Unggah Hampers di Media Sosial, Tulus atau Malah Flexing? Ini Kata Psikolog!

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Momen saling kirim hampers jadi salah satu tradisi yang dijalani oleh beberapa orang di momen Lebaran. Setelah mendapat hampers, tidak sedikit juga yang membagikan ucapan terima kasih mereka lewat media sosial, lengkap dengan foto hampers yang diterima.

Tapi di balik itu, muncul pertanyaan: apakah mengunggah hampers di media sosial merupakan bentuk apresiasi yang tulus, atau justru terkesan pamer alias flexing?

Kata Psikolog soal Mengunggah Hampers di Media Sosial, Tulus atau Flexing?

Psikolog Anak dan Keluarga, Roslina Verauli, M.Psi.,Psi., menjelaskan, setiap orang punya cara berbeda dalam mengekspresikan rasa syukur dan apresiasi.

Value setiap orang berbeda dalam menanggapi rasa syukur dan memberikan apresiasi. Ada yang menghayati secara personal, ada pula yang merasa perlu mengungkapkan secara terang-terangan. Mana yang lebih baik? Tentu saja apresiasi yang paling tulus!” ungkap Verauli dalam sebuah unggahan di akun Instagram-nya. kumparanMOM telah diizinkan untuk mengutip.

Menurut Verauli, baik membagikan di media sosial maupun menyampaikan secara pribadi lewat pesan langsung atau japri, keduanya sama-sama valid selama dilakukan dengan niat yang tulus.

Menariknya, ia menyebut bukan hanya cara seseorang mengekspresikan rasa terima kasih yang berbeda, tetapi juga cara orang lain menanggapi hal tersebut. Ada yang ikut merasa senang saat melihat orang lain menerima hampers, tapi ada juga yang justru merasa kurang nyaman, bahkan menganggapnya sebagai bentuk pamer.

Menurut Verauli, perbedaan respons ini sebenarnya berkaitan dengan kondisi batin masing-masing individu atau yang disebut sebagai inner state atau kondisi batin masing-masing.

"Kenyataannya manusia nggak pernah melihat realita apa adanya. Melainkan mengacu pada 'inner state' dirinya sendiri. Jadi, apa yang kita lihat pada postingan tentang hampers seringkali lebih menggambarkan apa yang diri rasakan, bukan tentang orang lain," tutur dia.

Ia menjelaskan, manusia sering kali tidak melihat sesuatu secara objektif, melainkan melalui “kacamata” perasaan dan pengalaman pribadinya.

Gratitude bagi seseorang bisa terasa seperti flexing bagi orang lainnya. Bukan karena kontennya, melainkan terkait inner state-nya saat itu,” jelas Verauli.

Pada akhirnya, setiap orang punya cara masing-masing untuk mengungkapkan rasa terima kasih. Mau dibagikan di media sosial atau cukup disampaikan secara pribadi, dua-duanya tetap berarti, selama datang dari tempat yang tulus. Anda tim mengunggah ke media sosial atau japri nih, Moms?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menaker Tekankan Kepedulian dalam Membangun Hubungan Industrial
• 18 jam lalujpnn.com
thumb
Masjid di BSD Gelar 2 Kali Salat Id, Fasilitasi Jemaah Muhammadiyah & Pemerintah
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Fendi Bocah Gunungkidul Putus Sekolah demi Rawat Ibu, Relawan Prabowo: Kita Kawal!
• 7 jam laluokezone.com
thumb
Jelang Idul Fitri 2026, Warga Jogja Semarakkan Malam Takbiran dengan Pawai Takbir Keliling di Titik Nol Km
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Libur Sekolah Lebaran 2026 Sampai Kapan? Cek Jadwal Lengkapnya di Sini
• 12 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.