Bripka Hana Heriyana memanfaatkan limbah menjadi nilai ekonomi warga Desa Tegal Maja, Serang, Banten, selama menjadi Bhabinkamtibmas. Bripka Hana mengajak warga mengolah kotoran kerbau hingga limbah kertas menjadi kerajinan tas.
Bripka Hana diusulkan oleh sejumlah warga untuk Hoegeng Awards 2026. Rini, Staf Desa Tegal Maja menilai Bripka Hana menjadi sosok yang inovatif dan dekat dengan masyarakat selama menjadi Bhabinkamtibmas.
"Beliau itu sangat bagus, berbaur sama masyarakat juga di sini, sigap, inovatif, kreatif, pokoknya Pak Hana ikut berbaur aja dalam kegiatan apa aja di desa kami," ujar Rini kepada detikcom, Selasa (10/3/2026).
Rini mengatakan salah satu program yang dibuat Bripka Hana adalah mengolak kotoran sapi menjadi pupuk kompos. Dia menyebut kotoran sapi ini sempat dikeluhkan warga karena berserakan di lingkungan.
"Emang kotoran kerbau itu kan berserakan, kemudian dicoba untuk dibuat pupuk. Jadi dari yang ternak-ternak kerbau itu dikasih karung, dikasih nilai satu karung yang kering itu sekitar Rp 5 ribu, kemudian dikelola ditambahin jerami kering segala macam, digiling, difermentasi juga," tutur Rini.
Rini menyebut program ini meningkatkan perekonomian warga. Di sisi lain, lingkungan menjadi bersih dari kotoran kerbau.
"Karena kan merusak juga ya, di jalanan itu berserakan banget, semenjak ada program itu alhamdulillah kayak rebutan itu, ada kotoran, dipinggirin, dikumpulin jadi alhamdulillah agak lumayan bersih kalau untuk sekarang," ucap dia.
Lokasi pengolahan pupuk kompos ini berada di dekar rumah kepala desa. Saat ini ada 5 orang pekerja di pengolahan pupuk kompos.
"Yang untuk mengelola 4-5 orang, kalau untuk masyarakat (yang jual) ya setiap masyarakat kalau yang punya ternak kerbau. Jadi mereka setorin. Sebenarnya ibu-ibu ya, jadi lumayan buat tambah-tambah beli cabai," ucap dia.
Selain itu, Bripka Hana juga mengajak warga memanfaatkan limbah kertas dari pabrik di wilayah setempat menjadi kerajinan tas. Program ini atas usulan kepala desa dan dibantu Bripka Hana.
"Kalau limbah kertas itu limbah dari PT yang ada di desa kami, dulu dibuang, setelah itu dicoba sebuah karya kayak tas segala macam. Nah kita pelatihan dulu, dan akhirnya warga kita juga bisa," ucap dia.
Bripka Hana biasanya membantu pemasaran produk kerajinan tas dari kertas ini. Sebanyak 30 orang warga tergabung dalam kerajinan tangan ini.
"Kalau ada pameran, kalau ada penjualan Pak Hana juga suka nginfoin, 'Bu Rini, ini ada yang pesan ini'. Yang paling murah itu produk kami Rp 35 ribu, kalau untuk tas kayak tas branded itu Rp 800 ribu sampai Rp 1,5 juta," katanya.
Bripka Hana sudah pindah tugas sejak Desember 2025 lalu. Hana kini bertugas sebagai Bintara Unit 3 Sat Intelkam Polres Serang.
"Programnya masih berjalan, karena Pak Hana sendiri meskipun udah pindah ke Polres masih ikut andil Pak Hana, masih suka ke sini juga, membantu," ucap dia.
Sebelumnya, Bripka Hana adalah salah satu kandidat yang diusulkan untuk program Hoengeng Corner 2025. Bripka Hana membuat program pupuk kompos dan kerajinan tas dari kertas karena masalah limbah salah satu hal yang dikeluhkan warga.
Bripka Hana menjadi Bhabin di Desa Tegalmaja selama 3 tahu. Pada saat pertama tugas, Hana melihat mayoritas warga desanya memiliki peternakan kerbau. Hal ini menimbulkan masalah karena kotoran kerbau mengganggu kenyamanan warga.
"Berawal dari persoalan lingkungan, jadi antara masyarakat yang memiliki hewan kerbau dan juga yang tidak ada sedikit perselisihan di lingkungan itu, sikat cerita warga yang tidak memiliki hewan ternak itu komplain karena baunya dan mengotori lingkungan juga," kata Hana saat berbincang dengan detikcom, Selasa (11/11/2025).
Hana memutar otaknya untuk mengatasi masalah warga tersebut. Dia akhirnya mengusulkan kepada Kepala Desa Agar kotoran sapi itu dimanfaatkan menjadi pupuk kompos.
"Alhamdulillah Pak Kepala Desa satu visi dengan saya, kita ubahlah konflik sosial yang ada di lingkungan menjadi produk yang menghasilkan, terutama untuk masyarakat," tutur Hana.
Pengolahan pupuk kompos ini sudah berjalan satu tahun. Hana juga mengajak warga yang tidak memiliki pekerjaan untuk terlibat dalam pembuatan pupuk kompos ini.
Hana kemudian membeli kotoran hewan kerbau dari warga dengan harga Rp 5 ribu per karung. Kotoran kerbau kemudian dicampur dengan beberapa bahan baku lainnya hingga menjadi pupuk kompos.
"Awalnya dari masyarakat dikumpulkan ke kita, per karung kita hargai Rp 5 ribu, kita tampung lalu kita masuk proses produksi. Kita dengan nerima dari masyarakat dengan catatan bahan baku sudah kering," kata dia.
"Produksinya itu pertama kita masukan penggilingan, dicampur bahan baku lainnya, seperti sekam, jerami, molase, serta kapur pertanian. Setelah proses penggilingan kita fermentasi selama 2 minggu, baru kita masuk pengemasan," ucap dia.
Setelah proses produksi selesai, pupuk kompos akan dikemas dengan karung 10 kg dengan harga Rp 20 ribu, plastik 1 kg pupuk kompos biasa seharga Rp 10 ribu dan kemasan 1 kg pupuk kompos premium dengan harga Rp 20 ribu.
"Kalau omzet kita per bulan nggak tentu, tapi alhamdulillah sementara ini dari awal buka sampai hari ini kita sudah bisa menjual lebih dari 30 ton," ucap dia.
Bripka Hana juga memanfaatkan limbah pabrik kertas menjadi kerajinan tangan. Dia menggandeng ibu-ibu di Desa Tegalmaja untuk membuat tas dari bahan baku limbah kertas tersebut.
"Kita jua punya kelompok pengrajin, lagi-lagi berasal dari limbah kertas dari perusahaan. Jadi dimanfaatkan, kita bantu pemasaran, pemilihan bahan baku juga. Untuk para pekerja itu kita arahkan ke kaum perempuan, ibu-ibu," ucap dia.
Kerajinan ini telah berlangsung sejak 3 tahun yang lalu. Hana mulanya menghubungi pihak perusahaan bersama kepala desa untuk memanfaatkan limbah tersebut.
"Bahan baku tidak ada yang lirik, dibuang begitu saja oleh perusahaan. Jadi sisa limbahnya kita berpikir kenapa nggak dimanfaatkan," ucap dia.
Limbah kertas tersebut kemudian diolah menjadi produk tas. Biasanya satu produk tas bisa selesai dalam 3-4 hari.
"Ibu-ibu untuk pengrajin itu 50 orang yang kita berdayakan dan kita udah sering ikut event pameran," jelasnya.
(lir/aud)




