Ikhtiar Hari Raya: Generasi Muda dan Kerja Perawatan Setara

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Entah sudah berapa post netizen di media sosial per hari ini yang mengeluhkan rasa khawatir kalau Lebaran besok akan kembali terjadi ketegangan di rumah, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Juga ada post terutama dari generasi milenial yang sudah membangun rumah tangga sendiri, yang berusaha memutus suasana tegang dan tidak nyaman itu.

Suasana di mana para ibu merasa kesal semenjak pagi, mengeluhkan segala hal yang belum dianggap sesuai dengan standarnya. Di mana kekesalan itu akhirnya direspons oleh sang suami dengan amarah. Dan kemudian anak-anaknya menjadi sangat tidak nyaman.

Hari raya seperti Lebaran atau hari-hari besar lainnya memang seringkali menjadi momen yang berubah arah. Idealnya adalah bentuk dari perayaan atas mampunya menahan diri dari hawa dan nafsu selama satu bulan penuh, menjadi ajang penuh penilaian dan penghakiman.

Bulan Ramadan-pun semestinya menjadi puncak ibadah, di mana pahala digandakan, dan manusia dilatih untuk mengelola emosi di dalam dirinya. Namun, menjadi titik di mana perempuan dihadapkan pada bertambahnya beban kerja perawatan, berkali lipat glorifikasi kelelahan, dan berkejaran dengan waktu dan rasa letih demi bisa melakukan ibadah personalnya. Bahkan waktu untuk Tuhan-pun direbut oleh beban kerja perawatan.

Melawan Stigma: Beban Ganda Perempuan di Balik Kemilau Hari Raya

Bagi perempuan, bisa bertadarus panjang setelah salat subuh, ibadah lain sebelum waktu sahur, dan tarawih dengan tenang adalah sebuah privilege. Tidak semua perempuan bisa melakukan itu. Bukan tidak mau, tetapi tidak bisa, kalaupun bisa ia akan terburu-buru. Apalagi jika perempuan juga masih harus mencari nafkah. Waktu ibadah personalnya terasa sangat sedikit. Dan tidak jarang orang akan mengatakan, “Ibadah perempuan ya itu, mengurus rumah tangga. Dia bekerja juga sudah ibadah kok.“ Sementara si suami yang bebas melakukan ibadah-ibadah panjang tidak terusik.

Begitu pula dengan hari akhir Bulan Ramadan. Perempuan tidak punya privilege untuk menikmati hari terakhir puasa. Karena beban kerjanya bertambah berkali lipat. Kakinya yang sakit karena harus berdiri berjam-jam menyiapkan masakan, tangannya yang ngilu karena harus membersihkan segala sudut rumahnya, matanya yang lelah karena pekerjaan tidak ada habisnya.

Pada hari raya biasanya pilihannya antara rumahnya menjadi tempat yang dikunjungi oleh sanak saudara, atau keluarganya yang berkeliling mengunjungi. Tentu dua-duanya butuh energi luar biasa. Perempuan, yang dibebankan seluruh kerja perawatan, yang oleh patriarki dituntut untuk tidak boleh ada salah sekaligus tempatnya salah, harus menghadapi ini seperti pertarungan.

Segalanya dalam rumah harus bersih, spotless, masakan harus lengkap khas lebaran, kue-kue harus ada, semua harus menyesuaikan dengan selera tamu. Meski sudah berusaha dengan lelah yang luar biasa, tetap saja usaha itu akan tidak dianggap dengan kritikan demi kritikan dari sanak saudara, bahkan mungkin dari pasangannya sendiri.

Ruang Tarung Domestik dan Ekspektasi Kerja Perawatan yang Tak Habis

“Rendangnya kurang jadi, belum kering, dagingnya masih keras.” Kritikan diluncurkan meski yang memberi kritik menambah terus makanannya.

“Rumah kurang rapi, alat makan kurang bagus.” Padahal itu yang mampu ia beli dan hanya dipakai saat hari raya.

“Kok anak-anakmu belum ada yang menikah? Kok tidak sekolah di sekolah favorit?” Meski yang bertanya tahu bahwa mereka sedang dalam kesulitan keuangan akibat PHK massal.

Dan segunung kritik lainnya yang harus dihadapi sendirian oleh perempuan. Bukan sekali dua kali ia mungkin ingin menjawab atau bahkan sudah membela dirinya, tetapi hasilnya malah akan lebih buruk dan ujungnya ia memilih menelan saja kata-kata kritikan itu. Sementara pasangannya yang ia harapkan bisa membelanya, sedang sibuk bercengkrama dengan tamu atau saudara-saudara lain sambil tertawa-tawa. Atau yang lebih buruk, suaminya diam saja seribu bahasa dan baru menyalahkan istrinya saat semua tamu sudah pulang.

Hari raya untuk perempuan adalah ruang tarung yang dedesain secara sistematis. Di hari ini ia membuka ruang aman terakhirnya, yaitu rumahnya, untuk didatangi orang lain. Ia juga harus menghadapi sesama perempuan yang sama-sama lelahnya, yang mengeluarkan emosinya lewat menjatuhkan sesama perempuan lain. Mengkritik dan menghina hasil kerja perawatan yang dilakukan perempuan lain, padahal ia tahu betul betapa melelahkannya melakukan semua ini.

Peran Generasi Muda dan Milenial dalam Memutus Rantai Ketidakadilan di Rumah

Bertahun-tahun, bergenerasi-generasi praktik ini terus menerus terjadi. Sampai akhirnya generasi milenial dan generasi Z, mulai membentuk keluarga sendiri dan enggan meneruskan apa yang membuat mereka jadi tertekan saat hari Raya di waktu mereka masih tinggal bersama orangtuanya dulu. Dengan masifnya budaya share di media sosial, kesadaran semacam ini seperti efek domino yang akan menggelitik orang-orang seusianya dan turut memulai kesadaran baru, ada yang harus diubah dari tradisi tersistematisasi ini.

Semangat generasi ini mulai melakukan tradisi dengan cara yang berbeda, yang sangat diharapkan mampu memutus mata rantai ruang tarung itu. Kerja-kerja perawatan yang mulai disadari oleh pasangan generasi ini bahwa kerja perawatan bukan terletak hanya pada perempuan saja dan bahwa tidak perlu kita berucap buruk pada rumah yang kita kunjungi, atau apa pun yang ada di dalamnya. Selain itu, para suami juga mulai menyadari untuk tidak membiarkan istrinya menghadapi serangan itu sendirian. Suami yang berkesadaran, juga akan berdiri di samping istrinya dan membela. Bukan malah tidak peduli atau bahkan turut menyalahkan.

Mereka akan memastikan bahwa tidak ada yang perlu dikritik dari kerja perawatan yang mereka lakukan demi menyenangkan tamu. Rasa santai saat menerima tamu dengan prinsip, “ini rumah kami, ini suguhan kami. Kamu senang ya syukur, tidak juga tidak apa-apa". Sikap sopan dan beradab dikembalikan sesuai definisi sebenarnya. Bukan dengan menerima saja kritikan dan hinaan dari tamu meski dengan balutan kata-kata manis, tetapi dengan tidak mengkritik dan menghina. Rasa berterima kasih dan saling menghargai tamu dan saat bertamu dimunculkan dengan rasa ikhlas.

Mungkin akan terkesan kurang ajar oleh generasi-generasi yang lebih tua, tapi ini adalah salah satu strategi untuk menghancurkan sistem ruang tarung perempuan itu. Memutus mata rantai atau menghancurkan sistem ruang tarung seperti ini memang tidak mungkin dibangun secara semalam atau tiba-tiba saat hari raya. Ini butuh kesadaran yang terbangun bersama antara pasangan di dalam ruang privatnya.

Generasi-generasi muda sedang memulainya sekarang, setelah kegelisahannya tidak terbendung lagi dan janji bahwa anak-anaknya tidak akan merasakan hal yang sama. Setelah kesadaran ini terbangun, secara linear bangunan-bangunan kritikan akan runtuh, dan hari raya bisa dinikmati semua orang utamanya perempuan dengan lebih tenang, damai, dan sukacita.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rahasia Produktivitas Prabowo Subianto: Istirahat Cukup dan Update Dunia Sejak Subuh
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Suporter Timnas Indonesia Heran dengan Keputusan John Herdman yang Depak Ezra Walian Jelang FIFA Series 2026
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Gema Takbir di Mekarahayu: Ribuan Jemaah Padati Lapangan Utama Bumi Asri untuk Salat Idulfitri
• 8 jam lalutvrinews.com
thumb
Ancol Siaga Penuh Hadapi Lonjakan Wisatawan Lebaran, Pengelola: 500 Personel Dikerahkan!
• 2 jam laludisway.id
thumb
Festival Syawal Unity di SCBD Meriahkan Lebaran di Jakarta | SAPA PAGI
• 6 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.