Bisnis.com, JAKARTA — Emiten migas milik keluarga Panigoro, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) bersiap melunasi pokok Obligasi Berkelanjutan V Tahap I Tahun 2023 Seri A yang jatuh tempo pada 7 Juli 2026.
Direktur Keuangan Medco Energi, Anthony R. Mathias, mengungkapkan bahwa perseroan telah menyediakan dana sebesar Rp150 miliar untuk memenuhi kewajiban pokok obligasi tersebut, beserta kupon yang belum terbayar.
“Perusahaan telah menyediakan dana untuk melakukan pelunasan pembayaran obligasi pada tanggal 7 Juli 2026. Dana untuk pembayaran pokok telah ditempatkan di rekening escrow perusahaan,” ujar Anthony dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dikutip Sabtu (21/3/2026).
Adapun, dana untuk pembayaran pokok obligasi tersebut berasal dari hasil penerbitan Obligasi Berkelanjutan VI Medco Energi Internasional Tahap I Tahun 2025 yang dilakukan pada Juni 2025 lalu.
Sebagai informasi, penerbitan obligasi tahun 2025 tersebut menghimpun dana total sebesar Rp1 triliun, yang memang diproyeksikan untuk melunasi utang obligasi rupiah perseroan yang jatuh tempo pada tahun 2026.
Selain dana pokok di rekening escrow, Medco telah mengalokasikan dana untuk pembayaran kupon di rekening giro perseroan guna memastikan proses pelunasan berjalan tepat waktu sesuai komitmen kepada pemegang surat utang.
Baca Juga
- Geliat Medco (MEDC) Tarik Kredit hingga Rp10,5 Triliun untuk Genjot Produksi Migas
- Medco Energi (MEDC) Raih Fasilitas Kredit US$100 Juta dari HSBC Singapura
- Mereka yang Balik Arah di Medco (MEDC) Ketika Harga Minyak Mendidih
Hingga saat ini, manajemen MEDC menegaskan tidak memiliki rencana untuk mengubah keputusan atau hal penting lainnya terkait pelunasan tersebut.
Dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, MEDC membidik rekor produksi minyak dan gas (migas) baru pada 2026. Seiring target tersebut, perseroan agresif menarik sejumlah fasilitas kredit dari perbankan sejak awal tahun.
Sepanjang 2025, perseroan mencatat produksi sebesar 156.000 barrel of oil equivalent per day (boepd). Pada kuartal IV/2025, produksi bahkan mencapai puncaknya di 178.000 boepd dengan rata-rata 176.000 boepd.
Sementara itu, untuk operasional tahun buku 2026, Medco menargetkan produksi 165.000–170.000 boepd. Jika tercapai, angka tersebut akan menjadi tingkat produksi tertinggi sepanjang sejarah operasional perseroan.
Untuk mendukung ekspansi tersebut, Medco menarik sejumlah fasilitas kredit sejak awal tahun. Pada 4 Februari 2026, perseroan menandatangani pinjaman Rp8 triliun dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dengan tenor 84 bulan untuk kebutuhan operasional umum.
Pada hari yang sama, Medco juga memperoleh fasilitas kredit Rp800 miliar dari PT Bank ICBC Indonesia yang akan digunakan untuk belanja modal dan kebutuhan pendanaan perusahaan dengan tenor 60 bulan.
Selanjutnya, pada 10 Maret 2026, perseroan menandatangani fasilitas kredit senilai US$100 juta atau sekitar Rp1,69 triliun dari The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (HSBC) cabang Singapura dengan tenor 5 tahun untuk kebutuhan operasional umum.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





