jpnn.com, AGAM - Warga Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat menjadikan masjid sebagai lokasi pelaksanaan salat Idul Fitri 1447Hijriah, Sabtu, di tengah kondisi sekitar yang masih menyisakan jejak sisa banjir bandang dan longsor.
Masjid Raya Maninjau terletak sekitar 700 meter dari sungai yang kini telah dipenuhi bebatuan berukuran besar akibat banjir bandang. Kendati demikian, pelaksanaan salat Id pada pagi hari berlangsung khidmat dengan diikuti ratusan jemaah dari berbagai jorong.
BACA JUGA: Hujan Deras di Agam, 20 Rumah Terendam Banjir, Jalan Provinsi Tertutup Longsor
Pengurus Masjid Raya Maninjau Aris Munandar menyampaikan bahwa pelaksanaan salat Id utamanya dilakukan di lapangan SMP Negeri 1 Tanjung Raya. Namun, dikarenakan sehari sebelumnya turun hujan deras, lokasi yang berjarak sekitar 100 meter dari sungai itu menjadi berbatu dan berpasir.
"Lapangan sekarang dalam keadaan berbatu dan berpasir. Akhirnya, ketua koordinator daripada Hari Besar Islam Kanagarian Maninjau memutuskan pelaksanaan salat Idul Fitri dipusatkan di masjid," kata Aris.
BACA JUGA: Percepatan Pascabencana, BNI Bersihkan Masjid Darul Aman di Agam
Untuk menampung jumlah jemaah, pengurus membuka lantai dua masjid untuk perempuan dan menyediakan karpet di halaman masjid. Aris pun memperkirakan jumlah jemaah salat hari ini berkisar 500 warga.
Jumlah tersebut disebutnya turun dibandingkan dengan pelaksanaan salat di lapangan. Selain karena faktor pemulihan pasca-bencana, penurunan itu disebabkan waktu pelaksanaan salat Idul Fitri terbagi menjadi dua hari, Jumat (20/3) dan Sabtu.
"Sebagai pendukung untuk menyambut Hari Raya Idulfitri, dalam zakat fitrah itu juga difokuskan bagi janda-janda yang terkena dampak daripada bencana," ujarnya.
Di sisi lain, kondisi di sekitar lapangan tempat biasanya salat Id dilakukan dan bantaran sungai tampak rusak parah. Tumpukan material batu berukuran besar di aliran sungai juga belum dibersihkan, menandakan proses pemulihan yang belum sepenuhnya berjalan.
Tepat di seberang sungai, terdapat rumah yang rusak parah, dinding yang jebol, atap yang hilang, dan isi rumah yang kini dipenuhi oleh bebatuan berbagai ukuran. Kondisi serupa juga terjadi di belasan rumah yang terletak di sekitar sungai.
Berdasarkan data Dashboard Satu Data Bencana Sumatera Barat, sebanyak dua unit di Nagari Maninjau hanyut dan hilang dan 115 unit terdampak kerusakan, dengan taksir kerugian total mencapai Rp44,8 miliar. (antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi




