Inggris mencatat defisit anggaran pada Februari 2026. Defisit didorong oleh lonjakan biaya bunga utang yang sudah meningkat sebelum gejolak melanda pasar obligasi setelah pecahnya perang antara AS-Israel dengan Iran.
Dikutip dari Bloomberg, Jumat (20/3), pengeluaran Inggris pada Februari melebihi penerimaan pajak sebesar 14,3 miliar poundsterling atau sekitar USD 19,2 miliar. Hal ini dikarenakan Kementerian Keuangan Inggris menanggung biaya bunga utang yang lebih tinggi pada bulan tersebut.
Defisit juga lebih tinggi dari perkiraan para ekonom yang memperkirakan defisit ada pada level 8,8 miliar poundsterling.
Dalam 11 bulan pertama tahun fiskal 2025-2026, pinjaman Inggris mencapai 125,9 miliar poundsterling. Meski angka 11,9 miliar poundsterling lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, defisit setahun penuh diperkirakan melampaui proyeksi terbaru dari Office for Budget Responsibility (OBR) sebesar 132,7 miliar poundsterling.
Defisit Februari naik karena lonjakan biaya bunga utang yang terkait inflasi (RPI dan obligasi terkait inflasi), serta pembayaran kupon sebesar 2 miliar poundsterling yang dimajukan ke Februari.
Tekanan bertambah dengan meningkatnya belanja layanan publik dan tunjangan dengan kenaikan pengeluaran total sebesar 10,8 miliar poundsterling atau melampaui kenaikan penerimaan pajak sebesar 8,6 miliar poundsterling.
Biaya utang Inggris pada Februari mencapai 13 miliar poundsterling atau naik 5,5 miliar poundsterling dibanding tahun sebelumnya.
Dengan begitu, Inggris memasuki krisis dengan tingkat utang yang jauh lebih tinggi dibanding sebelum pandemi. Office for National Statistics (ONS) menyebut rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di level 93,1 persen atau pada level yang terakhir terlihat pada awal 1960-an.





