Jakarta, VIVA – Momen Idul Fitri identik dengan kebersamaan, silaturahmi, dan suasana hangat bersama keluarga besar. Namun di balik kehangatan itu, ada satu hal yang kerap membuat sebagian orang merasa canggung: pertanyaan pribadi seperti “kapan nikah?”, “sudah punya pasangan belum?”, atau bahkan komentar soal penampilan.
Alih-alih memicu konflik atau membuat suasana menjadi tidak nyaman, ternyata pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa dihadapi dengan cara yang lebih bijak. Akademisi dari Universitas Gadjah Mada, Lu’luatul Chizanah, membagikan pandangannya tentang bagaimana merespons situasi ini dengan lebih cerdas dan tetap menjaga hubungan baik.
Menurutnya, penting untuk tidak langsung memberi label negatif terhadap pertanyaan semacam itu. Dalam banyak kasus, pertanyaan tersebut justru muncul sebagai bentuk basa-basi atau upaya membuka percakapan agar suasana terasa lebih akrab.
“Namun, seiring pergeseran nilai sosial, pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi kurang relevan dalam konteks kehidupan saat ini,” katanya yang dikutip dari NU Online pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa cara kita merespons justru bisa menjadi kunci untuk menciptakan interaksi yang lebih positif. Respons yang tepat juga dapat membantu kita memahami maksud dari orang yang bertanya, apakah benar peduli atau sekadar ingin berbincang ringan.
“Terakhir, jangan lupa berikan senyuman paling elegan yang bisa kita tampilkan,” tambahnya.
Antara Tradisi dan PrivasiDalam budaya Indonesia, pertanyaan tentang kehidupan pribadi sering dianggap wajar. Hal ini karena masyarakat memiliki nilai kebersamaan yang tinggi, di mana percakapan personal sering digunakan untuk membangun kedekatan.
Namun, di sisi lain, generasi sekarang mulai lebih menghargai batasan privasi. Perbedaan sudut pandang inilah yang kadang memicu rasa tidak nyaman saat pertanyaan tersebut muncul, terutama di forum keluarga besar.
Pertanyaan yang terdengar sederhana bisa berdampak besar jika tidak disikapi dengan kesiapan mental. Luluk menjelaskan bahwa seseorang bisa merasa tertekan, terutama jika pertanyaan itu dilontarkan di depan banyak orang.
“Ketika seseorang tidak siap menghadapi pertanyaan tersebut, dapat muncul perasaan terintimidasi. Apalagi jika disampaikan di hadapan banyak orang, hal itu bisa menimbulkan rasa dipermalukan,” jelasnya.





