Kendaraan pribadi tetap menjadi primadona dalam mudik Lebaran. Mengendarai mobil ataupun sepeda motor memiliki keleluasaan waktu sehingga para pemudik bebas menentukan waktu perjalanannya.
Kepadatan lalu lintas hingga kemacetan di sejumlah ruas jalan sudah menjadi pemandangan lazim setiap musim mudik Lebaran. Meskipun sudah menjadi rutinitas, fenomena demikian tetap saja membuat sebagian pemudik merasa khawatir terhadap risiko keselamatan. Seperti yang tergambar dari hasil survei Litbang Kompas pada awal Maret 2026 ini, sepertiga responden merasa kepadatan arus lalu lintas menjadi hal yang paling dikhawatirkan saat mudik Lebaran tahun ini.
Betul saja, pada puncak arus mudik Rabu (18/3/2026), kepadatan lalu lintas terlihat di sejumlah titik. Menurut pantauan CCTV yang tersedia di situs mudik.pu.go.id, kepadatan arus lalu lintas meningkat di sejumlah ruas jalan tol seperti Tol MBZ dan Tol Jakarta-Cikampek. Bahkan, kepadatan itu memanjang hingga mendekati Gerbang Tol Cikatama dengan panjang jalur sekitar 60 kilometer.
Kepadatan tersebut juga terpantau dari hasil pengolahan data mobilitas dari Google Maps Distance Matrix API selama puncak arus mudik lebaran 2026. Sebagai contoh, pada Rabu (18/3/2026) pukul 21.00, waktu tempuh perjalanan Jakarta Pusat ke Surabaya melalui jalur tol TransJawa selama 11 jam 1 menit. Dibanding keadaan normal, waktu tempuh ini lebih lambat 1 jam 4 menit. Sementara sehari sebelumnya, pada waktu yang sama, waktu tempuh menuju Surabaya hanya 10 jam 42 menit atau lebih lama 45 menit dari kondisi normal.
Artinya, pada puncak arus mudik, ada peningkatan kendaraan yang melewati jalur tol TransJawa sehingga membuat kecepatan kendaraan melambat dan arus lalu lintas lebih padat dibanding sehari sebelumnya. Meskipun per Rabu (18/3/2026), sistem one way atau satu jalur sudah diterapkan di Tol Transjawa KM70-414 guna mengantisipasi kemacetan panjang, tetap saja arus perjalanan lebih lambat dari biasanya karena padatnya kendaraan.
Pada Rabu (18/3/2026) kemarin, kepadatan kendaraan di jalur yang sama sempat menurun pada pagi hingga siang menuju sore. Dalam rute yang sama, waktu tempuh tercatat hanya 10 jam 32 menit pada pukul 10.00 dan 10 jam 16 menit pada pukul 12.00.
Pemudik tampaknya lebih memilih waktu sore hari dan malam hari selepas maghrib untuk berangkat menuju ke kampung halaman. Selain lebih nyaman karena cuaca tidak terik, pemudik juga merasa lebih bugar setelah sudah berbuka puasa.
Keleluasan di perjalanan menjadi alasan utama
Meskipun memiliki waktu tempuh perjalanan yang cenderung lebih lama, tetapi para pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi memiliki keleluasaan waktu dan juga fleksibilitas yang tinggi. Mereka dapat memulai perjalanan kapan saja serta dapat beristirahat ataupun berhenti di mana pun guna memulihkan stamina. Faktor inilah yang juga membuat para pemudik lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi maupun sewaan saat mudik ke kampung halaman.
Menurut survei Litbang Kompas, sebanyak 66,1 persen responden di 11 kota besar yang disurvei akan mengendarai kendaraan pribadi saat mudik. Pengguna kendaraan pribadi ini mayoritas mengendarai motor. Sisanya, mereka mengendarai mobil pribadi hingga mobil sewa untuk mudik.
Bagi para pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi, waktu tempuh bukan menjadi alasan utama mengapa mereka lebih memilih kendaraan pribadi dibanding transportasi umum. Fleksibilitas atau keleluasaan dalam menentukan rencana perjalanan menjadi alasan terbesar yang diungkap oleh hampir separuh responden. Dengan mudik menggunakan kendaraan pribadi, mereka dapat menentukan tujuan dan manajemen waktu perjalanan lebih bebas.
Selain itu, faktor biaya dan kenyamanan juga menjadi alasan 43,5 persen responden lebi memilih mengendarai kendaraan pribadi untuk mudik tahun ini. Mengendarai kendaraan pribadi dirasa lebih murah dibanding bepergian menggunakan transportasi umum. Apalagi, mayoritas pemudik bepergian tidak seorang diri, tetapi umumnya bersama dengan anggota keluarga lainnya.
Hasil survei Litbang Kompas juga mengungkap adanya kecenderungan jumlah orang yang pergi mudik bersama responden berdasarkan moda transportasi yang digunakan. Responden yang berangkat mudik bersama beberapa orang cenderung memilih menggunakan kendaraan pribadi. Hal ini mengindikasikan faktor efisiensi biaya mudik menjadi alasan utama pemilihan kendaraan pribadi untuk mudik.
Sebagai contoh, dengan asumsi satu keluarga beranggotakan empat orang akan mudik dari Jakarta ke Semarang, Jawa Tengah mengendarai mobil, biaya yang dikeluarkan hanya sekitar Rp 800.000 - Rp 900.000. Biaya ini sudah dihitung mencakup biaya tol Jakarta-Semarang yang sudah mendapatkan diskon khusus mudik 30 persen serta pengeluaran bensin. Sementara itu, jika menggunakan transportasi umum seperti bus, dengan asumsi harga tiket bus per orang mencapai Rp 600.000 per orang, maka total biaya mudik sekali jalan menuju Semarang untuk empat orang bisa mencapai Rp 2,4 juta rupiah.
Jika dibandingkan dengan pengeluaran mudik menggunakan kendaraan pribadi, maka biaya menggunakan transportasi umum bisa mencapai tiga kali lebih mahal. Ditambah lagi kendaraan pribadi juga menawarkan satu hal yang tidak bisa diberikan transportasi umum, yaitu fleksibilitas atau keleluasan kendali dalam perjalanan.
Mudik lebih hemat dan nyaman juga menjadi kelebihan penggunaan kendaraan pribadi selama perjalanan pulang kampung. Terlepas dari kelebihannya, keselamatan pemudik tetap menjadi yang utama. Para pengemudi kendaraan pribadi perlu ekstra hati-hati dan menjaga kondisi badan tetap bugar selama perjalanan agar selamat sampai tujuan dan dapat merayakan hari kemenangan bersama keluarga tercinta. (LITBANG KOMPAS)





