JAKARTA, KOMPAS.com - Ma'ruf Amin dalam khotbahnya saat menjadi khatib shalat Id halaman Balai Kota DKI Jakarta, Sabtu (21/3/2026), menyoroti pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Menurutnya, perbedaan yang terjadi di Indonesia tidak seharusnya menjadi sumber konflik.
Baca juga: Momen Hangat, Anies dan Didit Prabowo Swafoto Usai Shalat Id di Masjid Al-Azhar
“Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dipersatukan dalam harmoni,” ujar Ma’ruf.
Ia pun mengibaratkan perbedaan selayaknya alat musik yang jika disatukan akan menghasilkan musik yang indah.
Baca juga: Jusuf Kalla Desak Kasus Penyiraman Andrie Yunus Diusut Tuntas, Kejar Dalangnya
Begitu pula dengan masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai latar belakang suku, budaya, dan agama memiliki potensi besar jika mampu merawat persatuan.
"Biola tidak sama dengan piano, drum tidak sama dengan seruling. Tetapi ketika dimainkan bersama, lahirlah musik yang indah. Begitu juga kehidupan masyarakat kita," kata Ma'aruf Amin.
Ia menyebut, perbedaan yang tidak dikelola dengan baik dapat memicu perpecahan.
Namun sebaliknya, jika dirajut melalui silaturahmi, perbedaan justru menjadi kekuatan sosial.
Ma’ruf juga mengingatkan bahwa Idul Fitri merupakan momentum untuk kembali kepada fitrah, yakni kondisi manusia yang bersih dan suci.
Karena itu, ia mengajak umat Islam tidak hanya menjadikan Idul Fitri sebagai perayaan seremonial, tetapi juga sebagai titik awal untuk memperbaiki hubungan dengan sesama.
“Idul Fitri adalah kemenangan moral dan spiritual,” kata dia.
Adapun shalat Id di Balai Kota DKI Jakarta diikuti oleh jajaran pejabat, di antaranya Gubernur Jakarta Pramono Anung, dan Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno.
Selain itu juga hadir Mantan Gubernur Jakarta Fauzi Bowo atau Foke dan Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang