Mudik: Upaya Menjemput Kenangan di Tanah Kelahiran

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

“Mengapa mudik begitu istimewa kawan?”

Bagi seorang perantau, mudik ke kampung halaman—khususnya menjelang hari raya Idul Fitri—adalah momen emas dalam episode hidupnya. Mudik adalah sebuah pengalaman emosional yang teramat sayang jika harus dilewatkan. Dengan mudik ke kampung halaman, tentunya kita dapat bertemu pandang dengan orang tua, sanak saudara, hingga handai tolan dengan penuh sukacita.

Sejatinya, mudik bukan sekadar balik kampung. Justru mudik menjadi alarm untuk mengingatkan kembali asal-muasal kita. Misalnya, masih ingatkah di tanah mana kita memulai perjalanan hidup ini? Kok bisa kita rela meninggalkan kampung halaman yang begitu kita cintai? Maka jawaban atas pertanyaan filosofis itu, rasa-rasanya hanya dapat didedahkan manakala kita “melakoni” mudik.

Perjalanan mudik sungguh menggugah perasaan perihal pernak-pernik kenangan di masa lampau. Kita pun bersiap menjemput memori itu tatkala kita melangkahkan kaki ke kendaraan menuju kampung halaman. Saat di perjalanan, kita akan mendapati pemudik lain yang juga kebanyakan perantau. Nampak betul sikap antusias mereka; wajah riang gembira dan senyum hangat yang menyejukkan. Semuanya tidak sabar untuk segera tiba di kampung halaman.

Musim mudik ramai betul dengan lautan manusia. Seorang bapak menggendong anak kecil di tangan kanannya. Oleh-oleh di tangan kirinya. Di sampingnya, ada istrinya yang menyeret koper berisi pakaian dan segala macam keperluan bayi. Di belakangnya, ada nenek bersama cucunya bernyanyi santai melantunkan lagu Upin-Ipin.

Tampak pekerja hilir mudik mengangkat barang penumpang. Tak ketinggalan tukang ojol dan sopir taksi, sibuk menawarkan tumpangan. Sungguh sebuah pemandangan yang lazim dijumpai tatkala mendekati pelabuhan ataupun bandara.

Mudik adalah perjalanan kemanusiaan bagi perantau. Mudik mampu mengencangkan kembali ikatan tali kekeluargaan yang merenggang akibat defisitnya percakapan emosional via tatap muka. Lebih daripada itu, mudik adalah simbolisasi relasi sosial khas umat manusia.

Tanah Kelahiran: Kampung Kenangan

Di perjalanan, tatkala laju kendaraan pemudik semakin mendekati tanah kampung halaman, darah seolah mengalir begitu derasnya. Jantung berdegup kencang. Bayangan tentang perjumpaan dengan sanak keluarga pun semakin tidak terbendung. Tidak lama lagi akan berangkulan dengan mereka.

Lalu, saat tiba di rumah masa kecil, membuncahlah kebahagiaan itu. Orang tua berlinang air mata bahagia menyambut momen yang begitu mengharukan. Senyum anggota keluarga yang lain juga tidak henti-hentinya merekah. Dihidangkannya si pemudik—yang tak lain adalah anak tercintanya—beragam kue tradisional khas kampung. Berjejer dan saling berlomba untuk dicicipi. Lalu, terciumlah kembali bau tanah kampung yang begitu khas, baru saja disiram air hujan. Juga wangi semerbak bunga melati di teras rumah. i atas sana, terdengar kicauan burung kenari yang begitu merdu. Semuanya hadir menyambut.

Sungguh menyenangkan pulang ke kampung halaman. Bertemu pandang kembali dengan sosok istimewa di kehidupan ini. Dialah ibu kita. Beruntunglah bila ibu kita masih membersamai. Seorang manusia mulia yang dengan tegar telah mengandung, melahirkan, menyapih, mendidik, dan tak pernah putus untuk senantiasa mendoakan kesuksesan kita.

Lebih daripada itu, ibu lah yang telah mendedahkan prinsip dan nilai moral kehidupan. Namun apa daya, setelah dewasa dan pergi merantau ke kampung orang, kita sering kali terlampau sibuk dengan pekerjaan sehari-hari. Bahkan, sekadar memberi kabar melalui sambungan telepon, kita juga acapkali absen.

Kita bahkan dibuat heran sebab waktu berlalu begitu cepat. Padahal, rasanya baru kemarin sore kita pergi merantau. Tatkala kita memandang wajah orang tua—terutama ibu—rupanya semakin nampaklah perubahan fisik itu. Ada gurat yang tidak pernah bosan menghiasi wajahnya. Berbaris rapi di sana-sini. Persendiannya juga semakin melemah. Massa ototnya menurun. Jasmaninya tidak lagi sekuat dulu. Pun pendengaran dan penglihatannya semakin memudar digerus zaman.

Sekelebat kebanggaan dan penyesalan muncul di waktu yang sama. Bangga karena sudah menggapai cita-cita di perantauan. Tersebutlah gelar akademik sudah digapai. Pekerjaan yang layak sudah digenggaman. Kita pun sudah mampu mengirimkan “hasil” jerih payah kepada orang tua. Rutin walaupun belum bisa disebut banyak.

Di lain sisi, penyesalan juga muncul membelenggu. Rupanya orang tua semakin menua. Senyumnya masih sama, tetapi raut mukanya menampakkan sesuatu yang benar-benar berbeda. Selama ini, dia telah bertarung dengan kerinduan yang susah payah dia menangkan. Hadirnya teknologi seperti video call, baginya, belum mampu menyamai nikmatnya perjumpaan fisik secara langsung.

Mudik sekali lagi bukan hanya soal perjalanan pulang bagi perantau, melainkan juga perkara yang monumental. Mudik menjadi satu upaya mengunjungi kenangan yang telah lama ditinggalkan: kenangan bersama orang tua, segenap sanak saudara, dan orang-orang di kampung.

Semuanya terasa begitu bersahaja. Kenangan tentang jalan-jalan yang begitu familiar, juga tentang lorong kenangan lain yang sekian lama tercampakkan. Pula tentang Indonesia, tanah air yang akan selalu dirindukan. Sungguh benarlah penggalan lirik lagu buah karya Ibu Sud,

Mudik sungguh istimewa. Sebab bagi perantau, mudiklah yang dapat menjemput ragam kenangan itu kembali. Pada akhirnya, selamat mudik teruntuk saudara-saudara yang berkesempatan. Selamat menjemput kembali kenangan di tanah kelahiran. Kampung halaman kita masing-masing yang sama kita cintai dan banggakan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
7 Rekomendasi Cushion yang Bantu Kamu Tampil Flawless di Hari Lebaran
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Tinjau Pos Pengamanan Operasi Ketupat di Belopa, Bupati Luwu, Ingin Pastikan Pengamanan dan Layanan Pemudik Lancar
• 7 jam laluharianfajar
thumb
Tips Mudik Tenang: Panduan Lengkap Mengamankan Rumah Sebelum Pulang Kampung
• 2 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Rekaman Bocor: Mossad Menelepon Peringatan, Perwira Tinggi Iran Terkulai Memohon Ampun
• 4 jam laluerabaru.net
thumb
Warisan Emas Michael Bambang Hartono: Bawa Como 1907 dari Titik Nadir ke Ambang Liga Champions
• 10 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.