Pembeli minyak di Asia meningkatkan impor minyak mentah dari Amerika Serikat hingga sekitar 60 juta barel untuk pengiriman April 2026, tertinggi dalam tiga tahun terakhir, seiring gangguan pasokan dari Timur Tengah akibat krisis Selat Hormuz.
Mnegutip Bloomberg, lonjakan pembelian tersebut terjadi dalam beberapa hari terakhir dan mencerminkan pergeseran pasokan energi Asia dari kawasan Teluk Persia ke Amerika Serikat, berdasarkan data pelaku pasar serta Kpler Ltd. dan Vortexa Ltd.
Gangguan distribusi minyak dari Timur Tengah dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak global.
Kondisi ini memukul negara-negara Asia yang bergantung pada pasokan minyak Teluk, mendorong penyesuaian operasi kilang, termasuk pemangkasan produksi serta pembatasan ekspor bahan bakar di China.
Dalam situasi tersebut, produsen minyak Amerika Serikat menjadi pihak yang diuntungkan dari lonjakan permintaan dan kenaikan harga, meskipun harga minyak yang lebih tinggi berpotensi menekan konsumsi domestik di negara importir.
Dari sisi harga, sejumlah kargo minyak AS untuk tujuan Asia mengalami kenaikan premi signifikan. Salah satu pengiriman ke Taiwan dihargai dengan premi US$12–US$13 per barel di atas Dated Brent. Sementara transaksi lain mencapai sekitar US$18 per barel di atas patokan Dubai.
Angka tersebut melonjak dibandingkan transaksi bulan sebelumnya yang hanya berada di kisaran US$5–US$6 per barel di atas Dubai sebelum konflik memanas.
Lonjakan permintaan juga berdampak pada pasar pengiriman minyak. Broker kapal melaporkan peningkatan pemesanan kapal tanker dan biaya pengangkutan.
Keterbatasan kapal besar jenis very large crude carrier (VLCC) yang biasanya mengangkut hingga 2 juta barel memaksa pelaku pasar menggunakan kapal berukuran lebih kecil seperti Aframax dan Suezmax untuk pengiriman ke Asia.
Dari total sekitar 60 juta barel tersebut, sekitar dua pertiga diperkirakan diangkut menggunakan VLCC, sementara sisanya menggunakan kapal tanker berukuran lebih kecil.
Meski volume impor meningkat, pasokan minyak AS tidak dapat menjadi solusi jangka pendek bagi kilang di Asia. Kargo yang dimuat pada April diperkirakan baru tiba di tujuan sekitar dua bulan kemudian.
Baca Juga: Lawan Amerika Serikat, Iran Mau Wajibkan Tiap Kapal Membayar Demi Lewat Selat Hormuz
Baca Juga: Kena Dampak Perang Iran, Eropa dan Jepang Nyatakan Siap Berkontribusi Amankan Selat Hormuz
Baca Juga: Gedung Putih Sebut Tanker Amerika Mulai Lewat Hormuz, tapi 3.200 Kapal Masih Terjebak
Pembeli minyak AS berasal dari sejumlah negara di Asia, termasuk Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan Thailand.
Secara historis, Amerika Serikat mengekspor sekitar 110 juta barel minyak per bulan, dengan sekitar setengahnya dikirim ke Eropa dan lebih dari sepertiga ke Asia. Pada dua bulan pertama 2026, pembelian Asia tercatat sekitar 35 juta barel per bulan.
Kenaikan impor pada April menunjukkan peningkatan signifikan dalam respons pasar terhadap gangguan pasokan global akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.





