Bisnis.com, GARUT — Puluhan ribu warga di Kabupaten Garut, Jawa Barat masih menganggur menjelang Hari Raya Idulfitri 2026.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah pengangguran terbuka di daerah tersebut mencapai 91.435 orang dari total angkatan kerja sebanyak 1,39 juta jiwa.
Dalam catatan BPS, mayoritas pengangguran berasal dari kelompok laki-laki dengan jumlah 53.441 orang, sementara perempuan tercatat 37.994 orang. Secara persentase, tingkat pengangguran terbuka di Garut berada di kisaran 6,5% dari total angkatan kerja.
Kepala BPS Garut, Sidik Edi Sutopo mengatakan bahwa jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja mencapai 1,3 juta orang. Namun, angka ini belum cukup untuk menutup kesenjangan lapangan kerja yang tersedia.
Sidik menjelaskan, struktur ketenagakerjaan di Garut masih didominasi oleh sektor informal dan pekerjaan dengan produktivitas rendah. Hal ini berdampak pada terbatasnya peluang kerja baru yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
"Pekerjaan yang tersedia sebagian besar masih bersifat informal, sehingga tidak semua pencari kerja dapat terserap dengan baik," kata Edi, Kamis (19/3/2026).
Selain pengangguran, BPS juga mencatat tingginya jumlah penduduk yang tidak termasuk dalam angkatan kerja, yakni mencapai 648.913 orang. Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan perempuan yang mengurus rumah tangga sebanyak 371.336 orang. Kondisi ini menunjukkan potensi tenaga kerja yang belum tergarap optimal.
“Perempuan yang berada di sektor domestik sebenarnya memiliki potensi untuk masuk ke pasar kerja, namun masih terbentur berbagai faktor, seperti keterbatasan akses pekerjaan dan norma sosial,” kata Sidik.
Sementara itu, jumlah penduduk yang masih bersekolah tercatat 149.510 orang, dengan komposisi relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan akses pendidikan, meski belum sepenuhnya berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan kerja.
Untuk itu, pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat program penciptaan lapangan kerja, baik melalui pengembangan sektor industri kecil, pertanian produktif, maupun pelatihan keterampilan kerja.
Selain itu, intervensi kebijakan yang mendorong partisipasi perempuan dalam pasar kerja juga dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas ekonomi daerah.
Sidik menyebutkan, dengan jumlah penduduk usia produktif yang mencapai lebih dari dua juta jiwa, Garut dinilai memiliki peluang besar untuk memanfaatkan bonus demografi.
“Ini menjadi pekerjaan rumah bersama agar momentum pertumbuhan ekonomi bisa dimanfaatkan untuk menekan angka pengangguran,” ujar Sidik.




