Kabar duka datang dari dunia bisnis Indonesia. Pengusaha senior sekaligus pemilik Grup Djarum, Michael Bambang Hartono, meninggal dunia. Michael Bambang Hartono wafat di Singapura pada pukul 13.15 waktu setempat.
Michael Bambang Hartono dikenal sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, yang bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, membangun kerajaan bisnis lintas sektor, mulai dari perbankan, rokok, hingga teknologi digital.
Lahir di Kudus pada 2 Oktober 1939, Michael Bambang Hartono adalah putra dari Oei Wie Gwan, pendiri Djarum.
Selain sebagai pengusaha, Michael Bambang Hartono juga dikenal aktif dalam kegiatan filantropi melalui Djarum Foundation, yang fokus pada bidang pendidikan, olahraga, lingkungan, dan budaya.
Dengan kiprah panjang di dunia bisnis, Michael Bambang Hartono kerap masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi berbagai lembaga internasional. Ia dikenal sebagai sosok yang konsisten membangun bisnis berbasis keluarga dengan pendekatan jangka panjang.
Di dunia olahraga, ia berkontribusi melalui pembinaan bulu tangkis di PB Djarum, yang telah melahirkan banyak atlet nasional berprestasi. Michael Bambang Hartono juga berkiprah sebagai atlet nasional untuk cabang olahraga bridge. Ia tampil pada Asian Games 2018 sebagai kontingen Indonesia dan berhasil meraih medali perunggu.
Berdasarkan data Forbes per 19 Maret 2026, kekayaan bersihnya mencapai sekitar USD 17,5 miliar atau setara Rp 297 triliun (kurs Rp 16.983) menempatkannya di peringkat 158 orang terkaya dunia.
Sebagian besar kekayaan keluarga Hartono berasal dari investasi strategis mereka di Bank Central Asia (BCA).
“Michael Bambang Hartono dan saudaranya, R. Budi, termasuk di antara orang terkaya di Indonesia. Sebagian besar kekayaan mereka berasal dari investasi mereka di Bank Central Asia,” kata laporan Forbes, dikutip Kamis (19/3).
Investasi tersebut bermula dari momentum krisis ekonomi Asia 1997–1998. “Keluarga Hartono membeli saham di BCA setelah keluarga kaya lainnya, keluarga Salim, kehilangan kendali atas bank tersebut selama krisis ekonomi Asia 1997-1998,” tulis laporan itu.
Bisnis awal keluarga ini berasal dari industri rokok kretek melalui Grup Djarum, yang hingga kini masih menjadi salah satu produsen terbesar di Indonesia.
“Keluarga tersebut pertama kali menjadi kaya dari bisnis tembakau dan hingga kini masih menjadi salah satu produsen rokok cengkeh terbesar di negara itu,” kata Forbes.
Dalam beberapa tahun terakhir, ekspansi bisnis keluarga Hartono juga merambah sektor digital melalui Global Digital Niaga, induk dari e-commerce Blibli.
“Dalam IPO terbesar kedua di Indonesia pada tahun 2022, kedua bersaudara tersebut mendaftarkan Global Digital Niaga, yang memiliki raksasa e-commerce Blibli, dan berhasil mengumpulkan dana sebesar 510 juta dolar AS,” tulis laporan itu.
Aset keluarga juga mencakup properti utama di Jakarta dan merek elektronik populer Polytron, yang terjun ke bisnis kendaraan listrik di negara asalnya pada tahun 2025 dengan peluncuran dua model mobil listrik.
Kepergian Michael Bambang Hartono menjadi kehilangan besar bagi dunia usaha nasional. Sosoknya dikenal sebagai pengusaha yang berhasil membawa bisnis keluarga berkembang dari industri tradisional hingga merambah sektor ekonomi digital.





