jpnn.com - Pasukan Bawah Tanah (Pasbata) Prabowo wilayah Gunungkidul menyambangi rumah Ahmad Tri Efendi (10) di Jeruken, Girisekar, Panggang, sebagai bentuk kepedulian terhadap bocah yang terpaksa putus sekolah demi merawat kedua orang tuanya yang sakit.
Pasbata pun memberikan dukungan nyata, baik moril maupun materiil kepada Efendi dan keluarganya. Bantuan yang disalurkan berupa kebutuhan pokok seperti beras, minyak, dan berbagai kebutuhan harian lainnya.
BACA JUGA: Soroti Penggiringan Opini soal BoP, PASBATA: Jangan Bodohi Rakyat dengan Narasi Murahan
Rombongan Pasbata juga bertemu langsung dengan Slamet, ayah Efendi, untuk memberikan semangat serta mendorong agar bocah itu tetap bisa melanjutkan pendidikannya di tengah kondisi keluarga yang sulit.
Diketahui, Efendi merawat ibunya yang lumpuh akibat stroke dan gangguan saraf, serta ayahnya yang juga mengalami gangguan saraf.
BACA JUGA: Ketum PASBATA: Polri Harus Tetap di Bawah Presiden
Di usia yang masih belia, Efendi menjalani hari-hari dengan penuh tanggung jawab, mulai memberi minum hingga menjaga ibunya hingga larut malam.
Ketua DPC Pasbata Prabowo Gunungkidul Martin menyampaikan bahwa pihaknya tidak tinggal diam melihat kondisi tersebut.
BACA JUGA: Langkah Projo Dukung Prabowo Dinilai Sah dan Terhormat dalam Politik Kebangsaan
"Kami hadir untuk Efendi. Jangan sampai ada anak Indonesia yang kehilangan masa depan hanya karena kondisi keluarga. Ini panggilan kemanusiaan," kata Martin dalam keterangannya, Kamis (19/3/2026).
Pasbata Prabowo Gunungkidul juga mendorong agar bocah yang akrab disapa dengan panggilan Fendi itu bisa kembali bersekolah dan menyatakan siap berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta pihak terkait.
"Kami siap membantu mencarikan solusi terbaik, baik dari sisi pendidikan maupun kesehatan keluarganya," lanjutnya.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga telah menyatakan komitmen untuk membantu Efendi kembali bersekolah melalui pendekatan khusus, serta memastikan kedua orang tuanya mendapat penanganan kesehatan yang layak.
Ketua RT setempat, Wahono menyebut Fendi sempat bersekolah. Namun, saat naik dari kelas satu ke kelas dua, kondisi ibunya memburuk, dari kebutaan hingga gangguan saraf yang berujung lumpuh.
"Karena ibunya sakit, Fendi berhenti sekolah. Tidak ada support dari orang tua karena keduanya sakit," jelas Wahono.
Ayah Fendi juga mengalami gangguan saraf yang membatasi geraknya. Dalam kondisi itu, Fendi menjadi yang paling aktif merawat ibunya.
"Fendi itu selalu merawat ibunya, memegangi, memberi minum. Kehadirannya bisa membuat ibunya tersenyum," tambahnya.
Berbagai upaya telah dilakukan agar Fendi kembali sekolah, mulai dari keluarga, pihak sekolah, hingga warga. Bahkan, ada tawaran sekolah gratis di panti asuhan di Bantul. Namun Fendi menolak karena tak ingin jauh dari ibunya.
"Kalau di panti pulangnya beberapa bulan sekali. Fendi tidak mau jauh dari ibunya," kata Wahono.
Aksi ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial dan semangat gotong royong untuk memastikan tidak ada anak Indonesia yang kehilangan masa depan.(fat/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Kasus Judi Online, Pasbata: Buka Semua Nama, Jangan Ada yang Dilindungi
Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam




