JAKARTA, KOMPAS.TV - Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah tidak hanya menjadi momen kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga titik awal untuk menjaga nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammad Cholil Nafis mengajak umat Islam untuk mempertahankan semangat Ramadan, mulai dari kebersamaan, kesederhanaan, hingga kepedulian sosial.
Menurut Cholil Nafis, suasana Ramadan yang penuh kekhusyukan dan keharmonisan perlu terus dirawat, tidak berhenti saat bulan suci berakhir.
Baca Juga: Hasil Sidang Isbat, Menag: Idulfitri 1 Syawal 1447 H Jatuh Pada Sabtu 21 Maret 2026
“Dalam waktu singkat ini mari kita pelihara kebersamaan kita selama di bulan Ramadan yang kondusif dengan ibadah dan kekhusukan kita dan kita pelihara di 11 bulan berikutnya,” ujarnya.
Ramadan menghadirkan suasana sosial yang lebih hangat dan harmonis.
Ibadah berjamaah, kebersamaan saat berbuka, hingga meningkatnya kepedulian terhadap sesama menjadi ciri khas yang dirasakan umat.
Cholil menekankan, nilai kebersamaan tersebut harus menjadi fondasi kehidupan setelah Idulfitri.
Dengan menjaga hubungan yang baik, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih damai dan saling mendukung.
Selain kebersamaan, Ramadan juga mengajarkan pengendalian diri, terutama dalam hal konsumsi.
Umat dilatih untuk tidak berlebihan, bahkan terhadap hal-hal yang sebenarnya diperbolehkan.
“Bagaimana kita ini melatih diri, bagaimana kita tidak berlebihan mengkonsumsi. Yang halal pun kita tidak makan, apalagi yang haram,” kata Cholil.
Baca Juga: Hasil Sidang Isbat Lebaran 2026: 1 Syawal 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- pesan mui idulfitri 2026
- makna idulfitri 1447 h
- cholil nafis lebaran
- hidup sederhana setelah ramadan
- zakat dan sedekah lebaran
- kebersamaan idulfitri





