5 Momen Lebaran Paling Dramatis dalam Sejarah: Covid, Perang-Gerhana

cnbcindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran adalah momen istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia.

Namun, sejarah telah mencatat bahwa tidak semua Idul Fitri hadir dalam ketenangan dan kehangatan yang sama. Ada hari-hari raya yang diwarnai peristiwa tak biasa. Berikut adalah beberapa momen Idul Fitri yang begitu berbeda dari biasanya dalam sejarah modern.

Baca: 6 Fakta Ekonomi RI Jelang Lebaran: Ada yang Ngeri, Ada Juga Bahagia

1. Idul Fitri di Tengah Pandemi Covid-19 (2020-2021)

Idul Fitri adalah tentang berkumpul, bersalaman, dan bersantap bersama. Namun, pandemi COVID-19 merenggut semua itu. Pada tahun 2020 dan 2021, dunia merayakan Idul Fitri dalam keheningan yang ganjil.

Masjid-masjid yang biasanya penuh sesak hanya bisa menerima jemaah dalam jumlah terbatas, atau bahkan ditutup sepenuhnya. Takbir yang biasanya menggema di jalanan harus bergema di dalam rumah masing-masing.

Foto: Salat Id di rumah di Kawasan Cipulir (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)
Warga melaksanakan Solat Idul Fitri Jl. H. Amsar Cipulir - Kebayoran Lama, Jkt Selatan Jakarta, Minggu (24/5/2020). Di masa pandemi, pemerintah beserta ulama menghimbau kepada masyarakat agar melaksanakan sholat idul fitri di rumah masing-masing guna memutus mata rantai COVID-19. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

 

Tradisi mudik berubah menjadi panggilan video, dan ketupat disajikan di meja yang lebih sepi dari biasanya. Ini adalah Lebaran yang mengajarkan bahwa kebersamaan tak selalu berbentuk fisik, dan cinta tak selalu harus dirayakan dengan pertemuan.

2. Idul Fitri Bertepatan dengan Gerhana Matahari (1984 & 2013)

Momen langka terjadi pada 1984 dan 2013 ketika Idul Fitri bertepatan dengan gerhana matahari. Dalam Islam, gerhana matahari adalah peristiwa yang disertai dengan salatkusuf, suatu ibadah yang

mengingatkan manusia akan kebesaran Tuhan. Bagi mereka yang menyaksikannya, pemandangan langit yang meredup di tengah perayaan Idul Fitri menjadi sebuah simbol: ada kebahagiaan, tetapi juga ada momen perenungan.

Tahun 2023 juga disebut-sebut sebagai tahun yang berpotensi mengalami fenomena serupa dengan gerhana matahari hibrida yang terjadi di penghujung Ramadan.

3. Idul Fitri dalam Kepungan Perang

Sejarah mencatat bahwa ada banyak Idul Fitri yang harus dirayakan di tengah suara bom dan desingan peluru:

Perang Dunia I & II: Para tentara Muslim yang berada di medan perang atau kamp tahanan terpaksa merayakan Idul Fitri dalam keterbatasan.

Perang Teluk (1991): Saat umat Islam di banyak negara berbahagia menyambut Lebaran, Irak justru menjadi saksi perayaan yang dibayangi ketegangan perang antara pasukan koalisi dan Saddam Hussein.

Konflik Palestina-Israel: Hingga hari ini, Idul Fitri di Gaza sering kali dihiasi dengan tangisan kehilangan, bukan tawa kemenangan. Tahun 2024 menjadi salah satu Lebaran paling menyakitkan bagi warga Palestina, yang merayakan hari raya dalam kondisi pengungsian, tanpa listrik, dan tanpa kepastian akan hari esok.

4. Idul Fitri di Luar Angkasa (2007)

Sheikh Muszaphar Shukor, astronot asal Malaysia, menjadi Muslim pertama yang merayakan Idul Fitri di luar angkasa pada 2007. Di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), ia menghadapi tantangan unik dalam menjalankan ibadah yaitu waktu salat yang harus disesuaikan dengan zona waktu Mekkah, makanan yang terbatas, dan ketiadaan suara takbir yang menggema dari bumi.

Baca: Dalam 25 Tahun, Berapa Kali NU & Muhammadiyah Merayakan Lebaran Beda?

 

Meski begitu, ia tetap menjalankan salat dan berbuka puasa dengan bekal makanan halal dan khas kampung halamannya yang telah disiapkan sebelumnya. Ini adalah Lebaran yang membuktikan bahwa iman tidak mengenal gravitasi.

5. Idul Fitri Bertepatan dengan Tahun Baru Masehi (2000 & 2007)

Pada tahun 2000 dan 2007, Idul Fitri jatuh berdekatan dengan perayaan Tahun Baru Masehi. Perayaan ganda ini menciptakan suasana unik, terutama di negara-negara dengan populasi Muslim yang besar.

Ada yang memilih merayakan keduanya dengan semarak, sementara yang lain merenung tentang perbedaan makna antara keduanya yaitu satu adalah perayaan spiritual setelah sebulan berpuasa, sementara yang lain adalah perayaan pergantian tahun dalam kalender sipil.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gempa Besar M6,6 Guncang Antartika, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia
• 9 jam laluokezone.com
thumb
Foto: Salat Id Perguruan Muhammadiyah Pamulang, Khatib Waketum MUI Anwar Abbas
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Lonjakan Aktivitas Lintas Batas di PLBN Motaain Terjadi Jelang Lebaran 2026
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Pengedar di Jakpus Sembunyikan Sabu 26,7 Kg di Ban Mobil yang Diangkut Towing
• 6 jam laludetik.com
thumb
Tekanan Ekonomi Makin Berat, Utang Rumah Tangga Asia Tenggara Membengkak
• 47 menit lalubisnis.com
Berhasil disimpan.