Bisnis.com, JAWA BARAT – Di tengah dominasi Tol Trans-Jawa yang memangkas jarak Banten–Banyuwangi pada momentum mudik Lebaran 2026, masih ada denyut jalur legendaris Pantura yang belum sepenuhnya ditinggalkan pemudik.
Sebagian pemudik masih memilih setia pada rute lama untuk menolak tunduk pada efisiensi jalan bebas hambatan. Alasannya beragam, mulai dari kebiasaan hingga keinginan mencoba hal baru.
Nanang (46) menjadi salah satu pemudik yang masih setia dengan jalur Pantura. Bepergian bersama tiga orang anak dan seorang istri, Nanang memilih menggunakan mobil di luar jalur tol menuju Nganjuk, Jawa Timur.
Kebiasaan pulang kampung menggunakan jalur arteri telah biasa dilakukan Nanang dan keluarga saban tahun. Bukan lantaran biaya tol mahal, melainkan demi mengedukasi anak-anaknya.
Nanang (46) saat ditemui di posko mudik Dishub Kota Cirebon, Jumat (20/3/2026) / JIBI - Rama Paramahamsa"Ingin menikmati suasana saja, suasana tiap kota. Itu kan berbeda-beda. Nah, setiap kota kadang-kadang keliling. Ngenalin ke anak-anak saja, ‘oh ini kota ini nih’," katanya kepada Bisnis di Cirebon, Jumat (20/3/2026).
Baca Juga
- JELAJAH LEBARAN 2026: Mengintip Kerja Keras TelkomGroup Melancarkan Komunikasi
- JELAJAH LEBARAN 2026: Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang Catat Lonjakan Penumpang 7,7% YoY
- JELAJAH LEBARAN 2026: Siagakan Posko Mudik, BRI Sediakan Sederet Layanan
Selain itu, menggunakan mobil di jalur arteri, Nanang mengaku dapat menikmati waktu lebih lama bersama istri dan anak-anaknya yang masih belia. Dia juga kerap melakukan wisata kuliner di daerah tertentu saat melintas.
Ihwal biaya, Nanang tidak ambil pusing. Hanya untuk membeli BBM, Nanang membutuhkan Rp700.000 dan masih tersisa setelah pulang-pergi. Memori bersama keluarga adalah hal yang sangat ia pentingkan.
"Justru momen menikmati perjalanan itu yang susah didapat. Coba misalkan langsung sampai tujuan, perjalanannya itu tidak ada nikmatnya," katanya.
Hal serupa dilakukan oleh Tri Joko Susilo (45). Pemudik dengan tujuan akhir Klaten, Jawa Tengah, ini memilih menggunakan sepeda motor untuk pulang ke kampung halaman.
Jarak yang biasanya dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat selama tujuh jam perjalanan kini membengkak menjadi sekitar 16 jam lantaran tidak menggunakan jalan bebas hambatan. Alasannya sederhana: mudik dengan sepeda motor telah menjadi kebiasaannya.
"Kalau saya lebih suka menikmati perjalanan saja. Jadi menikmati apa yang dilihat di kanan-kiri. Jadi kadang kita tahu dengan melihat sendiri," katanya saat ditemui Bisnis di Cirebon, Jumat (20/3/2026).
Joko berangkat seorang diri menggunakan Honda Beat. Ia membiarkan anak dan istrinya mudik terlebih dahulu menggunakan transportasi umum. Meskipun begitu, perjalanan sepanjang 545 kilometer tetap ia nikmati.
Alasan lainnya, Joko menikmati perjalanan karena adanya kesempatan untuk mengunjungi kawan lama di sepanjang perjalanan mudik.
Belum lagi, dia mengaku banyak mendapatkan pelajaran baru sepanjang perjalanan, seperti gestur tubuh pengendara untuk memberi tahu pengendara lain mengenai kondisi jalan.
"Dibandingkan capek, ya tidak apa-apa, demi mendapat pengalaman baru. Kalau capek, semua juga capek. Naik mobil juga capek," katanya.
Mudik kali ini menandai 20 tahun Joko pulang ke Klaten menggunakan sepeda motor. Ia mengaku masih berencana melakukan hal serupa di kemudian hari, selama kondisi fisiknya masih memungkinkan.
Namun, Joko tidak sendirian. Dinas Perhubungan Kota Cirebon mencatat terdapat 142.370 unit kendaraan yang melintas pada Kamis (19/3/2026).
Dirinci, sekitar 130.000 unit merupakan kendaraan roda dua, 9.335 unit kendaraan roda empat, 647 angkutan umum, dan sisanya angkutan barang. Indra menegaskan bahwa torehan tersebut merupakan puncak arus mudik di Kota Cirebon.
"Nah itu jumlahnya kalau dibandingkan dengan 2025 ada sedikit penurunan. Namun dibandingkan dengan hari sebelumnya, di H-3, terjadi peningkatan sekitar 12%," kata Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Cirebon, Indra Setiaman, saat ditemui Bisnis di Cirebon, Jumat (20/3/2026).
Indra menjelaskan bahwa meski secara tahunan (year-on-year/YoY) terdapat koreksi, intensitas kendaraan yang melintasi jalur arteri Cirebon tetap menunjukkan kepadatan yang signifikan dibandingkan hari-hari biasa.
Kenaikan 12% dari hari sebelumnya menandakan pergerakan pemudik, khususnya pengguna sepeda motor, masih mendominasi arus lalu lintas menuju arah timur Jawa.
Menjaga Denyut EkonomiAksi ratusan ribu masyarakat yang tetap setia pada jalur Pantura turut memberikan kontribusi terhadap denyut ekonomi masyarakat di daerah sekitar. Kehadiran lebih dari seratus ribu orang dalam satu momen berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan di kawasan tujuan pemudik.
Empal Gentong Mang Darma di Cirebon menjadi salah satu UMKM yang meraup berkah dari periode mudik Lebaran 2026. Berada di dekat jalur arteri Cirebon, rumah makan ini diperkirakan mencatatkan pertumbuhan pendapatan pada periode mudik.
Adis, pengelola kedai Empal Gentong Mang Darma, mengaku jumlah pengunjung meningkat hingga 70% pada periode mudik tahun ini. Selama sepekan terakhir, pengunjung dari luar kota telah berdatangan.
Namun, lonjakan ini disebut belum sebesar biasanya. Berbagai spekulasi muncul, salah satunya kebijakan one way yang diterapkan di Tol Trans-Jawa.
"Baru 70% [pertumbuhan pengunjung]. Biasanya lebih ramai, cuma mungkin tahun ini belum terlalu ada lonjakan karena di tol-nya one way. Agak berkurang dibandingkan tahun lalu," katanya.
Namun, ia berharap arus balik dapat mendorong pertumbuhan jumlah pengunjung lebih tinggi.
"Kemungkinan di arus balik, karena jalur ini juga bisa jadi jalur alternatif. Kalau di tol one way, biasanya pemudik akan mengikuti jalur ini untuk ke Indramayu dari arah Jakarta," katanya.
Di sisi lain, Kamar Dagang dan Industri Indonesia memperkirakan potensi perputaran uang mencapai Rp148,39 triliun selama periode Hari Raya Idulfitri 1447 H/2026, di tengah jumlah pemudik yang mengalami penurunan.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menilai penurunan jumlah pemudik tidak serta-merta menekan perputaran uang.
Dengan asumsi rata-rata pengeluaran per keluarga mencapai Rp4,125 juta atau naik 10% dibandingkan tahun lalu sebesar Rp3,75 juta, total perputaran uang selama periode Lebaran diperkirakan mencapai Rp148,39 triliun atau meningkat sekitar 8% dibandingkan tahun lalu.
Perputaran uang tersebut bahkan berpotensi menembus Rp161,88 triliun jika rata-rata pengeluaran per keluarga mencapai Rp4,5 juta.
“Angka perputaran uang ini berpotensi naik. Hitungan ini di angka yang moderat atau paling rendah. Masih berpotensi mencapai Rp161,88 triliun dengan asumsi rata-rata per keluarga membawa uang sebesar Rp4.500.000,” kata Sarman dalam keterangan tertulis, Kamis (19/3/2026).
Adapun, perputaran uang tersebut diperkirakan tersebar di berbagai daerah, terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, serta sebagian ke wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Bali.
Menurut dia, belanja masyarakat selama Lebaran mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari transportasi, bahan bakar, perawatan kendaraan, hingga konsumsi rumah tangga seperti makanan, pakaian, dan oleh-oleh.




