Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth mengajukan tambahan anggaran sekitar US$200 miliar atau sekitar Rp3.387 triliun untuk membiayai perang Negeri Paman Sam melawan Iran, menandakan potensi konflik yang lebih panjang dari perkiraan awal.
“Dibutuhkan uang untuk menumpas pihak-pihak berbahaya,” kata Hegseth dalam konferensi pers saat diminta mengonfirmasi angka tersebut, yang dikutip dari CNBC International, Jumat (20/3/2026)
Hegseth mengatakan pemerintah akan kembali berkoordinasi dengan Kongres untuk memastikan pendanaan militer tersedia secara memadai.
“Kami akan kembali ke Kongres dan para mitra kami di sana untuk memastikan kami memiliki pendanaan yang tepat,” ujarnya.
Pengakuan mengenai rencana pengajuan tambahan anggaran besar tersebut mengindikasikan bahwa AS kemungkinan bersiap menghadapi konflik yang lebih panjang dari perkiraan awal. Pemerintah AS sebelumnya memperkirakan perang akan berlangsung sekitar empat hingga enam pekan.
Sejumlah estimasi menyebutkan AS telah menghabiskan sekitar US$1 miliar per hari untuk membiayai perang tersebut.
Baca Juga
- AS dan Israel Harus Dengar, Rusia dan China "di Belakang" Iran
- Ngeri, Iran Berhasil Hancurkan Jet Siluman F-35 Milik AS
- Lonjakan Pengangguran di Garut Jelang Lebaran Picu Kekhawatiran
Hegseth juga menolak memberikan jadwal kapan AS memperkirakan dapat mencapai tujuan militernya di Iran.
“Pada akhirnya itu akan menjadi keputusan presiden ketika kita mengatakan bahwa kita telah mencapai apa yang perlu dilakukan demi keamanan rakyat Amerika. Tidak ada tenggat waktu yang ditetapkan, tetapi kami berada di jalur yang tepat," katanya.
Secara terpisah, Presiden AS Donald Trump saat ditanya di Ruang Oval mengenai alasan Pentagon meminta dana sebesar itu mengatakan pemerintah memiliki berbagai alasan untuk mengajukan anggaran tambahan.
“Kami memintanya karena banyak alasan,” kata Trump.
Dia juga menyebutkan bahwa AS saat ini memiliki persediaan amunisi dalam jumlah besar. Trump menambahkan perusahaan pertahanan seperti Lockheed Martin dan Raytheon tengah meningkatkan produksi hingga tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Jadi kami berada dalam kondisi yang sangat baik, tetapi kami ingin berada dalam kondisi terbaik,” ujarnya.
Trump juga mengatakan tidak berencana mengirim pasukan darat AS ke kawasan tersebut. Namun, dia menambahkan bahwa jika keputusan itu diambil, pemerintah tidak akan mengumumkannya terlebih dahulu kepada publik.
Sementara itu, mengutip BBC, permintaan tambahan US$200 miliar itu berada di luar anggaran tahunan Departemen Pertahanan sebesar US$838,7 miliar yang telah disetujui Kongres pada Januari lalu.
Secara terpisah, Kongres juga telah menyetujui US$188 miliar bantuan untuk Ukraina sejak invasi Rusia pada Februari 2022. Sekitar US$110 miliar di antaranya telah dibelanjakan hingga Desember tahun lalu, menurut laporan inspektur khusus yang mengawasi penggunaan dana tersebut.
Ketua DPR dari Partai Republik Mike Johnson mengatakan angka US$200 miliar yang diajukan untuk perang Iran bukanlah angka yang muncul secara acak.
“Jelas ini masa yang berbahaya bagi dunia, dan kita harus mendanai pertahanan secara memadai. Kami berkomitmen untuk melakukannya,” ujarnya.





