APBN untuk Situasi Terburuk yang Mungkin Dihadapi

kompas.tv
13 jam lalu
Cover Berita
Petugas menghitung uang pecahan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (2/1/2025). (Sumber: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Oleh: Andi Rahmat, Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Pertahanan dan Pendiri AR Strategic Research and Advisory

Kalau kita mengikuti secara seksama berbagai diskusi, opini dan laporan-laporan perkembangan perang Amerika Serikat Israel versus Iran, hal umum yang mungkin jadi kesimpulan adalah ketidakpastian (uncertainty). Lebih spesifik lagi, ketidakpastian ekonomi dunia dan juga domestik yang kian hari kian meningkat seiring dengan peningkatan ekskalasi perang di Timur Tengah.

Perang yang pada mulanya dianggap akan berlangsung cepat, surgikal dan determinan, semakin hari semakin tidak mudah diperkirakan ujungnya. Prof. Robert A. Pane dari Universitas Chicago, menyebutnya sebagai “jebakan ekskalasi “(escalation trap). 

Lebih lanjut, teori “jebakan ekskalasi” yang dikembangkan oleh Prof. Robert Pane, yang juga selama berpuluh tahun diajarkannya terutama di lingkungan militer Amerika Serikat, menjelaskan bahwa suatu perang sangat jarang berjalan sesuai rencana. 

Apa yang mulanya dianggap sebagai sesuatu yang bisa berlangsung cepat, presisi dan bisa dikontrol dan dapat mengubah musuh untuk mengubah perilakunya atau menyerah. Pada kenyataannya, sepanjang sejarah peperangan modern yang diamati oleh Prof. Pane, secara gradual terus melebar, makin melibatkan banyak aktor, dan pada akhirnya meningkatkan risiko di luar dari perkiraan yang direncanakan. Kasus ini terutama sekali terjadi pada penggunaan masif kekuatan udara dalam menjalankan misi peperangan. 

Dalam penjelasan yang lebih lanjut, menurut teori ini, suatu operasi pertempuran yang kurang berhasil dalam memaksa musuh untuk meyerah membuat pengambil kebijakan untuk meningkatkan ekskalasi penggunaan kekuatan untuk memaksa pihak musuh untuk segera “menyerah”. Peningkatan ekskalasi diambil bukan karena pada pembacaan terhadap kelemahan strategis tapi lebih karena anggapan bahwa ekskalasi lebih besar diperlukan untuk mencapai tujuan yang direncanakan. Pola ini kelihatannya nampak jelas sedang terjadi dalam Perang AS-Israel versus Iran. 

Baca Juga: Tanggapi Wacana Pemotongan Gaji Menteri, Purbaya Mengaku Tak Masalah: Sudah Kegedean Juga

Peningkatan ekskalasi Perang tersebut nampaknya terus terjadi dan kian lama kian menyeret aktor-aktor lain yang pada dasarnya tidak terlibat justru makin terdampak dan terpapar risiko. Tidak hanya negara-negara yang berada di kawasan peperangan, tapi juga melebar kepada negara-negara yang secara geografis sangat jauh dari wilayah konflik. 

Salah satu yang paling menonjol adalah dampak risiko ekonomi dunia yang mengarah pada ketidakpastian. Bagaimana tidak, perang ini telah menyentuh sisi paling vital dan strategis dalam aorta ekonomi global.

Ekskalasi terakhir menunjukkan makin meluasnya peperangan ini tidak saja terbatas pada fasilitas militer kedua-belah pihak, tapi juga telah masuk ke dalam rantai pasok sumber energi Global. Serangan pihak AS-Israel kepada fasilitas minyak Iran di Pulau Kharg, Fasilitas Gas Fars Iran yang merupakan fasilitas terbesar dunia yang memasok 20 persen kebutuhan gas dunia dibalas oleh Iran dengan membatasi arus lalu lintas tanker minyak bumi di Selat Hormuz. Serangan terhadap Failitas LNG Qatar, yang juga terbesar di Dunia, serangan terhadap fasilitas minyak dan gas di Arab Saudi, Kuwait, UEA dan Bahrain. 

Kesemuanya itu oleh banyak pengamat yang kredibel menandakan masuknya ekonomi dunia dalam fase kritis dengan tingkat risiko ekonomi yang tidak pasti. Yang makin dipertajam oleh ketidakpastian akan kapan dan bagaimana konflik ini akan berakhir. 

Mari kita lihat apa yang sedang terjadi dan tengah dialami dunia akibat perang yang makin tidak berujung ini. 

20 persen pasokan minyak bumi yang melewati selat Hormuz telah terhambat. Lalu lintas Laut yang melintasi selat Hormuz turun hingga 95 persen. Negara-negara di kawasan telah menghentikan sebagian besar aktivitas drilling-nya disebabkan fasilitas penampungan minyak mereka sudah penuh. Yang berarti bahwa produksi minyak bumi dalam jumlah signifikan telah terhenti.

Arab Saudi sebagai pemasok minyak utama dunia terpaksa memindahkan aktivitas angkut minyaknya ke laut merah. Yang berakibat pada peningkatan biaya transportasi. Dan itupun baru-baru ini telah pula diserang oleh Iran sebagai aksi balas terhadap serangan atas fasilitas Fars.

Dalam penghitungan Bloomberg, setiap gangguan yang berkibat pada pengurangan  1 persen saja dari pasokan minyak bumi yang dibutuhkan dunia, akan meningkatkan harga sebesar US 4 Dollar per barrel. Jika selat Hormuz benar-benar tidak lagi bisa dilalui, maka risiko peningkatan harga minyak bisa meningkat hingga US 80 Dollar per barrel dari harga sebelum perang. Itu baru yang berasal dari kawasan Teluk. Ditambahkan risiko apabila Arab Saudi yang memasok tidak kurang dari 10-15 persen kebutuhan minyak bumi, dipaksa atau terpaksa mengurangi pasokannya. 

Baca Juga: Seskab: Pemerintah Berupaya Kebijakan Hemat Energi Tak Ganggu Aktivitas Ekonomi Masyarakat

Demikian juga dengan kebutuhan Gas Bumi dunia. Iran adalah negara ke-2 dunia setelah Rusia dengan cadangan gas alam terbukti di dunia, sekitar 17,8 persen dari total cadangan gas dunia. 

Penulis : Desy-Afrianti

1
2
Show All

Sumber : Kompas TV

Tag
  • apbn
  • perang iran
  • timur tengah
  • ketidakpastian global
  • indonesia
  • prabowo
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Presiden Prabowo Bertolak ke Sumut, Salat Idulfitri Bersama Warga di Aceh
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mobil Tabrak Gerobak Mie Ayam di Kelapa Gading, Pedagang Alami Patah Tangan
• 11 jam laludetik.com
thumb
Bocah 9 Tahun di Semarang Tewas Terkena Ledakan Bubuk Petasan
• 14 jam laludetik.com
thumb
Ramalan Zodiak Hari Ini Jumat, 20 Maret 2026: Aries Bangkit Penuh Energi, Pisces Dituntut Lebih Peka Hari Ini
• 13 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Prabowo Enggan Tanya Kemana Dana Desa, Bangun Jembatan di 3.000 Titik dan Selesai Awal 2027
• 8 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.