Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas di pasar spot mengalami penurunan untuk sesi ketujuh berturut-turut.
Dilansir dari Bloomberg Jumat (20/3/2026), harga emas spot turun 3,7% menjadi US$4.641,46 per ons pada Kamis (19/3/2026) pukul 15.37 di New York.
Bloomberg melaporkan harga emas sempat mengalami koreksi hingga 6,6% menjelang Lebaran 2026 pada sesi Kamis (19/3/2026). Tren penurunan ini menjadi yang terpanjang sejak 2023.
Koreksi harga emas terjadi di tengah pecahnya perang Iran yang memicu harga minyak mentah dan gas lebih tinggi. Kondisi itu meningkatkan risiko inflasi dan membuat kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed dan bank sentral lainnya makin kecil.
“Ini adalah cerita tentang suku bunga dan minyak,” jelas Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek.
Melek menjelaskan bahwa pelaku pasar khawatir akan terjadi perlambatan pertumbuhan dan inflasi. Hal itu seiring dengan The Fed dan bank sentral lain yang memperketat kebijakan moneter.
Baca Juga
- Proyeksi Harga Emas Setahun, Berpeluang Capai US$6.250 per Ons
- Update Harga Emas Antam Hari Ini Kamis (19/3/2026) di Gerai Resmi, Buyback Turun -Rp83.000
- Harga Emas Antam, UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini Kamis, 19 Maret 2026
Harga minyak AS tetap berada pada level tinggi setelah sempat turun dari US$100 per barel, sementara pasar saham dan obligasi sedikit pulih setelah Israel menyatakan membantu AS membuka Selat Hormuz. AS juga mengizinkan pengiriman dan penjualan sebagian minyak mentah Rusia.
Saham global dan obligasi sebelumnya melemah pada Kamis (19/10/2026) di tengah meningkatnya konflik Iran dan lonjakan harga energi. Melek menilai kondisi ini memaksa sebagian investor menjual kepemilikan mereka di logam mulia untuk mendapatkan likuiditas.
Saham perusahaan tambang emas merosot, sementara VanEck Gold Miners ETF—ETF terbesar di dunia yang melacak perusahaan pertambangan emas—menghapus seluruh kenaikan tahun ini.
Di sisi lain, Kepala Global Emas dan Logam State Street Investment Management Aakash Doshi menjelaskan bahwa sejumlah investor menarik dana dari logam mulia. Sebagai gantinya, mereka mengalihkan investasi ke instrumen yang berpotensi diuntungkan oleh kenaikan harga energi.





