JAKARTA, DISWAY.ID -- Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) merespon wacana pemotongan gaji Menteri buntut dari tekanan ekonomi global akibat perang AS-Israel dengan Iran.
Menurutnya, wacana pemotongan gaji menteri tidak masuk akal. Ia menyebut gaji Menteri saat ini masih tergolong rendah.
"Gaji menteri itu tidak (dipotong). Gaji menteri itu cuma Rp 19 juta. 19 juta. Kalau dipotong lagi, akhirnya (tambah kecil)," katanya usai Shalat Ied di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu, 21 Maret 2026.
BACA JUGA:Momen Didit Hediprasetyo Lebaran di Al Azhar, Akrab dengan Anies Baswedan
BACA JUGA:Viral Pelanggaran Truk Sumbu Tiga di Tol Cikampek, Kemenhub Tegaskan Sanksi Penyekatan
Ia menyebutkan bahwa gaji Dirut BUMN dan anggota DPR pun lebih besar ketimbang gaji Menteri.
"Jauh lebih tinggi gajinya dirut BUMN daripada gaji menteri. Cuma 19. Jadi kalau dipotong lagi tinggal berapa untuk menteri? DPR pun jauh lebih tinggi. Itu cuma untuk mengetahui saja," ungkapnya.
Lebih lanjut, Jusuf Kalla mengatakan, Menteri tidak menerima tunjangan lainya selain biaya operasional.
"Tidak ada tunjangannya kalau menteri. Hanya ada biaya operasional," ucapnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, buka suara rencana pemotongan gaji para Menteri efek tekanan ekonomi akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
BACA JUGA:Prabowo Subianto Salurkan Bantuan di Sumut, Lanjut Salat Idul Fitri 2026 di Aceh
BACA JUGA:Jusuf Kalla, Didit Hediprasetyo hingga Anies Baswedan Shalat Ied di Masjid Al-Azhar
"Siapa yang bilang? (Ada pemotongan gaji Menteri)," katanya singkat kepada wartawan, saat dirinya mengunjungi Pasar Beringharjo dan Teras Maioboro Satu,Yogyakarta pada Selasa 17 Maret 2026.
Meski demikian, ia mengaku tidak masalah jika memang mengharuskan adanya pemotongan gaji para Menteri.
"Ya nggak apa-apa kalau Menteri Gajinya dipotong, udah kegedean juga," tegasnya.
- 1
- 2
- »





