Penetapan hari besar keagamaan ini memang menjadi momen krusial yang ditunggu oleh jutaan umat Islam di seluruh pelosok negeri. Ketidaksabaran publik biasanya muncul karena berkaitan erat dengan persiapan ibadah puasa maupun rencana mudik lebaran keluarga.
Dasar utama dari proses ini adalah perintah agama untuk melakukan pengamatan hilal sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa pergantian bulan dalam kalender Hijriah benar-benar terjadi sesuai dengan bukti nyata di lapangan.
Di Indonesia sendiri, pemerintah tidak hanya mengandalkan satu metode, melainkan memadukan metode hisab atau perhitungan astronomi dengan metode rukyat atau observasi langsung. Perpaduan dua metode ini bertujuan agar hasil yang didapatkan memiliki akurasi yang tinggi serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun agama.
Keterlambatan pengumuman yang sering dirasakan masyarakat sebenarnya merupakan bentuk kehati-hatian pemerintah dalam memverifikasi data dari berbagai penjuru negeri. Proses pengumpulan laporan dari titik-titik pemantauan di seluruh Indonesia membutuhkan waktu yang tidak sebentar agar tidak terjadi kesalahan fatal dalam menetapkan hari ibadah. Apa itu Hilal? Mengutip unggahan akun Instagram @bimasislam, hilal adalah bulan sabit pertama yang sangat tipis yang muncul setelah fase bulan baru atau ijtimak. Bentuknya seperti lengkungan cahaya yang sangat tipis di langit barat setelah matahari terbenam. Karena tipis dan cahayanya lemah, kadang hilal sulit dilihat dengan mata telanjang dan perlu bantuan teleskop.
Hilal biasanya muncul sesaat setelah matahari terbenam pada tanggal 29 bulan hijriah. Waktunya juga tidak lama, hanya beberapa menit sebelum bulan ikut terbenam. Jadi momen pengamatannya sangat singkat. Syarat Hilal Bisa Terlihat Ada beberapa faktor yang menentukan apakah hilal bisa terlihat atau tidak, misalnya:
- Posisi hilal di atas ufuk, semakin tinggi biasanya semakin mudah terlihat
- Jarak sudut bulan dengan matahari atau elongasi
- Umur bulan sejak ijtimak
- Kondisi langit, seperti awan atau kabut
- Dalam menetapkan terlihatnya hilal, Indonesia saat ini menggunakan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Berdasarkan kesepakatan tersebut, hilal dianggap sah jika memenuhi syarat tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat sebagai indikator kemungkinan hilal bisa terlihat.
Setelah semua laporan terkumpul, data tersebut harus diverifikasi ulang oleh para ahli astronomi, ulama, dan perwakilan organisasi masyarakat Islam (ormas). Proses diskusi dalam sidang isbat bertujuan agar keputusan yang diumumkan benar-benar akurat secara ilmiah serta sesuai dengan kaidah syariat yang berlaku.
Kehati-hatian dalam proses Sidang Isbat adalah bentuk tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kekhusyukan ibadah masyarakat. Dengan prosedur yang teliti, hasil yang diumumkan diharapkan dapat menjadi pedoman bersama yang mempersatukan umat muslim di Indonesia dalam merayakan Idulfitri. (Talitha Islamey)
Baca Juga :
Kapan Lebaran 2026? Bosscha Ungkap Posisi Hilal pada 19 Maret 2026Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)





