Amerika Serikat (AS) sedang mempertimbangkan untuk mencabut sanksi minyak Iran. Hal ini dilakukan untuk menurunkan harga minyak yang sudah melonjak tinggi.
Dikutip dari Bloomberg, Jumat (20/3), rencana ini diutarakan oleh Menteri Keuangan AS, Scott Bessent. Ia ingin menekan lonjakan harga energi akibat perang di kawasan Teluk.
“Dalam beberapa hari ke depan, kami mungkin akan mencabut sanksi terhadap minyak Iran yang sedang berada di laut,” ujar Bessent.
Saat ini, AS juga sudah mengizinkan minyak Iran melintasi Selat Hormuz. Diperkirakan terdapat sekitar 140 juta barel minyak Iran yang berada di kapal tanker untuk bisa dijual.
“Tergantung perhitungan, itu setara dengan pasokan untuk 10 hari hingga dua minggu,” kata Bessent.
Rencana pencabutan sanksi ini menjadi perubahan besar karena AS selama bertahun-tahun menggunakan sanksi energi untuk menekan Iran agar bernegosiasi terkait program nuklirnya. AS sebelumnya juga sementara melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia.
Bessent juga menjelaskan jika selama ini sebagian besar minyak Iran dikirim ke China, ke depan distribusinya bisa meluas ke Malaysia, Singapura, Indonesia, Jepang, dan India.
Dengan begitu, Asia yang selama ini sangat bergantung pada pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia bisa mendapat harga minyak yang sudah ditekan.
“Kami akan menggunakan barel minyak Iran ini untuk menekan harga selama 10 hingga 14 hari ke depan sambil melanjutkan kampanye ini,” ujarnya
Sejak perang terjadi, kilang-kilang di Asia memang sudah mulai mencari pasokan alternatif dari AS dan negara lain.
Bessent menuturkan jika AS benar-benar mengambil tindakan terhadap minyak Iran yang berada di kapal tanker, maka akan tersedia sekitar 260 juta barel kelebihan pasokan energi global termasuk yang berasal dari pelepasan cadangan darurat oleh sejumlah negara.





