Bagaimana Perayaan Idul Fitri di Sejumlah Daerah?

kompas.id
12 jam lalu
Cover Berita

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel berikut?

  1. Bagaimana Idul Fitri dirayakan di berbagai daerah?
  2. Apa yang menonjol dari perayaan Lebaran di IKN?
  3. Bagaimana Semarang memaknai perbedaan hari Lebaran?
  4. Bagaimana tradisi lokal ikut menghidupkan Lebaran?
  5. Bagaimana masyarakat Betawi menyambut Lebaran?

Bagaimana Idul Fitri dirayakan di berbagai daerah?

Perayaan Idul Fitri tahun ini di sejumlah daerah Indonesia berlangsung dengan warna yang berbeda-beda, tetapi tetap memperlihatkan suasana khidmat dan kebersamaan. Di Ibu Kota Nusantara (IKN), momen Lebaran ditandai dengan penggunaan perdana Masjid Negara untuk shalat Id yang terbuka bagi masyarakat umum. Di Semarang, perbedaan hari Lebaran justru dijadikan ruang memperkuat solidaritas.

Di Medan, suasana malam takbiran diwarnai pembagian ribuan paket sembako seiring kunjungan Presiden Prabowo. Sementara itu, di Bogor, ribuan warga memadati Lapangan Sempur untuk menunaikan shalat Id berjamaah. Bandung juga bersiap dengan ribuan titik pelaksanaan shalat Id, dari masjid hingga lapangan.

Jakarta menghadirkan nuansa berbeda lewat tradisi Betawi. Menjelang Lebaran, warga masih menjaga kebiasaan andilan kebo, yaitu urunan membeli kerbau, memeliharanya, lalu membagikan dagingnya menjelang hari raya. Tradisi ini menegaskan bahwa Lebaran bukan hanya ibadah, melainkan juga peristiwa budaya.

Dengan demikian, perayaan Idul Fitri di berbagai daerah tidak seragam, tetapi menyesuaikan karakter sosial masing-masing wilayah. Namun, benang merahnya sama: kebersamaan, kepedulian, dan upaya menjaga makna hari kemenangan.

Baca JugaMasjid Negara di IKN Digunakan untuk Shalat Id Perdana, Terbuka bagi Publik
Apa yang menonjol dari perayaan Lebaran di IKN?

Hal paling menonjol dari perayaan Idul Fitri di IKN adalah digunakannya Masjid Negara untuk shalat Id berjamaah perdana. Ini menjadi simbol penting karena memperlihatkan mulai berfungsinya salah satu fasilitas utama di ibu kota baru untuk kegiatan keagamaan publik. Masyarakat sekitar IKN pun diundang ikut hadir.

Akses menuju lokasi juga disiapkan secara khusus. Tol IKN dibuka lebih awal mulai pukul 04.30 Wita agar warga dari Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan sekitarnya bisa datang lebih mudah. Jalur ini dibuka gratis untuk kendaraan golongan satu, dengan sistem pendataan melalui kartu yang ditempelkan di gerbang.

Selain itu, Otorita IKN menyiapkan parkir, shuttle bus dalam kota, dan bahkan golf cart untuk warga lansia, ibu hamil, serta penyandang disabilitas. Semua ini menunjukkan upaya membuat perayaan Lebaran perdana di IKN tidak hanya simbolis, tetapi juga ramah bagi banyak kalangan.

Karena itu, Lebaran di IKN bukan sekadar shalat Id biasa. Ia menjadi penanda bahwa kawasan tersebut mulai diproyeksikan hidup sebagai ruang bersama, yang terbuka bagi publik dan dilengkapi layanan pendukung untuk jemaah dalam jumlah besar.

Baca JugaPerbedaan Lebaran Jadi Momentum Meningkatkan Solidaritas di Semarang
Bagaimana Semarang memaknai perbedaan hari Lebaran?

Di Semarang, perbedaan waktu Lebaran tidak dipandang sebagai sumber masalah. Warga Muhammadiyah yang melaksanakan shalat Id lebih awal justru menjadikannya momentum untuk memperkuat solidaritas. Pesan yang menonjol ialah bahwa perbedaan metode penentuan hari raya tidak perlu berujung pada pertentangan.

Khotbah di halaman RS Muhammadiyah Roemani menekankan makna Idul Fitri sebagai hasil dari ibadah Ramadhan yang melahirkan kesucian, kepedulian, dan solidaritas. Solidaritas itu tidak dibatasi pada sesama organisasi Islam, tetapi juga lintas suku dan lintas agama. Pesan ini memberi warna sosial yang kuat pada perayaan.

Pelaksanaan shalat juga menunjukkan kepekaan pada lingkungan sekitar. Panitia sengaja menyisakan ruang agar ambulans atau kendaraan pasien tetap bisa melintas. Ini menandakan bahwa kekhidmatan ibadah tetap dijalankan tanpa mengabaikan fungsi pelayanan rumah sakit yang berlangsung bersamaan.

Maka, yang menonjol dari Semarang bukan hanya perbedaan hari raya itu sendiri, melainkan cara masyarakat memaknainya. Perbedaan diterima sebagai kenyataan yang wajar, lalu diolah menjadi ajakan untuk saling menghormati dan memperluas solidaritas kemanusiaan.

Baca JugaPresiden Prabowo Bermalam Takbiran di Medan, Ribuan Paket Sembako Dibagikan
Bagaimana tradisi lokal ikut menghidupkan Lebaran?

Tradisi lokal ikut memberi jiwa pada perayaan Lebaran, salah satunya tampak dalam tradisi Betawi, andilan kebo. Sebulan sebelum Idul Fitri, warga patungan membeli kerbau, lalu memeliharanya agar lebih gemuk sebelum disembelih menjelang Lebaran. Dagingnya kemudian dibagikan sesuai besar patungan masing-masing.

Tradisi ini bukan semata soal pembagian daging. Di dalamnya ada nilai gotong royong yang kuat. Warga bekerja bersama, menanggung biaya bersama, dan menikmati hasilnya bersama. Dalam masyarakat kota yang terus berubah seperti Jakarta, tradisi ini menjadi pengikat identitas sekaligus modal sosial.

Pelaksanaannya oleh kelompok-kelompok Betawi juga menunjukkan upaya menjaga kebiasaan lama agar tidak hilang ditelan modernisasi. Lebaran dengan demikian tidak hanya dirayakan melalui salat Id atau jamuan keluarga, tetapi juga melalui praktik budaya yang diwariskan turun-temurun.

Karena itu, tradisi lokal membuat Lebaran di Indonesia terasa lebih kaya. Hari raya tidak berdiri sendiri sebagai ritual keagamaan, tetapi menyatu dengan budaya setempat. Dari andilan kebo hingga salat di ruang publik, semuanya menunjukkan wajah Idul Fitri yang hidup dan berakar pada masyarakat.

Baca JugaSebagian Umat Muslim Tunaikan Shalat Idul Fitri
Bagaimana masyarakat Betawi menyambut Lebaran?

Sebulan sebelum Idul Fitri, biasanya orang Betawi urunan membeli kerbau. Hewan ternak itu dipelihara agar lebih gemuk sebelum disembelih dua hari menjelang Lebaran.

Dagingnya lalu dibagikan sesuai besaran patungan tiap-tiap orang. Kebiasaan ini disebut andilan kebo. Di baliknya terkandung spirit gotong royong sebagai modal sosial mengarungi zaman.

Forum Betawi Rempug (FBR), salah satu organisasi masyarakat kedaerahan, menggelar andilan kebo di Taman Kerempugan, Jakarta Timur, Kamis (19/3/2026). Kegiatan ini wujud menjaga tradisi, khususnya gotong royong sebagai bagian identitas Betawi, di tengah dinamika Jakarta.

Sehari sebelumnya, di Pusat Kesehatan Hewan Pondok Ranggon, Jakarta Timur, sembilan kerbau disembelih. Andilan kebo itu dihelat oleh Majelis Kaum Betawi.

Baca Juga”Andilan Kebo”, Modal Sosial Membangun Jakarta

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menjaga Generasi Muda dari Jerat Layar
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Flexing Lebaran: Ketika Gaya Hidup Lebih Keras dari Logika
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Alasan Prabowo Tak Wajibkan Pejabat Hadiri Open House: Tak Mau Merepotkan
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Mendes ajak kades di Kedurang sukseskan kopdes dan BUMDes
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Keong Mas Jadi Lokasi Salat Idul Fitri 1447 H di TMII
• 14 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.