Jakarta, CNBC Indonesia - Setiap Lebaran, hampir setiap keluarga di Indonesia selalu menyiapkan hidangan istimewa, yakni daging. Dari rendang Minang, opor Jawa, hingga sate Madura, daging selalu menjadi simbol kemeriahan hari raya. Tapi, pernahkah kita bertanya, mengapa daging menjadi begitu penting?
Ini terjadi karena sejak ratusan tahun lalu, daging sudah dianggap bahan mewah yang jarang dikonsumsi sehari-hari. Dalam catatan Snouck Hurgronje lewat memoar berjudul Aceh di Mata Kolonialis (1906), warga pada tahun 1900-an sudah menjadikan daging sebagai masakan di Hari Raya sebagai wujud perayaan istimewa hari raya.
"Daging, bahan mewah yang jarang dihidangkan, sudah sejak dahulu merupakan unsur mutlak untuk meriahnya perayaan dalam keluarga," ungkap Snouck.
Bahkan, banyak orang menilaikesuksesan seorang kepala keluarga dilihatdari apa yang dibawanya pulang untuk istri dan anak-anaknya. Salah satunya daging karena bisa menjadi simbol kemampuan ekonomi keluarga dan rasa kasih sayang.
Namun, tradisi ini juga menyoroti ketimpangan sosial. Anak-anak dan ibu dari keluarga miskin, terutama yang ayahnya bekerja jauh sebagai penanam lada di pantai Timur dan Barat, sering merasakan kesedihan karena tidak bisa menikmati daging sebagaimana tetangga mereka. Dalam kondisi seperti itu, solidaritas tetangga muncul dalam bentuk pemberian sepotong daging. Artinya ini menunjukkan makanan bukan sekadar kebutuhan, tapi juga simbol kebersamaan dan empati.
Selain sebagai simbol sosial, daging juga menjadi pusat ritual Lebaran selain berbagi hadiah, membeli baju baru dan ibadah salat Id. Dari sinilah tradisi masak daging saat Lebaran terus bertahan, menjadi kombinasi antara rasa syukur, kemewahan, dan kebersamaan keluarga.
Jadi, masak daging saat Lebaran bukan sekadar soal cita rasa atau tradisi kuliner. Dia adalah simbol ekonomi, kasih sayang, dan ikatan sosial yang telah melekat kuat dalam budaya Indonesia sejak dulu
(mfa/mfa) Add as a preferred
source on Google




