Korlantas Polri mencatat adanya peningkatan signifikan pada volume kendaraan di puncak arus mudik tahun ini. Berdasarkan data yang dihimpun hingga Kamis (19/3) pagi, jumlah kendaraan yang melintas mencapai angka 270 ribu unit.
Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho mengungkapkan bahwa angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode mudik tahun 2025. Adapun puncak arus mudik tahun ini terjadi pada Rabu (18/3) malam.
"Memang kalau dari data, puncak arus tanggal 18 sampai tadi pagi itu adalah 270 ribu. Kalau dibandingkan tahun lalu, itu ada peningkatan 4,26%. Tahun lalu itu 258 (ribu),” papar Agus di KM 29, Cikarang Utara, Kamis (19/3).
Agus menjelaskan kondisi lalu lintas sendiri pada hari ini sempat ada peningkatan volume kendaraan pada pukul 10.00 WIB hingga 11.00 WIB. Secara umum kondisi lalu lintas hingga saat ini masih terkendali.
"Adapun kondisi daripada arus lalu lintas, khususnya di jalan tol, tentunya juga kami melihat dampaknya ke arteri ya. Sampai saat ini, jam ini, cukup terkendali," sebutnya.
Ia juga menjelaskan dinamika arus mudik di Jawa Tengah yang sempat mengalami kepadatan di Exit Krapyak yang menyebabkan kepadatan di Tol ABC Semarang.
“Dan di Jawa Tengah juga ada langkah yang dilakukan oleh Kapolda dan Dirlantas melakukan one way lokal di wilayah jalan tol. Masih terkendali,” ujarnya.
“Tentunya akibat arus yang cukup tinggi dari Jakarta, termasuk juga dari Jawa Barat yang menuju ke Jawa Tengah, jadi ujung daripada Exit Krapyak itu cukup padat, sehingga Tol ABC cukup padat, sehingga dilakukan one way lokal di wilayah Jawa Tengah,” tambahnya.
Saat 'Power Rangers' Merah Mudik ke Tulang Bawang, Lampung
Mudik ke kampung halaman selalu menjadi momen yang paling dinantikan ketika libur Lebaran tiba. Selain bisa bertemu sanak saudara, perjalanan mudik juga kerap terasa sangat berkesan karena hanya terjadi setahun sekali.
Itulah yang dilakukan seorang pria yang tinggal di Citra Raya, Tangerang, Aji Pangestu. Demi mengejar keseruan dan menghibur para pemudik lain, dia nekat berangkat mudik ke Kabupaten Tulang Bawang, Lampung mengenakan kostum Power Rangers merah.
Kostum yang ia kenakan lengkap dengan topengnya ditambah sebuah kaca mata hitam. Sesekali ia berjoget untuk menghibur pemudik lainnya sambil menunggu antrean naik ke kapal di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon, Banten.
Aji berangkat mudik dengan menggunakan sepeda motor. Ia mengaku tak malu sedikitpun meski harus mengenakan kostum dari serial televisi pahlawan super asal Amerika Serikat tersebut lantaran sudah kuat mental. Terlebih, ia sudah memiliki niat, hingga rela merogoh kocek untuk membeli kostum tersebut di marketplace.
"Dari Tangerang, Citra Raya, mau ke Tulang Bawang. Buat seru-seruan aja sih, buat seru-seruan. Iya (pakai kostum) dari Citra Raya sampai sini," kata Aji ditemui di Pelabuhan Ciwandan, Kamis (19/3) subuh.
Diakui Aji, dirinya akan terus mengenakan kostum Power Rangers itu selama perjalanan mudiknya hingga nanti tiba di kediamannya di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung.
Menurutnya, mengenakan kostum saat mudik dirasa bakal memberikan kesan berbeda dengan momen mudik yang sudah dilakukannya selama beberapa tahun terakhir.
Selain itu, kata Aji, dirinya ingin mencoba memberikan hiburan bagi para pemudik lain selama perjalanannya yang harus menempuh ratusan kilometer dari mulai daerah Tangerang ke Kabupaten Tulang Bawang, Lampung.
Gapura Cirebon yang Compang-camping Itu Tetap Jadi Magnet bagi Pemudik
Meski sudah berkarat bahkan hurufnya hilang, gapura "Selamat datang di Kabupaten Cirebon" menjadi magnet bagi pemudik.
Gapura itu terletak di Kecamatan Susukan, titik perbatasan antara Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon.
Di tengah deru mesin motor yang padat dan debu jalanan, puluhan pemudik tampak menepikan kendaraan untuk berswafoto (selfie).
Kalimat sederhana “Udah sampai Cirebon” yang dikirim lewat pesan singkat atau unggahan media sosial menjadi momen yang paling ditunggu keluarga di kampung halaman.
Gapura ini bukan sekadar latar foto, melainkan bukti fisik bahwa perjalanan panjang dari tanah rantau telah melewati satu babak krusial.
Andri (32), pemudik asal Jakarta Barat tujuan Pemalang, tampak semringah setelah berhasil mengabadikan wajah lelah namun bahagianya dengan latar gerbang ikonik tersebut.
“Alhamdulillah lancar. Tadi sengaja berhenti buat selfie di sini. Buat ngasih tahu keluarga kalau sudah sampai Cirebon. Jadi kenang-kenangan juga, memori perjalanan,” ujar Andri sambil menunjukkan layar ponselnya kepada kumparan, Kamis (19/3/2026).
Bagi pemudik pemula, gapura ini memiliki nilai magis tersendiri. Lukman (28), misalnya. Pemudik asal Cikarang yang menuju Tegal ini memboyong istrinya untuk pertama kali merasakan sensasi mudik motor setelah menikah pada Oktober lalu.
“Baru pertama kali mudik bareng istri, jadi harus ada fotonya. Karena ini tempat yang banyak dikunjungi orang saat mudik, kami ikut mampir. Kabari keluarga kalau sudah di Cirebon,” kata Lukman dengan raut bangga.
Kisah Pemudik Riau Rela Jalan Kaki ke Surabaya demi Temui Ibu yang Sakit
Langkah Arifin tampak tertunduk saat menyusuri jalur Pantura di wilayah Karawang, Jawa Barat. Tas sederhana yang menggantung di pundaknya terlihat berat, seolah sebanding dengan perjalanan panjang yang telah ia tempuh.
Pria asal Kepulauan Riau itu nekat berjalan kaki demi pulang ke Surabaya. Tujuannya hanya satu, yakni ingin segera bertemu ibunya yang sedang sakit.
Kisah Arifin diungkap oleh Kasi Humas Polres Karawang, Ipda Cep Wildan. Ia mengatakan, Arifin ditemukan oleh petugas yang berjaga di pos pengamanan dalam kondisi kelelahan di pinggir jalan.
"Petugas melihatnya dengan kondisi kelelahan di pinggir jalan," kata Wildan, Kamis (19/3).
Arifin memulai perjalanannya dari Riau, sempat singgah ke Medan, lalu melanjutkan ke Jakarta. Namun, setibanya di ibu kota, ia kehabisan uang.
"Ia sempat menumpang kendaraan hingga Bekasi. Setelah itu, Arifin tak punya pilihan selain melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki," katanya.
"Saudara kita ini rupanya tidak memiliki ongkos sama sekali. Ia sudah berjalan kaki cukup jauh dari Bekasi hingga memasuki wilayah Karawang," tutur Wildan.
Setelah mendengar cerita tersebut, petugas langsung memberikan bantuan. Arifin dibawa untuk beristirahat, kemudian diantarkan ke terminal bus. Ia juga difasilitasi tiket menuju Surabaya serta diberi uang saku untuk perjalanan.
"Kami sudah titipkan yang bersangkutan kepada kru PO Bus agar dipastikan sampai ke tujuan dengan aman. Ini adalah bentuk pelayanan prima dan sisi kemanusiaan Polri dalam Operasi Ketupat, agar semua masyarakat bisa merayakan Idul Fitri bersama keluarga," jelasnya.
Di tengah perjalanan sebelum naik bus rute Surabaya, Arifin tampak semringah. Ia merasa bersyukur karena akhirnya bisa melanjutkan perjalanan dengan lebih aman.
Cerita Ipda Kurniawan: Menembus One Way Tol Cipali demi Evakuasi Bayi Pemudik
Jarum jam menunjukkan pukul 03.00 WIB dini hari pada Selasa (17/3) lalu. Di tengah arus mudik yang mulai memadat di ruas Tol Cipali, sebuah mobil keluarga tiba-tiba terhenti, mesinnya mati, menyisakan kepanikan di pinggir Jalur A Tol Cipali KM 134 arah Cirebon.
Di dalam mobil tersebut, sepasang suami istri terduduk lemas bersama empat orang anak mereka. Kondisinya cukup memprihatinkan, ada dua balita, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, dan seorang bayi yang masih memejamkan mata dalam dekapan ibunya.
Petugas kepolisian sebenarnya sudah menawarkan bantuan evakuasi sejak dini hari. Namun, layaknya orang tua yang enggan merepotkan orang lain, keluarga ini sempat memilih bertahan di dalam mobil, berharap mesin bisa kembali menyala.
Ipda Kurniawan, Kaur Mintu Satlantas Polres Indramayu, yang saat itu memimpin personel Satgas Kamseltibcar Lantas, terus memantau kondisi mereka.
"Dari jam 3 subuh kami sudah menawarkan untuk dievakuasi, tapi keluarga belum mau," kenang Ipda Kurniawan saat menceritakan peristiwa tersebut kepada kumparan, Kamis (19/3).
Waktu terus bergulir hingga fajar menyingsing pukul 06.30 WIB. Kondisi di dalam kabin mulai tak bersahabat; udara pengap dan tangis bayi mulai pecah.
Di saat itulah, Ipda Kurniawan kembali membujuk sang Ibu agar anak-anak segera dibawa ke tempat yang lebih layak.
Hati Ipda Kurniawan terenyuh melihat gurat kelelahan pada wajah sang ibu yang menggendong bayinya.
Di sisi lain, sistem one way yang tengah diberlakukan membuat mobil derek dari arah Cilameri terjepit arus kendaraan yang sangat padat.
"Mobil mogok dari sekitar jam 3 malam karena sudah diberlakukan one way, akhirnya derek dari Cilameri tersendat. Kami kasihan melihat mereka menunggu terlalu lama, apalagi ada dua balita, satu bayi, dan anak-anak lainnya," kata Ipda Kurniawan dengan nada prihatin.
Melihat situasi yang tak kunjung membaik, Ipda Kurniawan mengambil keputusan taktis. Karena kendaraan evakuasi roda empat sulit menembus kepadatan di titik tersebut, ia dan anggotanya menggunakan sepeda motor dinas untuk menjemput satu per satu anggota keluarga.
"Mobilnya sudah tidak bisa jalan dan harus diderek, tapi kalau nunggu derek pasti lama sekali. Akhirnya kami putuskan evakuasi pakai motor karena mobil evakuasi lain juga sulit masuk karena sedang one way," jelasnya.
Pemandangan haru pun pecah di bahu jalan tol. Para petugas kepolisian dengan hati-hati membonceng anak-anak dan sang ibu menembus udara pagi Cipali.
Tak ada lagi sekat antara seragam dan warga; yang ada hanyalah misi menyelamatkan kenyamanan anak-anak mungil tersebut.





