Habiskan Makananmu, Rayakan Lebaran Lebih Bijak

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Di balik hangatnya silaturahmi dan tradisi jamuan saat Idul Fitri, ada persoalan yang kerap terlewat, yakni makanan yang tersisa dan akhirnya terbuang. Idul fitri secara harfiah dimaknai sebagai momen kembali kepada “fitrah” suci, sebaiknya juga diiringi dengan semangat menjaga lingkungan, setidaknya dengan menghabiskan semua makanan pada hari raya.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Meti Ekayani mengatakan, melihat kondisi ini sebagai cerminan kebiasaan konsumsi yang belum terkelola dengan baik. Niat untuk memuliakan tamu dengan hidangan berlimpah, di satu sisi, justru berujung pada pemborosan.

"Ada dua penyebab utama, yaitu budaya konsumsi masyarakat dan sistem pengelolaan sampah yang belum efektif,” kata Meti dalam keterangannya, Jumat (20/3/2026).

Dalam budaya masyarakat Timur, termasuk Indonesia, menyediakan makanan berlebih kerap dianggap sebagai bentuk penghormatan. Akibatnya, banyak keluarga menyiapkan hidangan jauh melebihi kebutuhan.

Sampah yang timbul dalam satu harinya dikalikan 0,5 kilogram.

Kondisi ini diperparah oleh kurangnya perencanaan konsumsi di rumah tangga. Banyak keluarga memasak atau membeli makanan tanpa memperhitungkan jumlah anggota keluarga yang benar-benar makan di rumah.

“Kita cenderung tidak mau dianggap kurang sopan kalau makanan tidak cukup, jadi lebih baik dilebihkan. Padahal sering kali tidak habis,” ucapnya.

Baca JugaBerbagi Makanan, Tekan Potensi Bencana

Selama Ramadan hingga Idul Fitri, fenomena ini semakin terasa. Saat berbuka puasa, masyarakat kerap membeli berbagai jenis makanan karena tergoda, tetapi tidak semuanya dikonsumsi.

Perubahan aktivitas selama Ramadan juga turut memicu pemborosan. Misalnya, makanan sudah disiapkan di rumah, tetapi sebagian anggota keluarga justru berbuka di luar. Akhirnya makanan yang sudah disiapkan menjadi berlebih.

Masalah ini tidak hanya soal makanan terbuang, tetapi juga berdampak pada meningkatnya volume sampah. Ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih belum mendorong pengurangan dari sumbernya.

"Sistemnya masih kumpul-angkut-buang. Berapa pun sampah yang dihasilkan, iurannya sama, jadi tidak ada insentif untuk mengurangi,” ujarnya.

Di sejumlah negara, pengelolaan sampah dilakukan dengan skema pembayaran berdasarkan volume sampah. Cara ini dinilai lebih baik untuk mendorong masyarakat untuk mengurangi sampah sejak dari rumah.

Baca JugaSampah Makanan Cemari Saluran Air Jakarta

Selain itu, kebiasaan memilah sampah juga masih rendah. Sampah makanan yang tercampur dengan sampah anorganik membuat material lain tidak bisa dimanfaatkan kembali.

“Kalau tercampur, yang tadinya bisa didaur ulang jadi tidak bisa digunakan lagi,” kata Meti.

Ia mendorong masyarakat mulai merencanakan konsumsi dengan lebih baik dan membiasakan memilah sampah. Limbah makanan pun masih bisa diolah, misalnya menjadi kompos atau pakan melalui budi daya maggot.

“Kalau sampah makanan tidak bisa sepenuhnya dicegah, setidaknya bisa diolah. Dengan begitu, kita tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga menciptakan manfaat baru dari limbah makanan,” ujarnya.

Baca JugaSampah Makanan Indonesia Mencapai Rp 330 Triliun
Mudik Minim Sampah

Ancaman sampah makanan ini tidak main-main, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memperkirakan sekitar 71.960 ton sampah berpotensi dihasilkan selama masa mudik dan libur Lebaran 2026. Ini sejalan dengan tingginya mobilitas masyarakat yang diprediksi mencapai 143,91 juta orang berdasarkan survei Kementerian Perhubungan.

"Artinya maka sampah yang timbul dalam satu harinya bisa dikalikan 0,5 kilogram. Kami sudah memerintahkan, meminta kepada wali kota dan bupati sebagai penanggung jawab utama sampah untuk segera menyikapi ini," kata Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq dalam sebuah kesempatan.

Lonjakan aktivitas di berbagai titik transportasi seperti terminal, stasiun, pelabuhan, hingga tempat istirahat berpotensi meningkatkan volume sampah, terutama sampah sekali pakai. Karena itu, pemerintah mendorong gerakan Mudik Minim Sampah agar perjalanan tetap nyaman sekaligus ramah lingkungan.

Baca JugaSampah Dapur Jadi Kompos, Siasat Hotel Mengurangi Sampah Makanan

KLH mendorong pendekatan pengelolaan sampah dari sumbernya, terutama di tingkat rumah tangga dan komunitas. Salah satu metode yang diperkenalkan kepada masyarakat adalah lodong sisa dapur (Losida). Metode mengolah sampah organik rumah tangga ini dilakukan dengan cara menanam pipa paralon berlubang sepanjang 60-100 cm di tanah, dekat tanaman. Sampah organik dimasukkan ke dalam pipa, diurai alami menjadi pupuk kompos yang menyuburkan tanah sekitar, efektif mengurangi sampah organik ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Metode Losida dinilai efektif karena sederhana dan mudah diterapkan oleh masyarakat. Sistem ini memanfaatkan pipa atau lodong yang ditanam di tanah untuk menampung sampah dapur, sehingga proses penguraian dapat terjadi secara alami sekaligus membantu meningkatkan kualitas tanah di sekitarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penyiram Air Keras Andrie Yunus Berinisial BHC dan BHW Orang yang Sama
• 16 jam lalukompas.com
thumb
20 Inspirasi Ucapan Lebaran Idulfitri 2026 untuk Keluarga dan Kerabat
• 5 jam lalutheasianparent.com
thumb
Bajaj Maxride Gelar Program Apresiasi Driver Sejahtera di Makassar, Perkuat Motivasi dan Kualitas Layanan
• 1 jam laluharianfajar
thumb
96 Personel Satpol PP Jakbar Disiagakan Amankan Malam Takbiran di Kota Tua
• 3 jam lalutvrinews.com
thumb
Harga Emas Spot Anjlok Tujuh Sesi Beruntun Jelang Lebaran 2026, Cek Biang Keroknya
• 9 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.