Tekanan Ekonomi Makin Berat, Utang Rumah Tangga Asia Tenggara Membengkak

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan ekonomi di kawasan Asia Tenggara kian terasa di tingkat rumah tangga. Di sejumlah negara, masyarakat kini semakin bergantung pada utang bukan untuk investasi, melainkan sekadar memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Dari Phnom Penh hingga Bangkok, narasi pertumbuhan ekonomi kawasan bergeser. Jika sebelumnya bertumpu pada ekspor dan investasi, kini banyak rumah tangga justru berjuang mempertahankan daya beli melalui pinjaman.

Dilansir DW, para analis menilai kondisi ini merupakan dampak akumulatif dari kemudahan akses kredit selama bertahun-tahun, pertumbuhan upah yang stagnan, serta terbatasnya layanan publik. 

Situasi tersebut mendorong jutaan keluarga masuk dalam kondisi finansial yang rentan, sekaligus meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi yang lebih luas.

Kamboja menjadi salah satu titik paling terdampak. Rasio utang swasta terhadap produk domestik bruto (PDB) melonjak tajam dari 24,2% pada 2010 menjadi 134,5% pada 2023, yang menjadi salah satu kenaikan tercepat di kawasan. 

Lonjakan ini kini berhadapan dengan tekanan tambahan, mulai dari pelemahan sektor properti hingga hambatan perdagangan global.

Sementara itu, Thailand mencatat rasio utang rumah tangga mencapai 86,8% dari PDB pada 2025, menjadikannya salah satu yang tertinggi di Asia. 

Di Malaysia, rasio serupa telah menyentuh 84,3%, dengan mayoritas pinjaman berasal dari sektor perumahan dan kendaraan. Adapun Myanmar juga menghadapi tekanan utang kronis, terutama di tengah ketidakstabilan ekonomi domestik.

Meski demikian, kualitas kredit di beberapa negara masih relatif terjaga. Data Bank Negara Malaysia menunjukkan rasio kredit bermasalah tetap rendah, menandakan sebagian besar debitur masih mampu memenuhi kewajiban pembayaran.

Beralih dari Investasi ke Bertahan Hidup

Antonios Roumpakis, Profesor Madya di Hong Kong Metropolitan University mengungkapkan fenomena yang mengkhawatirkan dari perubahan tujuan berutang. 

"Jika sebelumnya kredit digunakan untuk membangun aset, kini banyak rumah tangga menggunakannya untuk menutup kebutuhan harian," ungkapnya, dilansir DW. 

Di Thailand, misalnya, sebagian besar kredit bermasalah berasal dari kartu kredit dan pinjaman konsumtif. Bahkan, banyak rumah tangga mengalokasikan lebih dari separuh pendapatan bulanan hanya untuk membayar cicilan.

Tekanan ini diperparah oleh ketidakpastian global, termasuk kebijakan tarif dagang hingga konflik geopolitik yang mendorong kenaikan biaya hidup.

Di sisi lain, ekspansi lembaga mikrofinansial turut berkontribusi terhadap lonjakan utang, terutama di negara berkembang. Di Kamboja, jutaan rumah tangga tercatat memiliki pinjaman mikro dengan nilai total yang sangat besar.

Pinjaman tersebut kerap digunakan untuk kebutuhan mendesak, seperti biaya kesehatan. Studi menunjukkan sebagian masyarakat bahkan terpaksa berutang demi mengakses layanan medis, memperdalam kerentanan ekonomi.

Kondisi ini berpotensi memicu lingkaran utang yang sulit diputus. Dalam banyak kasus, keluarga harus menjual aset atau mencari pekerjaan berisiko tinggi demi melunasi pinjaman.

Situasi semakin memburuk setelah kembalinya ratusan ribu pekerja migran ke Kamboja akibat ketegangan kawasan. Penurunan remitansi juga mempersempit sumber pendapatan rumah tangga, sehingga memperbesar tekanan utang.

Dari Masalah Rumah Tangga ke Risiko Sistemik

Analis memperingatkan bahwa persoalan utang rumah tangga dapat berkembang menjadi risiko sistem keuangan. Konsumsi yang melemah, seperti terjadi di Thailand, bahkan mendorong pemerintah meluncurkan berbagai stimulus untuk menjaga pertumbuhan.

Di Kamboja, otoritas mulai menyiapkan mekanisme penanganan kredit bermasalah melalui pembentukan lembaga khusus pengelola aset. Langkah ini mencerminkan meningkatnya urgensi dalam merespons tekanan di sektor keuangan.

Ke depan, solusi yang dibutuhkan dinilai tidak sederhana. Selain penguatan regulasi perbankan dan pengawasan terhadap lembaga pembiayaan, reformasi struktural juga diperlukan agar masyarakat dapat mengakses layanan dasar, seperti kesehatan, pendidikan, dan perumahan, tanpa harus bergantung pada utang.

Tanpa pembenahan menyeluruh, lonjakan utang rumah tangga berisiko menjadi beban jangka panjang yang menahan laju pertumbuhan ekonomi kawasan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menteri Ekraf Tegaskan Banten Creative Festival Ramadan 2026 Jadi Motor Penggerak Brand Lokal Mendunia
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Jus Buah Naga: 8 Manfaat, Cara Membuat, dan Waktu Terbaik Mengonsumsinya
• 10 jam lalutheasianparent.com
thumb
Warga Taiwan Mulai Siaga Perang, Latihan Evakuasi Hadapi Ancaman China
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
OJK Tegaskan Konsolidasi Bank KBMI I Dilakukan Bertahap dan Terukur Demi Perkuat Industri Perbankan
• 23 jam lalupantau.com
thumb
MU dan PSG Berebut Tanda Tangan Penyerang Muda Inter Milan Ange-Yoan Bonny: Siapa yang Akan Menang?
• 11 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.