkat setelah pasokan dari Rusia berkurang sejak 2022.

Di luar Eropa, Amerika Latin juga aktif menyerap minyak AS. Meksiko menempati posisi kedua, diikuti Brasil, Chili, dan Ekuador. Kanada mencatat impor sekitar 324 juta barel. Keterbatasan kilang dan jaringan pipa membuat negara tersebut tetap bergantung pada pasokan dari AS.

Asia tetap hadir dalam daftar pembeli utama. Korea Selatan, India, dan China masih menjadi pasar penting. Namun pola berubah. Impor China turun sekitar 81 juta barel pada 2025. Penurunan ini terkait pergeseran ke minyak diskon dari Iran, Venezuela, dan Rusia.

Indonesia tercatat berada di peringkat ke-18 dengan impor sekitar 57 juta barel, setara 1,5% dari total ekspor minyak AS. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai bagian dari jaringan pembeli yang ikut memanfaatkan pasokan energi dari Negeri Paman Sam.

Kombinasi antara harga WTI yang lebih rendah dan jaringan pembeli global membentuk keuntungan tersendiri bagi AS.

Selama selisih harga masih lebar, arus ekspor berpotensi terus meningkat. Namun ruang ini tidak akan selalu terbuka. Kenaikan biaya logistik bisa menekan margin. Jika ongkos pengiriman naik terlalu tinggi, transaksi bisa berkurang dan selisih harga menyempit kembali.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lebih dari 960 Warga Lebanon Tewas dalam Serangan Israel
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kemenag: Posisi Hilal di Indonesia Belum Memenuhi Kriteria MABIMS
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hasil Sidang Isbat: Idul Fitri 2026 Ditetapkan Sabtu 21 Maret
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Ramalan Keuangan Zodiak 20 Maret 2026: Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Pemilik Klub Como 1907 dan Grup Djarum Michael Hartono Meninggal Dunia
• 3 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.