TAUD Duga Ada Keterlibatan Sipil di Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS

detik.com
6 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) menduga ada keterlibatan pelaku sipil dalam kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus. Dugaan itu didapat berdasarkan hasil temuan investigasi independen yang dilakukan TAUD.

"Temuan investigasi TAUD menunjukkan adanya dugaan kuat keterlibatan pelaku dari latar belakang sipil dalam upaya percobaan pembunuhan terhadap Andrie Yunus," tulis siaran resmi TAUD yang diterima Jumat (20/3/2026).

Baca juga: Prabowo Perintahkan Usut Dalang Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus

Dalam keterangan persnya, TAUD mengungkap bahwa serangan terhadap Andrie Yunus diduga melibatkan belasan orang pelaku. Mereka diduga beroperasi secara terkoordinasi.

"Kami memperoleh bukti permulaan bahwa operasi ini dilakukan oleh belasan orang pelaku dan terdapat keterlibatan pelaku sipil di antaranya," katanya.

TAUD menyebut, perkembangan yang disampaikan oleh Polri terkait identitas dua orang tak dikenal (OTK) yakni MAK sebagai pengendara motor dan BHC sebagai penyiram air keras, sejalan dengan hasil investigasi awal mereka. Meski begitu, TAUD menilai tugas kepolisian belum selesai dan mendesak agar kasus ini diusut hingga tuntas.

"Polri masih harus membuktikan komitmennya dengan mengungkap kasus ini hingga terang benderang dan tidak melempar tanggung jawab ke pihak lain," ujar TAUD.

Di sisi lain, TAUD juga menyoroti langkah Puspom TNI yang mengklaim telah mengamankan empat prajurit TNI sebagai terduga pelaku. Namun, TAUD mempertanyakan klaim tersebut karena tidak disertai dengan publikasi bukti permulaan kepada publik.

"Oleh sebab itu, kami mendesak Puspom TNI untuk bersikap transparan dan akuntabel dengan merilis foto atau menunjukkan pelaku secara langsung agar dapat diverifikasi kebenarannya oleh masyarakat secara independen," dorong TAUD.

Lebih lanjut, TAUD menilai adanya perbedaan informasi antara Polda Metro Jaya dan Puspom TNI menunjukkan urgensi pembentukan tim independen. Mereka mendorong pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang melibatkan aparat penegak hukum, masyarakat sipil, dan tokoh masyarakat berintegritas, dengan dasar hukum yang jelas.

Dalam temuannya, TAUD mengungkap adanya dugaan keterlibatan pelaku sipil yang teridentifikasi sebagai OTK 3. Disebutkan, orang tersebut terlihat di sekitar Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) beberapa jam sebelum kejadian dengan mengenakan atribut ojek online berwarna hijau.

"Hal ini didasari pada temuan bahwa pelaku yang disebut sebagai OTK 3 (pengendara motor kedua yang membuntuti Andrie Yunus di TKP dengan helm biru) terlihat di sekitar YLBHI beberapa jam sebelum kejadian mengenakan jaket atribut ojek online berwarna hijau," ungkapnya.

Temuan ini dinilai memperkuat dugaan bahwa pelaku tidak hanya berasal dari kalangan militer.

"Dengan demikian, menjadi sangat penting proses penegakan hukum dalam kasus ini tetap tunduk di bawah kekuasaan peradilan umum demi transparansi dan akuntabilitas penegakan hukum itu sendiri," tutur TAUD.

Baca juga: Komnas HAM Akan Panggil Panglima TNI Terkait Kasus Air Keras Aktivis KontraS

Selain itu, berdasarkan rekaman kamera pengawas di sekitar YLBHI, TAUD mengidentifikasi adanya belasan pelaku yang diduga saling berkoordinasi sepanjang malam kejadian. Jumlah tersebut dinilai jauh lebih besar dibandingkan dengan empat orang yang disebut oleh Danpuspom TNI, Mayjen Yusri Nuryanto.

"Penemuan belasan terduga pelaku ini menujukkan bahwa operasi ini merupakan operasi besar, terstruktur, dan terorganisir yang digerakkan oleh pihak yang memiliki otoritas," imbuhnya.

TAUD menduga bahwa percobaan pembunuhan berencana terhadap Andrie Yunus melibatkan jaringan yang lebih besar, terlatih, dan sistematis. Atas dasar itu, TAUD mendesak kepolisian untuk tidak hanya mengungkap pelaku lapangan, tetapi juga menelusuri aktor intelektual dan pihak-pihak yang memberikan dukungan operasional dalam kasus itu.

"Kami mendesak kepolisian untuk terus melanjutkan penyelidikan guna mencari bukan hanya aktor lapangan, namun juga aktor intelektual yang bertanggung jawab serta aktor-aktor yang memberikan dukungan operasional pada para pelaku," pungkasnya.

Seperti diketahui, Andrie Yunus menjadi korban penyiraman air keras di Jakpus, Kamis (12/3) malam. Peristiwa itu terjadi saat Andrie dalam perjalanan pulang setelah menghadiri acara podcast di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).




(ond/dek)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PP Tunas, Menag: Akhlak anak perlu dikuatkan sebelum akses medsos
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Steam Spring Sale 2026 Dimulai, Ini Jadwal dan Daftar Game Diskon hingga 90%
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Komnas HAM Bakal Panggil Panglima TNI, Minta Penjelasan Keterlibatan Anggota dalam Kasus Penyiraman Air Keras
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
PP TUNAS: Regulasi Bersejarah yang Hadir untuk Melindungi Generasi Digital Indonesia
• 22 jam laluokezone.com
thumb
Lebaran Tanpa Vidi Aldiano, Ayah Kenang Tradisi Foto Keluarga dengan Tema Unik
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.