Pantau - Anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama RI Cecep Nurwendaya menyatakan ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia belum memenuhi kriteria MABIMS menjelang penetapan awal Syawal 1447 Hijriah.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam seminar menjelang Sidang Isbat yang digelar di Kantor Kementerian Agama, Jakarta.
Berdasarkan paparan, ketinggian hilal di Indonesia berada pada rentang 0⁰ 54' 27" (0,91⁰) hingga 3⁰ 07' 52" (3,13⁰).
Sementara itu, elongasi hilal tercatat berada pada rentang 4⁰ 32' 40" (4,54⁰) hingga 6⁰ 06' 11" (6,10⁰).
Cecep mengungkapkan, "Kalau kurva tadi digabungkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak memenuhi kriteria awal bulan kamariah MABIMS."
Kriteria MABIMS Belum TerpenuhiKriteria MABIMS menetapkan awal bulan hijriah jika tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Cecep menegaskan, "Kesimpulannya, seluruh ibu kota provinsi di NKRI dan Sabang tidak memenuhi kriteria MABIMS terkait awal bulan Syawal 1447 Hijriah."
Ia menjelaskan bahwa kedua syarat tersebut harus terpenuhi secara bersamaan untuk menentukan awal bulan.
Ketinggian hilal dipengaruhi oleh cahaya senja di ufuk barat setelah matahari terbenam.
Semakin rendah posisi hilal, maka visibilitasnya semakin sulit karena tertutup cahaya senja.
Sebaliknya, posisi hilal yang lebih tinggi akan mengurangi pengaruh cahaya senja sehingga lebih mudah diamati.
Menunggu Hasil Rukyatul HilalBerdasarkan perhitungan hisab astronomi, 1 Syawal 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Namun, hasil tersebut masih harus dikonfirmasi melalui rukyatul hilal atau pengamatan langsung bulan.
Pengamatan hilal dilakukan di 117 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia.
Hasil rukyat tersebut selanjutnya akan dibahas dalam sidang isbat untuk menetapkan awal Syawal secara resmi.
Elongasi hilal juga menjadi faktor penting karena menentukan ketebalan atau visibilitas bulan sabit.
Jika elongasi telah melebihi 6,4 derajat, maka hilal berpotensi terlihat sesuai kriteria visibilitas MABIMS.




