Eksploitasi Batik di Balik Viralnya Kemeja Aimé Leon Dore

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Medsos dihebohkan kemeja bermotif batik brand Aimé Leon Dore hanya disebut bermotif abstrak. Kasus terkini eksploitasi budaya oleh brand fashion.

Akun Instagram brand fesyen Aimé Leon Dore⁠ (ALD) dipenuhi komentar dari warganet Indonesia yang memprotes salah satu produk koleksi Spring/Summer 2026. Kemeja bercorak yang disebut ‘Printed Abstract Shirt’ itu dianggap membajak motif batik Indonesia.

Belakangan, brand fesyen yang didirikan Teddy Santis di New York, Amerika Serikat itu mengoreksi penamaan produknya. Kini kemeja itu dinamai ‘batik inspired print shirt’ dengan status habis terjual.

Langkah ALD mengakui terinspirasi dari batik sebenarnya sudah sebuah kemajuan. Namun ada masalah yang lebih mendasar, yaitu cultural appropriation atau apropriasi budaya.

Jika merujuk pada definisi dan klasifikasi yang dibuat pakar komunikasi antarbudaya Richard A. Rogers, apropriasi budaya adalah penggunaan elemen budaya sebuah komunitas oleh anggota komunitas budaya yang berbeda. Rogers berpandangan, tidak semua apropriasi budaya negatif karena sangat bergantung pada hubungan kedua komunitas budaya dan cara penggunaan sebuah elemen budaya.

Rogers membagi apropriasi budaya menjadi tiga model, yaitu cultural exchange, cultural dominance, dan cultural exploitation. ALD dalam merancang produk kemeja “terinspirasi” batik termasuk dalam tindak cultural exploitation atau eksploitasi budaya.

Eksploitasi batik pada produk kemeja ALD

Kemeja ALD yang dikritik warganet Indonesia awalnya sama sekali tidak menyebut batik, tetapi hanya sebuah motif abstrak. Produk itu juga tidak dibuat di India tanpa ada penjelasan apakah ada keterlibatan perancang atau produsen batik Indonesia.

Mencomot corak batik tanpa melibatkan komunitas pemilik elemen budaya seperti ini yang disebut Rogers sebagai eksploitasi budaya. Sebuah brand fesyen dari negara maju mengambil elemen budaya dari negara yang lebih lemah secara politik dan ekonomi untuk dieksploitasi untuk meraih kepentingan finansial tanpa apresiasi dan keuntungan yang dapat diterima oleh komunitas yang jadi asal-usul elemen budaya tersebut.

Kasus serupa pernah terjadi pada 2012. Ketika itu produsen fesyen mewah Louis Vuitton merilis koleksi musim semi/panas dengan corak yang diklaim terinspirasi kain suku Maasai. Masyarakat adat di Kenya itu tidak pernah diajak bicara atau mendapat kompensasi atas penggunaan corak kain tradisional mereka. Mungkin kebetulan, perusahaan LVMH yang jadi pemilik merek Louis Vuitton adalah investor di ALD.

Rogers menekankan, dalam menilai terjadinya eksploitasi budaya perlu melihat posisi kedua komunitas budaya. Sejak awal, ada posisi yang timpang antara ALD yang disokong produsen barang mewah LVMH dan komunitas batik di Indonesia. Kekuatan ekonomi antara kedua pihak ini tidaklah setara, dengan ALD berada pada posisi yang dominan atau lebih kuat. Ketika pihak yang dominan memakai elemen budaya komunitas yang lebih lemah tanpa memberikan manfaat nyata, jelaslah itu merupakan tindakan apropriasi budaya yang berbentuk eksploitasi.

Apresiasi tak cukup dengan label "terinspirasi"

Pelaku apropriasi budaya secara negatif kadang berkelit dengan melabeli tindakan mencomot elemen budaya ini sebagai “terinspirasi” oleh produk budaya sebuah masyarakat. Namun dalam eksploitasi budaya di mana sebuah elemen budaya semata dimanfaatkan untuk kepentingan komersial ada dampak negatif ikutan yang terjadi. Sebuah elemen budaya memiliki nilai budaya dan pembajakan unsur budaya seringkali mengabaikannya.

Motif batik Indonesia bukan sekadar corak kain, tetapi memiliki makna yang khas dan erat dengan nilai-nilai budaya masyarakat tempat motif itu lahir. Menurut Rogers, eksploitasi elemen budaya dalam apropriasi budaya membuat nilai-nilai itu luntur dan pengggunaan elemen seringkali tidak sesuai dengan nilai budaya aslinya.

Sebuah elemen budaya tidak sepantasnya dilepaskan dilepaskan dari komunitasnya seperti langkah ALD menyebut batik cuma sebuah motif abstrak. Cara itu akan membuat bkemeja bermotif batik sekadar baju dengan corak tidak biasa tanpa ada penghargaan terhadap sejarah dan nilai penting batik.

Belajar dari kasus kemeja batik ALD, penggunaan elemen budaya perlu pendekatan kehati-hatian dan respek terhadap komunitas asal unsur budaya. Rogers menyarankan model cultural exchange atau pertukaran budaya sebagai tindakan apropriasi budaya yang positif. Pertukaran budaya terjadi antara dua kelompok budaya dalam posisi setara sehingga tidak ada yang secara sepihak mengambil keuntungan dari sebuah elemen budaya.

Jika dikaitkan dengan kasus ALD, produsen fesyen ini seharusya tidak cukup mengganti label kemeja. Mereka perlu menghargai batik dan komunitas budaya asal batik dengan lebih serius. Misalnya dengan berkolaborasi dengan perancang busana atau produsen kain batik di Indonesia.

ALD yang punya pengalaman kolaborasi dengan brand fesyen seperti New Balance tentunya punya kapabilitas untuk merancang kerja sama dengan komunitas yang jadi tempat lahirnya batik. Sebelum meluncurkan produk kemeja batik, diskusilah dengan perancang atau komunitas batik tentang penggunaan motif batik yang tepat sesuai nilai budaya. Kolaborasi juga membuat masyarakat yang menggantungkan hidup dari produksi batik mendapatkan manfaat ekonomi jika bahan kain kemeja yang dibanderol sekitar Rp 3,9 juta itu diimpor dari Indonesia.

Apropriasi budaya secara positif tidak cukup hanya dengan memberi label apresiasi. Tindakan nyata diperlukan sehingga elemen sebuah budaya diimplementasi sesuai nilai-nilai aslinya dan komunitas pemilik elemen budaya mendapatkan manfaat yang positif dari penggunaannya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Momen Prabowo, Didit, dan Titiek Soeharto Kumpul Jelang Lebaran, Ada Bobby Kertanegara Juga
• 9 jam lalurctiplus.com
thumb
5 Masjid Ini Jadi Fokus Pengamanan Malam Takbiran di Bali
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
TelkomGroup Lepas Ribuan Pemudik di Program Mudik BUMN 2026
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
Transaksi Ramadan di Jakarta Tembus Rp21 Triliun, Aktivitas Belanja di Tanah Abang Jadi Penyumbang
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Dari Ramadan ke Pembangunan Berkelanjutan: Mengelola Alam sebagai Amanah
• 16 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.