Lembaga Fakakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) PWNU Jawa Timur (Jatim) menyampaikan hasil rukyatul hilal 1 Syawal 1447 Hijriah tidak terlihat di 43 titik lokasi pantauan wilayah Jatim.
Syamsul Ma’arif Ketua LFNU PWNU Jatim menjelaskan, hasil rukyatul hilal yang menunjukkan posisi hilal secara astronomi masih berada di bawah kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
“Pelaksanaan rukyatul hilal di Jawa Timur di 43 titik lokasi rukyat itu melaporkan tidak ada yang berhasil melihat hilal sama sekali,” ujar Syamsul saat dikonfirmasi, Kamis (19/3/2026).
Menurutnya ada dua faktor mengapa hilal belum terlihat di wilayah Jatim. Pertama karena kondisi astronomi posisi hilal, kedua karena kendala cuaca mendung di sejumlah titik lokasi pemantauan.
“Pertama alasan karena astronomi memang hilal di bawah kriteria Imkanur Rukyat. Yang kedua sebagian karena cuaca yang mendung,” jelasnya.
Berdasarkan teori astronomi, Syamsul menjelaskan bahwa tinggi hilal dan sudut elongasi di Jawa Timur belum mencapai standar minimal imkanur rukyat atau kriteria visibilitas hilal yang disepakati. Yakni posisi hilal antara satu sampai dua derajat dengan sudut elongasi sekitar lima derajat.
Sementara berdasarkan kriteria MABIMS, hilal baru dinyatakan memenuhi syarat apabila memiliki tinggi minimal tiga derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat saat matahari terbenam.
“Secara astronomi memang hilal di bawah kriteria imkan nur ruyah sehingga hilal tidak bisa terlihat,” ucapnya.
Dengan tidak terlihatnya hilal di Jawa Timur, maka penetapan 1 Syawal berpotensi jatuh pada Sabtu (21/3/202). Namun Syamsul menyebut bahwa keputusan akhir dari Kementerian Agama tetap menunggu hasil pemantauan hilal dari wilayah Aceh.
“Kalau Aceh memang tidak berhasil, maka dimungkinkan umur bulan Ramadan genap 30 hari. Artinya 1 Syawal diperkirakan tanggal 1 hari Sabtu, tanggal 21 Maret,” tandasnya.(wld/bil/faz)




