Trump Sebut NATO ‘Pengecut’, Desak Buka Selat Hormuz di Tengah Perang Iran

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap sekutu militernya yakni NATO karena tidak ikut serta dalam perang melawan Iran maupun membantu membuka Selat Hormuz.

Dilansir dari Bloomberg, Sabtu (21/3/2026), dalam unggahan di Truth Social pada Jumat, Trump menyebut intervensi North Atlantic Treaty Organization untuk membuka jalur tersebut sebagai hal yang “mudah dilakukan dengan risiko kecil.” Dia bahkan menyebut anggota aliansi tersebut sebagai “pengecut”.

Trump juga mengklaim bahwa konflik dengan Iran secara militer telah “dimenangkan”, meskipun pertempuran telah berlangsung selama 21 hari tanpa tanda-tanda mereda. Ia mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat belum akan menarik pasukannya dalam waktu dekat.

Komentar tersebut muncul di tengah penutupan Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global. Penutupan ini mendorong lonjakan harga energi, dengan harga minyak mentah menyentuh level tertinggi sejak pertengahan 2022.

Iran terus melancarkan serangan ke fasilitas energi di kawasan Teluk, bahkan setelah Benjamin Netanyahu mengisyaratkan penghentian serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Serangan sebelumnya ke ladang gas South Pars memicu balasan Teheran terhadap fasilitas energi di Qatar.

Sejumlah negara Teluk melaporkan serangan lanjutan. Uni Emirat Arab dan Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat rudal dan drone, sementara Bahrain melaporkan kebakaran di gudang. Kuwait bahkan menghentikan beberapa unit di kilang Al Ahmadi akibat serangan.

Baca Juga

  • Bahas Perang Iran, Trump Singgung Pearl Harbor di Depan PM Jepang
  • Stabilkan Harga Minyak, Trump Tangguhkan Aturan Pengiriman AS untuk 60 Hari
  • Fokus Perang Iran, Trump Minta KTT dengan Xi Jinping Ditunda

Di sisi lain, AS dilaporkan mengirim tambahan kapal perang dan ribuan marinir ke Timur Tengah. Langkah ini mengindikasikan konflik berpotensi berlangsung lebih lama, meskipun Trump sebelumnya menyatakan tidak berencana mengirim pasukan darat ke wilayah Iran.

Lebih dari 4.200 orang dilaporkan tewas dalam konflik di kawasan, sebagian besar di Iran. Dampak perang juga mulai meluas secara global, mendorong kenaikan harga bahan bakar, biaya logistik, hingga kebutuhan rumah tangga.

Harga minyak Brent tercatat mendekati US$109 per barel menjelang akhir pekan. Sementara itu, pasar saham melemah dan harga emas menuju penurunan mingguan terbesar sejak awal pandemi.

Pemerintah AS juga dikabarkan mempertimbangkan operasi untuk menguasai Pulau Kharg—pusat ekspor minyak utama Iran—sebagai upaya menekan Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz.

Untuk mendukung operasi militer, Pentagon disebut mengajukan tambahan anggaran hingga US$200 miliar kepada Kongres. Selain itu, pemerintahan Trump melanjutkan penjualan senjata senilai US$23 miliar ke negara-negara seperti UEA, Kuwait, dan Yordania.

Konflik ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global dalam jangka panjang. Qatar memperkirakan hampir seperlima produksi LNG-nya terdampak hingga lima tahun ke depan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tak Hanya Indonesia, Ini Daftar Negara yang Rayakan Idul Fitri Hari Sabtu 21 Maret 2026
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Tak Diberi Izin, Pemkot Bandung Batal Buka Kebun Binatang di Momen Lebaran
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Boleh Libur Lebaran, Pelatih PSIM Beri Ancaman Tegas: Jangan Kembali dengan Berat Badan Berlebih!
• 15 jam lalumedcom.id
thumb
Ade Darmawan Bongkar Pernyataan Rismon soal Roy Suryo di Polemik Ijazah Jokowi
• 9 jam laluokezone.com
thumb
Nasaruddin Umar: Dunia Digital adalah Rimba Tanpa Batas
• 23 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.