Idul Fitri 1447 H kembali diramaikan dengan tradisi mudik. Menurut Kementerian Perhubungan, jumlah pemudik tahun ini secara nasional diperkirakan mencapai 143,9 juta orang. Artinya, sekitar separuh penduduk Indonesia akan melakukan perjalanan dalam waktu yang relatif bersamaan.
Jasa Marga mencatat, selama arus mudik dari 11 hingga 18 Maret 2026, sudah ada 523.000 kendaraan yang melintas di Gerbang Tol Cikatama, dari arah Jakarta menuju ke arah Jawa Tengah. Angka itu cukup tinggi karena 2 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu.
Selain merayakan Idul Fitri bersama keluarga, wisata menjadi salah satu tujuan pemudik pulang ke kampung halaman. Momen Lebaran menjadi kesempatan terbaik bisa berkumpul dan jalan-jalan bersama keluarga. Seperti sudah menjadi tradisi, berwisata menjadi salah satu agenda yang tak boleh terlewatkan selama libur Lebaran.
Apalagi libur Lebaran (Idul Fitri 1447 H) yang ditetapkan selama lima hari berturut-turut, mulai 20 hingga 24 Maret, bertambah panjang dengan kebijakan pemerintah menerapkan work from anywhere (WFA) untuk aparatur sipil negara dan swasta pada 16-17 Maret (arus mudik) dan 25-27 Maret 2026 (arus balik). Dengan demikian ada waktu sekitar dua minggu libur dan WFA.
Meskipun ada kewajiban tetap menjalankan pekerjaan, waktu libur tetap panjang sehingga masih ada kesempatan untuk berwisata. Hal ini tertangkap dari hasil jajak pendapat Litbang Kompas yang diselenggarakan pada 6-10 Maret 2026, di mana enam dari sepuluh responden menyatakan akan berwisata pada libur Lebaran tahun ini.
Potret pemudik yang lebih banyak memilih menggunakan kendaraan pribadi baik mobil maupun motor, antara lain, bertujuan untuk memudahkan mobilitas ketika di kampung halaman, termasuk untuk berekreasi. Menurut survei Kemenhub, mayoritas pemudik sebesar 52,9 persen akan mengendarai mobil dan 16,7 persen akan mengendarai motor.
Tujuan wisata pun tak harus jauh-jauh. Rekreasi bersama keluarga dan healing sejenak memulihkan kepenatan dari rutinitas di perantauan bisa direalisasikan dengan mengunjungi desa wisata terdekat.
Perkembangan desa wisata yang semakin masif menjadi alternatif wisata lokal yang menarik bagi pemudik. Desa wisata adalah sebuah kawasan atau lokasi di daerah perdesaan yang dikembangkan dan dikelola secara khusus untuk tujuan pariwisata.
Desa wisata menawarkan pengalaman otentik, mulai dari budaya, kuliner, hingga lanskap alam menjadi alternatif menarik di tengah kejenuhan terhadap destinasi pariwisata massal.
Dalam konteks Lebaran, desa wisata memiliki sejumlah keunggulan. Kedekatan geografis dengan kampung halaman membuatnya mudah dijangkau tanpa harus melakukan perjalanan jauh atau biaya mahal. Selain itu, suasana desa yang relatif lebih tenang dan alami menjadi daya tarik tersendiri setelah aktivitas silaturahmi yang padat.
Desa wisata juga menjadi destinasi yang paling sejalan dengan nilai, kultur, dan momen Lebaran. Momentum Lebaran menjadi puncak daya tarik desa wisata untuk mengoptimalkan potensinya.
Pemudik yang pulang kampung secara alami menjadi wisatawan lokal yang mengeksplorasi desa di sekitar kampung halaman. Dampaknya volume wisatawan lokal akan meningkat.
Desa wisata yang menawarkan ruang terbuka yang luas sangat cocok untuk rekreasi bersama keluarga besar. Disamping itu, desa wisata berbasis budaya memiliki nilai tambah di momen Lebaran, yaitu bisa menjadi titik silaturahmi atau halalbihalal dengan warga desa lainnya.
Seiring berjalannya waktu, desa wisata tak lagi menjadi destinasi alternatif, tetapi menjadi destinasi favorit bagi pemudik. Fenomena ini juga terpotret dari jajak pendapat Litbang Kompas yang menunjukkan suara terbanyak responden sebanyak 27,6 persen akan berwisata di kota tujuan mudik dan 20,3 persen menyebut akan berwisata di kota domisili.
Selain dampak sosial, dampak ekonomi dari peningkatan kunjungan juga cukup signifikan. Perputaran uang selama periode Lebaran tidak hanya terpusat di kota-kota besar, tetapi juga mulai menyebar ke desa.
Konsep desa wisata yang menggandeng dan memberdayakan pelaku usaha lokal, seperti homestay, warung makan, pemandu wisata, hingga perajin, akan semakin dirasakan langsung manfaatnya. Dalam banyak kasus, desa wisata bahkan mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi arus urbanisasi.
Di samping itu, multiplier effect (efek berganda) dari aktivitas pariwisata desa juga terlihat pada sektor lain. Pertanian, misalnya, mendapat nilai tambah melalui agrowisata.
Produk kerajinan lokal menemukan pasar baru. Bahkan, tradisi dan budaya yang sebelumnya terpinggirkan justru mendapatkan ruang untuk dilestarikan karena menjadi bagian dari atraksi wisata.
Oleh karena itu, desa wisata semakin berkembang. Dari ratusan terus bertambah menjadi ribuan di seluruh Indonesia. Pandemi Covid-19 tahun 2020 menjadi waktu akselerasi bagi desa wisata yang mulai berkembang.
Di tengah dunia pariwisata yang lumpuh, desa wisata justru bisa bertahan karena lokasinya yang terbuka, berbasis alam, dan interaksi terbatas. Hingga kemudian terjadi pergeseran dari wisata alternatif menjadi arus utama.
Pemerintah kemudian mendorong besar-besaran melalui program Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), yang pertama diselenggarakan tahun 2021. Dukungan pemerintah melalui ajang ini membuat desa wisata semakin tumbuh dan kompetitif.
Dari jumlah peserta ADWI, tercatat sebanyak 1.831 desa wisata (2021), 3.419 (2022), 4.573 (2023), dan 6.016 (2024). Bertambahnya jumlah peserta mengindikasikan jumlah desa wisata semakin banyak.
Dilihat dari peta sebarannya di laman Jadesta.kemenpar.go.id, data terakhir menunjukkan terdapat 6.201 desa wisata. Dari laman Jadesta (Jejaring Desa Wisata) yang merupakan pusat data dari Kementerian Pariwisata, desa wisata paling banyak terdapat di Provinsi Jawa Timur sebanyak 622 desa. Diikuti Sumatera Barat (566 desa), kemudian Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan (538 desa).
Jika dilihat berdasarkan kategori, mayoritas (78,21 persen) atau 4.850 desa wisata masih masuk kategori rintisan, yaitu desa wisata yang baru mulai beroperasi dan masih dalam lingkup yang terbatas.
Sebanyak 996 (16,06 persen) masuk kategori berkembang, yaitu desa wisata yang telah stabil dan memiliki kepengurusan yang jelas. Sementara yang ada di kategori maju sebanyak 320 desa (5,16 persen) dan mandiri sebanyak 35 desa (0,57 persen).
Dikategorikan maju jika desa wisata memiliki peran aktif terhadap perkembangan ekonomi warga desa dan sekitarnya. Kategori mandiri ialah klasifikasi ketika desa wisata sudah memiliki pengunjung dari lingkup yang lebih luas.
Meski masih banyak di posisi desa wisata rintisan, tak sedikit desa wisata di Indonesia yang memperoleh penghargaan internasional.
Di antaranya Desa Wisata Nglanggeran, Yogyakarta, yang mendapat penghargaan dari Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO) sebagai Best Tourism Villages 2021; Desa Wisata Penglipuran, Bali, sebagai Best Tourism Villages 2023; kemudian Desa Wisata Jatiluwih, Bali, dan Desa Wisata Wukirsari, Yogyakarta, sebagai Best Tourism Villages 2024; dan sejumlah penghargaan internasional untuk beberapa desa wisata lainnya.
Pencapaian tersebut menunjukkan geliat desa wisata Indonesia yang telah berevolusi dari sekadar program pemberdayaan desa menjadi ujung tombak pariwisata berkelanjutan kelas dunia. Dalam lima tahun terakhir terjadi transformasi struktural yang tidak dapat diabaikan.
Meski demikian, desa wisata masih menghadapi berbagai tantangan untuk mengoptimalkan potensinya. Pengembangan tidak lagi semata mengejar kuantitas, melainkan juga peningkatan kualitas agar berkelanjutan. Lebaran menjadi momentum strategis dan ruang pembelajaran penting untuk menguji kesiapan sekaligus memperkuat tata kelola desa wisata (LITBANG KOMPAS).
Serial Artikel
Desa Wisata ”Outlook” 2025
Desa wisata pada 2025 harus memiliki target meningkatkan kunjungan, juga inovasi dan kreativitas yang ditumbuhkan melalui kerja sama berbagai pemangku kepentingan.





