Ekonom Didik J Rachbini mengenang sosok pemilik Grup Djarum, Michael Bambang Hartono, sebagai sosok penting dalam perkembangan bisnis Djarum yang dimulai dari 1927 hingga hari ini. Didik mengatakan beberapa bulan sebelum Michael Bambang Hartono meninggal dunia, Universitas Paramadina mengundang Direktur Utama PT Djarum Victor Hartono untuk memberi kuliah umum.
Dalam kesempatan itu, Didik mengatakan Victor menceritakan kisah perjalanan panjang Djarum pada 1927 yang rupanya dimulai dengan bisnis mercon atau petasan untuk hari-hari besar.
"Saya sebagai rektor menilai bahwa pengalaman pelaku bisnis sekaliber Victor Hartono Victor Hartono penting untuk dibagikan kepada bagi generasi muda. Pemahaman tentang dunia usaha yang kompleks, suksesi, dan proses regenerasinya dalam bisnis keluarga patut menjadi pelajaran berharga bagi calon pemimpin masa depan. Menghadirkan sosok seperti Victor Hartono adalah langkah strategis untuk membagikan kisah nyata tentang keberlangsungan bisnis lintas generasi," kata Didik dalam keterangannya, dikutip Jumat (20/3).
Bisnis Djarum yang telah berdiri sejak 1927 menyerap banyak tenaga kerja lewat jaringan bisnis yang sangat luas. Didik mengatakan, serapan tenaga kerja Grup Djarum setidaknya mencapai 100 ribu hingga 120 ribu.
"Jaringan Grup Djarum juga meluas mulai dari distribusi ritel, warung, toko, agen rokok, pedagang kecil, dan lainnya," kata Didik.
Didik mengatakan, Grup Djarum kini dipimpin oleh generasi ke-9. Dalam kuliah umum di Universitas Paramadina, Didik mengatakan Victor Hartono mengungkap bisnis keluarga itu belasan kali jatuh bangun dengan pengalaman pahit yang dijadikan pelajaran penting untuk terus berubah dan berinovasi.
"Industri lama yang yang digeluti hilang berganti yang baru, industri saat ini belum tentu relevan dan bisa terus berjalan di masa mendatang. Kondisi politik dan gejolak internasional biasanya menjadi faktor yang menentukan jatuh dan bangun dunia usaha atau secara khusus keberlangsungan grup ini," tuturnya.
Victor mengatakan, Grup Djarum sejak awal mengalami banyak tantangan karena berbagai faktor. Seperti berhenti berdagang mercon karena faktor politik labil pada masa peralihan pendudukan Belanda ke Jepang dan masa kemerdekaan. Bisnis Djarum kembali hancur karena perubahan politik pada awal 1930-an dan 1940-an.
"Victor menjelaskan sejarah sang kakek, Oei Wie Gwan, yang merintis usaha pabrik mercon dengan merek dagang Cap Leo bangkrut berkali-kali karena kecelakaan ledakan, perampokan, hingga larangan produksi saat pendudukan Jepang pada 1942. Setelah itu, bisnis keluarga Hartono beralih masuk perdagangan minyak kacang. Namun dengan hadirnya kelapa sawit yang lebih efisien, usaha itu pun bangkrut juga oleh dinamika pasar sawit yang efisien dan berkembang pesat," jelasnya.
Tantangan bisnis Djarum tak hanya datang dari eksternal, tapi dari internal yaitu keluarga. Didik mengatakan, banyaknya jumlah anggota keluarga tidak mungkin menjalankan seluruh bisnis.
"Hambatan kritis terhadap bisnis acap kali datang dari dalam keluarga. Beragam perselisihan mulai dari masalah arus kas, kepemimpinan, hingga pembagian dividen yang tidak adil disebutnya sebagai bom waktu yang bisa menggoyahkan bisnis keluarga," ungkapnya.
"Tetapi pada saat ini ada semacam 'Dewan Syuro' di dalam Grup Djarum yang memilih pemimpin secara selektif sehingga menemukan pemimpin bisnis yang bagus dan pintar menjalankan bisnis. Di sinilah bisnis warisan Bambang Hartono dan Budi Hartono terus berjalan dan berkembang," lanjutnya.
Demi menjaga keberlangsungan bisnis keluarga, Michael Bambang Hartono tidak boleh mengajukan anaknya untuk menjadi pemimpin. Hal yang sama berlaku untuk Budi Hartono.
"Anggota Dewan Syuro yang lain yang harus mengajukan agar obyektif si calon benar-benar bisa memimpin. Di dalam grup ada struktur kepemimpinan yang jelas, bahwa pemimpin utama sebaiknya hanya satu agar arah bisnis tetap terjaga dan konflik dapat diminimalisir. Dengan cara itu, pembagian peran antar anggota keluarga terbagi secara adil. Kekompakan internal terjaga dengan semangat keterbukaan bersama," jelasnya.
Menurut Didik, itu adalah strategi memperkuat daya saing jangka panjang Grup Djarum. Didik mengatakan meski Michael Bambang Hartono sudah wafat, generasi selanjutnya siap melanjutkan bisnis karena regenerasi yang telah dijalankan.
"Regenerasi yang solid adalah kunci sukses dalam bisnis keluarga. Menurut Victor, regenerasi tidak boleh berhenti pada pewarisan nama, tetapi harus menghasilkan pelaku bisnis sejati yang mampu membaca zaman dan terus berjalan ke generasi berikutnya," pungkasnya.





