SEMARANG, KOMPAS — Pemberlakuan sistem lalu lintas satu arah atau oneway dari Kilometer 70 Tol Jakarta-Cikampek hingga Kilometer 414 Gerbang Tol Kalikangkung, Kota Semarang, Jawa Tengah dihentikan mulai Jumat (20/3/2026) siang. Kebijakan itu diambil karena kepadatan kendaraan di jalan tol sudah berkurang sekaligus untuk mengurai kepadatan di jalur arteri.
Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jateng Komisaris Besar Artanto menyebut kebijakan itu mulai dihentikan pada Jumat (20/3/2026) pukul 14.00 WIB. Sebelum kebijakan oneway dihentikan, polisi lebih dulu mensterilisasi jalur untuk memastikan tidak ada lagi kendaraan ke arah Semarang di jalur B atau jalur Semarang menuju Jakarta.
Menurut Artanto, kebijakan itu diambil karena volume kendaraan dari arah Jakarta menuju Jateng cenderung turun. Pada Jumat, jumlah kendaraan yang melintas di Gerbang Tol (GT) Kalikangkung berkisar 1.000-2.000 unit per jam. Jumlah itu menurun drastis dibandingkan jumlah kendaraan yang melintas pada Rabu-Kamis (18-19/3/2026) yang mencapai lebih dari 3.000 unit per jam.
"Puncak arus mudik di Jateng sudah lewat, yaitu pada Rabu (18/3/2026), dari pukul 15.00-16.00 WIB. Jumlah kendaraan yang melintas saat itu di atas 4.000 kendaraan per jam. Setelah itu, rata-rata jumlah kendaraan yang melintas per jam terus menurun," kata Artanto saat dihubungi, Jumat siang.
Selain karena jumlah kendaraan di jalur tol sudah berkurang, sistem oneway dihentikan untuk mengurangi beban lalu lintas di jalur arteri. Dengan dihentikannya oneway, kendaraan dari timur ke barat atau arah Semarang ke Jakarta yang semula semuanya lewat jalur arteri bisa kembali lewat jalan tol.
"Kalau jalur tol dibuat oneway, imbasnya memang ke arteri. Pemudik atau masyarakat yang akan bergerak ke arah barat pasti lewat arteri, jadi pasti menumpuk. Wajar kalau ada antrean atau kepadatan arus," kata Artanto.
Artanto menyebut, selama pemberlakuan oneway, kepadatan arus lalu lintas terjadi di jalur arteri, baik di pantura, jalur tengah, jalur selatan, dan jalur selatan-selatan. Tim pengurai diterjunkan ke sejumlah titik untuk mengurai kepadatan.
Tak hanya oneway, menurut Artanto, kepadatan di jalur arteri juga terjadi karena adanya sejumlah pasar tumpah. Selain itu, kendaraan-kendaraan yang berjalan melawan arus juga dinilai menyebabkan situasi jalanan menjadi kacau.
Selain menghentikan oneway nasional, Polda Jateng juga sudah menghentikan oneway lokal pada Kamis (19/3/2026) malam, mulai pukul 19.30 WIB. Sebelumnya, oneway lokal diterapkan dari Gerbang Tol Kalikangkung hingga Kilometer 460 Salatiga sejak Rabu (18/3/2026) pukul 16.37 WIB. Alasannya, beban kendaraan di jalan tol sudah berkurang.
Rekayasa lalu lintas berupa oneway juga sempat diberlakukan di jalur selatan Kabupaten Brebes pada Kamis. Oneway diterapkan di dari Underpass Karangsawah di Kecamatan Tonjong hingga Pasar Linggapura di Kecamatan Tonjong pada Kamis.
"Langkah ini terbukti efektif mencairkan antrean kendaraan yang sebelumnya terjadi dari wilayah Karanganyar, Kabupaten Tegal hingga Pasar Linggapura, Tonjong. Meski terjadi antrean kendaraan dari arah Pejagan (Brebes) menuju Purwokerto (Banyumas), arus lalu lintas secara umum masih bergerak," ujar Kepala Seksi Humas Kepolisian Resor Brebes, Inspektur Satu Indra Prasetyo.
Kepadatan juga terjadi di jalur tengah Brebes, yakni ruas Larangan-Songgom. Di titik tersebut, Polres Brebes menerapkan sistem buka tutup secara bertahap untuk mengurai kepadatan.
Pada Kamis malam, arus lalu lintas di jalur Larangan–Ketanggungan juga sempat tersendat. Kondisi itu disebabkan oleh truk yang mengalami patah as roda. Petugas yang berjaga di Pos Pengamanan (Pospam) Dermoleng yang tak jauh dari lokasi kejadian langsung menghampiri truk tersebut.
Menurut Kepala Pospam Dermoleng, Inspektur Dua Sugiyanto polisi langsung mengamankan lokasi dengan memasang rambu-rambu dan meletakkan tanda peringatan di sekitar truk tersebut untuk menghindari kecelakaan. Setelah itu, polisi membantu mengevakuasi truk tersebut ke lokasi lain supaya jalur yang dilalui pemudik ke arah Banyumas dan sekitarnya itu kembali steril.
"Prioritas utama kami adalah memastikan tidak ada hambatan fatal di jalur mudik, serta mencegah terjadinya kecelakaan akibat kendaraan yang mogok di titik gelap," kata Sugiyanto.
Sugiyanto mengimbau para pengguna jalan untuk mengecek kondisi fisik kendaraan sebelum melakukan perjalanan. Selama di jalan, para pengemudi juga diminta memastikan kondisinya prima. Jika lelah atau mengantuk, para pengemudi diminta mencari tempat istirahat terdekat dn tidak memaksakan diri demi mengejar waktu karena keselamatan merupakan hal yang utama.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/2822931/original/080875500_1559665581-Malam-Takbiran3.jpg)


