Lebaran Nyaman Tanpa GERD yang Kambuh

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Lebaran sudah di depan mata. Makanan-makanan khas Lebaran pun sudah terbayang. Opor lengkap dengan sambal goreng serta kue-kue dan minuman dingin yang manis rasanya tidak mungkin dilewatkan.

Setelah satu bulan berpuasa dan menahan nafsu makan, orang biasanya akan cenderung kalap mengonsumsi makanan-makanan tersebut. Namun, hal itu sebaiknya dihindari. Apalagi jika seseorang memiliki riwayat penyakit Gerd atau gastroesophageal reflux disease.

Penyakit Gerd sangat rentan untuk kambuh jika dipicu dengan makanan yang pedas, berlemak, ataupun minuman dengan kandungan kafein tinggi. Makan yang terburu-buru juga dapat memicu terjadinya Gerd.

Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi RS Pondok Indah-Pondok Indah, Hasan Maulahela yang juga staf pengajar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menuturkan, kondisi naiknya asam lambung bisa dipicu oleh perubahan jam makan, kelelahan fisik, serta stres selama perjalanan mudik. Itu sebabnya, orang dengan riwayat Gerd perlu lebih sadar akan kondisi tersebut.

Baca JugaMakanan Penawar Rindu di Perantauan
Baca JugaLebaran dan Menu-menu yang Paling Dirindu
Baca JugaRindu Makanan Kampung Tak Perlu Pulang Kampung

“Bagi yang masih dalam perjalanan mudik, pastikan untuk mengelola stres dengan baik. Perjalanan macet dapat memicu stres yang meningkatkan asam lambung. Tetaplah tenang dan beristirahatlah secara berkala di rest area,” katanya dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Jumat (20/3/2026).

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit refluks asam lambung merupakan gangguan pencernaan yang terjadi ketika cairan asam lambung naik dari lambung ke kerongkongan. Kondisi tersebut dapat mengiritasi lapisan bagian dalam saluran pencernaan yang dilewati asam lambung.

Saat GERD kambuh, seseorang akan mengalami rasa asam atau pahit di mulut. Biasanya, orang juga akan merasakan heartburn atau sensasi perih dan panas terbakar di dada dan ulu hati. Penderita GERD juga kerap merasa mual dan muntah, begah, nyeri dada, dan gangguan pernapasan.

Makan berlebihan

Secara terpisah, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, menyampaikan, gangguan pada sistem pencernaan bisa terjadi akibat pola makan berlebihan yang dilakukan setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan. Sistem pencernaan butuh beradaptasi dari pola makan sebelumnya.

Pola makan yang tidak terkontrol saat Lebaran dapat menyebabkan kondisi penyakit menjadi tidak stabil, bahkan memicu komplikasi akut.

Karena itu, setelah sebulan penuh berpuasa dengan pola makan yang terbatas, seseorang sebaiknya tidak langsung ke pola makan normal dengan porsi yang besar. Anjuran puasa Syawal tidak hanya untuk ibadah, melainkan juga salah satu cara untuk membantu proses transisi tubuh menuju pola makan normal.

“Perlu ada penyesuaian secara bertahap, baik dari sisi jumlah makanan, waktu makan, maupun pola istirahat. Jangan langsung berlebihan karena lambung memiliki keterbatasan dalam menerima asupan,” kata Ari.

Ia menambahkan, makanan khas Lebaran yang kaya akan santan, lemak, dan tinggi gula juga sebaiknya dikonsumsi dengan bijak. Makanan tersebut dapat memicu terjadinya masalah pada sistem pencernaan yang dapat membuat perut kembung, begah, hingga nyeri ulu hati.

Apabila seseorang mengalami gejala gangguan pencernaan, seperti begah, mual dan muntah, serta nyeri ulu hati sebaiknya segera berhenti makan. Untuk mencegah masalah lainnya, sebaiknya batasi makanan tinggi lemak, santan, serta makanan yang terlalu pedas dan asam. Selain itu, jangan konsumsi minuman bersoda dan kopi secara berlebihan.

“Pola makan yang tidak terkontrol saat Lebaran dapat menyebabkan kondisi penyakit menjadi tidak stabil, bahkan memicu komplikasi akut,” kata Ari.

Pertolongan pertama

Hasan mengatakan, gangguan asam lambung seperti GERD perlu ditangani dengan baik. Saat seseorang merasakan gejala GERD, sejumlah cara bisa dilakukan sebagai pertolongan pertama. Pertolongan pertama ini juga dapat dilakukan saat seseorang masih dalam perjalanan mudik.

Baca JugaGerd Bukan Asam Lambung Biasa, Waspada Komplikasi yang Mematikan 
Baca JugaBerisiko GERD, Hindari Kebiasaan Berbaring Setelah Makan
Baca JugaWaspada Komplikasi akibat GERD

Hal pertama yang bisa dilakukan yakni melonggarkan pakaian. Jika menggunakan ikat pinggang atau pakaian yang ketat, segera longgarkan, terutama di bagian perut. Tekanan pada bagian perut dapat memperburuk aliran balik dari asam lambung.

Selain itu, atur posisi duduk. Tegakkan posisi duduk dan hindari posisi membungkuk ataupun meringkuk. Jika memungkinkan, sandarkan punggung dengan posisi kepala dan dada lebih tinggi dari perut. Posisi ini dilakukan untuk memanfaatkan gaya gravitasi agar asam lambung tidak terus naik.

Seseorang juga dapat melakukan pernapasan dalam. Tarik napas melalui hidung dan buang secara perlahan melalui mulut. Hal tersebut akan membantu untuk merelaksasi otot saluran cerna dan mengurangi rasa panik yang dapat memperburuk produksi asam lambung.

“Jika kondisi tidak mereda dan terjadi gejala berat yang ditandai dengan nyeri ulu hati sangat hebat disertai muntah atau sesak napas, maka sebaiknya jangan memaksakan diri. Jika gejala GERD tak berangsur pulih, segera kunjungi unit emergency rumah sakit terdekat untuk penanganan yang tepat,” tutur Hasan.

Ari menambahkan, dalam kondisi darurat ringan seperti nyeri ulu hati ataupun mual, seseorang diharapkan untuk segera beristirahat. Pastikan pula untuk menghindari makanan yang dapat memicu naiknya asam lambung. Jika gejala muncul, segera konsumsi obat penetral asam lambung yang tersedia.

Ia pun mengimbau agar orang yang memiliki riwayat gangguan asam lambung untuk selalu menyiapkan obat-obatan yang biasa dikonsumsi. Hal ini untuk mengantisipasi keterbatasan akses obat selama libur Lebaran serta keterbatasan akses layanan kesehatan di beberapa tempat tujuan mudik.

Makanan lebaran yang mengandung santan dan lemak bukan berarti tidak boleh dimakan sama sekali. Makanan tersebut tetap bisa dinikmati dengan jumlah yang terbatas.

Baca JugaLebaran Tetap Bugar dan Sehat meski Makan Enak

Sebagai penyeimbang, konsumsi pula makanan berserat seperti sayur dan buah. Makanan dengan kandungan serat tinggi dapat membantu mengurangi penyerapan gula dan lemak di saluran pencernaan.

“Lebaran adalah momen bahagia, namun kesehatan tetap harus menjadi prioritas. Kuncinya adalah menjaga keseimbangan. Boleh menikmati hidangan, tetapi tetap terkontrol,” ujar Ari.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indonesia, Brunei, Malaysia, dan Singapura Kompak Tetapkan Lebaran Jatuh pada 21 Maret 2026
• 13 jam laluokezone.com
thumb
Prabowo Sebut Penggunaan Anggaran di Daerah Tak Produktif, Singgung Pembelian Mobil Dinas Gubernur Rp 8 Miliar
• 15 jam laluviva.co.id
thumb
Arus Mudik Pelindo Regional 4 Naik 8,25 Persen, Balikpapan dan Makassar Jadi Pelabuhan Tersibuk
• 5 jam laluterkini.id
thumb
Ini Lokasi Salat Idulfitri di Jakarta Pada Jumat 20 Maret
• 17 jam lalujpnn.com
thumb
Warga Tempati Rumah Subsidi Presiden Prabowo
• 9 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.