Pada hakikatnya, manusia memiliki berbagai fase dalam kehidupannya. Hidup manusia selalu dinamis; ia mengalami berbagai fase yang membentuknya menjadi jati dirinya yang sebenarnya seiring berjalannya waktu.
Ada fase ketika hidup berada di titik yang membuatnya bahagia dan berharga. Pada masa ini, hidup terasa sebagai anugerah yang tak ternilai dari Yang Maha Kuasa. Ia mengalami berbagi hal baik: karier yang stabil, pasangan yang tepat, pencapaian akademik yang membanggakan, ataupun target diri yang berhasil diraih.
Namun di sisi lain, manusia juga mengalami titik terendah dalam hidupnya—sebuah masa hidup yang terasa berat, seolah membawa “malapetaka”. Pada fase ini, ia merasa bahwa hidup tidak adil, memandang hidup sebagai sebuah kesialan, bahkan merasa bahwa hidup adalah sebuah neraka.
Aku dan kamu, tentunya, telah melalui berbagai fase kehidupan yang penuh warna. Banyak hal yang telah kita lalui selama menghembuskan napas di dunia. Namun, tidak semua fase kehidupan berjalan sesuai dengan apa yang menjadi harapan dan doa kita.
Terkadang, atau mungkin sering kali, ada pengalaman tertentu yang meninggalkan kesan pahit mendalam dibandingkan yang lainnya. Bentuknya beragam: kegagalan, luka hati yang sulit disembuhkan, kehilangan orang yang dicintai, hingga penyesalan yang terasa tak berujung. Pada saat itu, hidup seolah terasa menyiksa, sebuah fase yang tidak ingin kita ulang kembali, bahkan ingin kita hapus secara permanen dari ingatan.
Ada Titik-Titik di Ujung Doa-DoaSebuah doa singkat yang aku sertakan pada akhir 2020 hingga menjelang tahun 2021. Sebuah harapan baik yang selalu disertakan dalam doa di setiap malam sebelum beristirahat. Sebuah kalimat yang tidak pernah absen untuk diucapkan dalam hati ketika berdoa Novena Tiga Salam Maria.
Dalam doa tersebut, terselip harapan akan adanya sebuah timbal balik: aku berusaha memperbaiki diri dan menjalani hidup dengan sungguh, sementara Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri—membukakan jalan dan menuntunku pada pemenuhan harapan.
Namun pada akhirnya, skema yang kubayangkan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sebuah realita pahit yang harus ditelan mentah-mentah kala itu, meninggalkan sendu hati yang begitu dalam, hingga terasa menusuk ke dalam sukma.
Kesedihan dan kemarahan seolah telah merasuk sepenuhnya ke dalam diri, hingga pada satu titik, terlintas dalam pikiran bahwa doa, usaha, dan niat baik yang selama ini kupanjatkan hanyalah sebuah kesia-siaan. Dalam hening, aku bertanya kepada-Nya, “Aku sudah berusaha sekuat tenaga, berdoa tak putus, berharap tak henti, tetapi mengapa hasilnya demikian?”—sebuah pertanyaan yang muncul beberapa waktu setelah kenyataan pahit itu terjadi.
Doa: Ketulusan Hati yang NyataPertanyaan tersebut tidak serta-merta mendapat jawabnya. Seolah Tuhan ingin menunjukkan bahwa ada hasil dan jalan yang setimpal dengan seluruh usaha, doa, serta niat baik yang dipanjatkan.
Meskipun pada awalnya sulit menerima kenyataan, perlahan aku belajar bahwa setiap usaha dan harapan memiliki waktunya masing-masing. Aku mulai memahami bahwa hidup adalah anugerah yang telah direncanakan sedemikian baiknya oleh Tuhan. Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai dengan kehendak manusia, tetapi ia akan selalu berjalan sesuai dengan kehendak-Nya.
Layaknya Ia yang menghendaki ciptaan-Nya hidup dalam kebaikan dan kebahagiaan, kita pun demikian. Karena itu, kita selalu berharap pada hal-hal baik, melalui doa-doa yang kita panjatkan terus-menerus: dari detik menuju menit, dari pagi menuju malam.
Sal Priadi dan Definisi “Harapan pada Doa”Setiap manusia memiliki masanya masing-masing. Begitu juga dengan setiap usaha dan harapan dalam diri manusia, akan ada masanya di mana semuanya membuahkan hasil yang bahagia.
Sal Priadi, lewat lagunya "Ada Titik-Titik di Ujung Doa-Doa", mengingatkanku akan seni berdoa yang sebenarnya. Bahwa doa, adalah ketulusan hati yang nyata, meskipun hasilnya belum selalu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh diri.
Pada akhirnya, doa tidak selalu bermuara pada pengertian sederhana tentang “meminta lalu menerima”. Justru, ia memiliki seninya sendiri: mengajarkan manusia apa artinya menerima, memahami, bahkan merelakan.
Ada titik-titik putus yang tidak langsung tersambung menjadi jawaban utuh, tetapi justru mengajarkan kita untuk tetap setia dalam percaya di tengah jeda yang ada. Sebab, Tuhan tidak pernah diam. Ia sedang merangkai sesuatu yang indah—perlahan, tapi pasti—hingga doa akan menemukan ujungnya.





