Jakarta, tvOnenews.com - Hari Raya Idul Fitri secara spiritual bermakna sebagai tanda kemenangan dari hawa nafsu. Umat Islam menang atas godaan syahwat setelah sebulan penuh ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Kemenangan di Hari Raya Idul Fitri tidak sekadar perayaan fisik, tetapi juga menunjukkan adanya keberhasilan setelah berjuang mengendalikan diri dari lapar, haus, hingga perbuatan buruk.
Selain sebagai kemenangan hawa nafsu, Idul Fitri kerap kali dipahami sebagai tanda babak perjalanan baru bagi kehidupan orang mukmin. Kemenangan pada momentum Lebaran menunjukkan titik balik spiritual agar umat manusia kembali mendapat kesucian hati hingga jiwanya.
Melalui naskah khutbah Jumat ini, sesi ceramah dalam pelaksanaan shalat Jumat pada 20 Maret 2026 mengambil tema tentang hari raya yang bertajuk "Idul Fitri, Kemenangan atas Hawa Nafsu hingga Awal Babak Perjalanan Baru".
- pexels
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَتَمَّ لَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ، وَوَفَّقَنَا لِصِيَامِهِ وَقِيَامِهِ، وَجَعَلَ لَنَا يَوْمَ الْعِيْدِ فَرَحًا وَسُرُوْرًا، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Pertama-tama, marilah kita mengucapkan segala puji bagi Allah SWT, Maha Penyempurna bulan Ramadhan untuk kita semua. Dari Allah SWT, kita dapat menjalankan ibadah puasa hingga shalat di dalamnya selama bulan Ramadhan sehingga kita dapat berkumpul di masjid tercinta saat Hari Raya Idul Fitri dengan penuh sukacita dan kebahagiaan.




