Perbedaan Lebaran Jadi Momentum Meningkatkan Solidaritas di Semarang

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

SEMARANG, KOMPAS — Perbedaan waktu perayaan Lebaran tak mengurangi khidmatnya pelaksanaan shalat Idul Fitri di Kota Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (20/3/2026). Warga Muhammadiyah menjadikan Hari Kemenangan sebagai momentum untuk meningkatkan solidaritas, tidak hanya lintas organisasi agama, tetap juga lintas agama.

Sejak pukul 05.30 WIB, sejumlah warga Muhammadiyah berbondong-bondong mendatangi Rumah Sakit Muhammadiyah Roemani di Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. Bukan untuk berobat, mereka datang untuk menjalankan shalat Idul Fitri yang diselenggarakan di halaman rumah sakit.

Panitia mengatur alur masuk para jemaah sedemikian rupa hingga menyisakan ruang kosong sekitar 3 meter. Ruang itu sengaja di kosongkan agar ketika ada kondisi darurat, ambulans atau kendaraan yang mengangkut pasien bisa melintas.

Baca JugaIdul Fitri Kemungkinan Akan Berbeda Lagi

Tepat pukul 06.30 WIB, shalat yang dipimpin oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jateng, Rozihan itu pun dimulai. Dalam khotbahnya, Rozihan menyebut bahwa Idul Fitri merupakan tanda keberhasilan seseorang yang telah melakukan ibadah selama Ramadhan.

"Keberhasilan itu ditengarai oleh Rasulullah (Muhammad SAW) seperti bayi yang baru lahir. Sifat bayi yang baru lahir, misalnya kesucian, peduli kepada orang lain, solidaritas. (Solidaritas) Kepada siapa saja, lintas organisasi keagamaan, lintas suku, hingga lintas agama. Jadi tidak hanya solidaritas Islam, tetapi solidaritas kemanusiaan," kata Rozihan, Jumat.

Rozihan mengatakan, umat Islam juga diharapkan memiliki kepedulian terhadap sesama, misalnya dengan memberi, bersedekah, dan berinfaq. Orang yang terbiasa memberi, diikuti dengan memelihara diri, dijanjikan akan dimudahkan jalannya.

Terkait dengan perbedaan waktu Lebaran, Rozihan menyebut, hal itu sebagai sesuatu yang biasa. Menurut dia, perbedaan tersebut tidak perlu dipersoalkan.

"Perbedaan itu indah, yang Idul Fitri Jumat maupun Sabtu, keduanya sama benarnya. Allah mengajarkan kepada kita bahwa nilai 10 itu bisa diperoleh dari 5 tambah 5, bisa 7 tambah 3, bisa 6 tambah 4, dan sebagainya. Dari situ, karena perbedaan metode dan pendekatan, maka hasilnya pasti berbeda," kata Rozihan.

Menurut Rozihan, Muhammadiyah menggunakan kalender hijriyah global tunggal dalam menentukan awal bulan hijriyah. Sementara itu, pemerintah Indonesia disebut Rozihan menggunakan kalender hijriyah global lokal yang mengacu pada kriteria hilal MABIMS (kesepakatan Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Slamet Widodo, panitia penyelenggara shalat Idul Fitri di RS Muhammadiyah Roemani menyebut, kegiatan itu diikuti oleh lebih kurang 1.000 warga Muhammadiyah. Tak hanya diperuntukkan bagi pegawai rumah sakit, warga sekitar rumah sakit juga diperbolehkan shalat di lokasi tersebut.

"Shalat hari ini lancar dan yang ikut cukup penuh (banyak), sampai ke jalan-jalan. Menurut saya tahun ini jumlahnya lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Mungkin juga karena kebetulan hari ini kami shalat duluan. Besok masih ada teman-teman lain yang shalat. Tidak masalah karena kami menyelenggarakan shalat Idul Fitri hari ini sesuai dengan maklumat Muhammadiyah," ujar Slamet.

Menurut Slamet, shalat berjamaah di hari raya memang rutin digelar setiap tahun di halaman RS Muhammadiyah Roemani, baik di Hari Raya Idul Fitri maupun Hari Raya Idul Adha. Aktivitas itu dinilai tidak mengganggu pelayanan di rumah sakit. Sebab, panitia telah menyisakan ruang untuk aktivitas lalu-lalang kendaraan yang mengangkut pasien selama shalat berlangsung. Di samping itu, ada juga pintu-pintu lain di belakang dan samping rumah sakit yang bisa dilalui pasien.

Noor Aini (71), warga Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan mengaku selalu mengikuti shalat Idul Fitri maupun Idul Adha di halaman RS Muhammadiyah Roemani. Selain karena lokasinya dekat dengan rumah, Noor mengaku senang karena banyak tetangga dan kenalannya yang menjalankan shalat di tempat itu.

Noor mengatakan, adanya perbedaan waktu Lebaran tidak mengurangi suka cita dan khidmat Idul Fitri. Menurutnya, sebagai sesama umat bergama sudah selayaknya saling menghargai perbedaan yang ada.

"Perbedaan yang ada tidak kemudian membuat kita bertengkar atau apa. Kita dengan keyakinan masing-masing saja. Seperti tadi disampaikan dalam khotbah, kita harus menjadi makhluk sosial yang baik dan berguna bagi sesama, menghargai perbedaan," kata Noor.

Kebahagiaan juga dirasakan Habib Luthfi (26), warga Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang yang juga menjalankan shalat Idul Fitri di halaman RS Muhammadiyah Roemani. Habib yang sudah lima tahun bekerja di rumah sakit tersebut langsung shalat usai menyelesaikan pekerjaannya.

Baca JugaPemerintah Tetapkan Idul Fitri Jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026

"Saya memang sengaja mengambil sif malam supaya bisa langsung shalat. Mulai sif dari pukul 21.00 WIB terus selesai pukul 06.00 WIB, langsung shalat Idul Fitri," ucapnya.

Habib mengaku bersyukur karena ada shalat Idul Fitri yang digelar di rumah sakit tempat ia bekerja. Dengan begitu, ia tidak perlu jauh-jauh mencari lokasi shalat Idul Fitri. Usai shalat, Habib langsung pulang untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarganya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rayakan Idulfitri, Tahanan KPK Bisa Bertemu Keluarga pada 21 Maret
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Kapolres Inhu Pastikan Kesiapan Personel dan Layanan Mudik
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
Kuasa Hukum Roy Suryo Sebut Rismon seperti Robot yang Diremot dari Solo
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Pejabat Tinggi AS Dipenjara Usai Ketahuan Jual Rudal ke Iran
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Siap Touring Jarak Jauh Saat Libur Lebaran, Ini Panduan Lengkap dari Yamaha
• 44 menit lalumedcom.id
Berhasil disimpan.